Pendahuluan
Sukses itu sulit
bagi siapa pun juga
keadaan maju dan sukses itu
tidak diperoleh dengan mudah
bukan karena sukses dan maju itu sulit,
tetapi untuk mencapainya,
terlebih dahulu seseorang harus dapat mengalahkan
musuh yang terbesar dalam hidupnya,
diri sendiri dengan segala kebodohan-nya…
dengan menangani musuh di dalam dirinya
terlebih dulu, itulah yang disebut dengan
menolong diri sendiri.
6 musuh dalam diri sendiri
Untuk dapat memenangkan pertarungan dengan diri sendiri, Patih Gajahmada menyarankan cara mendidik diri sendiri dengan metode kontemplasi dan refleksi untuk memerangi enam musuh utama dalam diri manusia yang disebut “Sadguna Wiweka” (kesadaran terhadap enam sifat) :
1. kama (hawa nafsu liar atau sifat kebinatangan)
2. lobha (tamak, rakus)
3. krodha (marah)
4. moha (bingung, panik, bodoh)
5. mada (mabuk, ketergantungan pada sesuatu yang negatif, miras dan narkoba)
6. masarya (iri hati)
(sumber: Astadasa Kottamaning Prabhu oleh Bhre Tandes, penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama).
Sementara itu dalam buku “Aturan Perang SIMA” dari Lucky Publisher menjelaskan ada 12 sikap yang harus dihindari oleh seorang pimpinan: 1. meremehkan musuh, 2. pengecut, 3. tidak mau mengikuti perintah, 4. kehilangan keyakinan, 5. ragu-ragu tidak dapat mengambil keputusan, 6. kemalasan serta keletihan, 7. takut bertempur, 8. pertikaian internal, 9. mencari kesenangan secara tidak terkendali, 10. ketakutan serta keraguan tiada habis-habisnya, 11. kurang wawasan dan pertimbangan, 12. sering menyesal atas tindakan yang telah diambil.
tantangan
Tantangan hidup adalah melewati batas, menyeberangi keterbatasan. Keterbatasan yang hadir karena cacat mental. Keterbatasan yang hadir karena cacat fisik. Keterbatasan yang hadir karena melakukan kekeliruan di masa lalu, misalnya melanggar hukum dan dipenjara. Keterbatasan karena ketidak-tahuan akibat tabir pengetahuan yang belum tersingkap. Keterbatasan karena masih terlalu muda dan kurang pengalaman. Keterbatasan karena sumber finansial yang dibutuhkan belum ada di tangan. Sebuah keterbatasan yang terjadi dalam organisasi sebagai karena salah urus (mis-management) dan lain sebagainya.
Tantangan dalam perusahaan adalah bentuk tantangan kehidupan dalam kosa kata yang berbeda. Bila suatu perusahaan mengalami masalah dan kemunduran, maka itu merupakan suatu tantangan bagi manajer atau pemimpin dalam organisasi tersebut–itu menjadi keterbatasan yang harus ditanggulangi.
Dalam bukunya yang berjudul “Corporate Turnaround” (diterbitkan oleh PT Prenhallindo), Michael Cheng menyebutkan 6 penyebab kegagalan perusahaan:
1. Hilangnya pasar (29%)
2. Salah urus (24%)
3. Keuangan (18%)
4. Lain-lain (13%)
5. Piutang macet (10%)
6. Persaingan (6%)
Namun,
satu hal yang perlu diingat, bahwa di bawah kolong langit ini, keterbatasan bersifat temporer dan bukannya kekal. Suatu keterbatasan hanyalah sebuah titik di sepanjang garis. Bahwa sebuah keterbatasan adalah suatu bentuk situasi yang bisa dirubah (changeable) sejauh seseorang tetap memelihara dalam dirinya rasa ingin tahu yang kuat dan rasa penasaran yang tinggi. Dengan rasa ingin tahu yang kuat akan merangsang semangat tidak akan berhenti bila sebuah jawaban belum dimengerti. Dengan rasa penasaran yang tinggi akan mendorong suatu langkah uji coba dan observasi tiada henti, hingga suatu keadaan nyata-nyata bisa di atasi.
melihat dengan perspektif : gunakan Garis JOI
Saya merasa cukup beruntung, karena sempat berkenalan dan bekerja bersama Prof. Dr. John Ihalauw di PT Mekar Armada Jaya. Ini berlangsung sekitar tahun 2005 yang telah lalu. Saya sempat menjadi staf beliau selama kurang lebih 1,5 tahun. Beliau adalah sosok pribadi yang paling gemar menangani hal-hal yang diyakini tidak mungkin dilakukan oleh orang lain. Sebuah sikap positif yang patut diteladani oleh para manajer, para pemimpin dan setiap orang yang berada dalam posisi bertanggungjawab untuk membuat sebuah perubahan yang berarti, sebuah perubahan dengan dampak yang bukan hanya membawa manfaat bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi suatu komunitas yang ia payungi - bagi sebuah entitas yang ia pengaruhi… untuk mengalami suatu keadaan baru… yang lebih baik.
Saya tidak dapat melupakan sebuah pengalaman yang menarik bersama beliau. Ini adalah saat beliau memaparkan konsep-konsepnya dengan menarik suatu garis yang ia sebut dengan Garis JOI.
Saat saya bertanya kepadanya, apakah Garis JOI itu? Ia hanya membalas dengan sebuah senyuman. Wadalah, pertanyaan kok malah dijawab dengan senyuman, ini bikin saya penasaran. Rasa penasaran ini telah menggelayuti pikiran saya selama bertahun-tahun, hingga saat ini sepertinya saya dapat mengerti makna dari Garis JOI itu. Maka saya mencoba menuangkan apa yang telah saya pahami ke dalam ebook ini.
Setiap masalah, setiap tantangan, setiap persoalan, pastilah dapat diselesaikan, diatasi dan ditanggulangi.
Namun,
syarat utama untuk menanggulangi masalah adalah memperoleh persepsi yang benar atas situasi tersebut. Sebuah perspektif yang tepat harus dicapai terlebih dahulu sebelum satu rangkaian langkah penanganan dapat dipilih dan dilakukan satu demi satu. Pemahaman masalah atas situasi harus dimengerti terlebih dahulu, selanjutnya baru dipilih langkah-langkah penanggulangannya.
Sebuah perspektif yang benar, adalah sebuah cara pandang terhadap situasi yang telah dapat membedakan apa yang saya sebut dengan Situasi (saya*) Sekarang dengan Situasi (saya*) Berikutnya. Situasi (saya*) Sekarang secara ringkas adalah situasi yang membuat diri kita tidak enak, tidak nyaman, tidak puas, tidak leluasa, tidak optimal, tidak sejahtera, tidak bahagia karena adanya keterbatasan yang belum tertanggulangi. Situasi dimana masih adanya keinginan-keinginan yang belum dapat dipenuhi, masih adanya kondisi ideal yang belum tergapai, masih adanya mimpi-mimpi yang belum terealisasi. Sebuah situasi yang saya gambarkan dengan sebutan “Penjara Ketidak-berdayaan”. Masukkanlah berbagai variabel, unsur dan komponen-komponen situasi yang membatasi ke dalam kelompok ini.
Pada sisi yang lain, Situasi (saya*) Berikutnya adalah situasi yang membuat diri kita enak, nyaman, puas, leluasa, optimal, sejahtera, bahagia karena keterbatasan yang sebelumnya membelenggu telah tertanggulangi. Situasi dimana keinginan-keinginan telah dapat dipenuhi, kondisi ideal telah tergapai, mimpi-mimpi telah terealisasi. Sebuah situasi yang saya gambarkan dengan sebutan “Surga Kemerdekaan”. Masukkanlah berbagai variabel, unsur dan komponen-komponen situasi yang memerdekakan ke dalam kelompok ini. (catatan: kata saya dapat diganti dengan kita, perusahaan, organisasi sesuai konteks permasalahannya)
Sebuah garis yang memisahkan dengan jelas keduanya inilah yang disebut Garis JOI. Garis yang memberi kejelasan dan penjelasan tentang duduk perkaranya, suatu garis yang membuat jelas dua keadaan yang berbeda. Suatu garis yang menegaskan sekarang bagaimana dan esok mau menjadi apa. Garis yang menginspirasikan langkah-langkah yang tergambar dan dapat dilakukan untuk mengubah keadaan. Garis yang mengisyaratkan tentang waktu - suatu tahapan-tahapan yang berangsur-angsur membawa situasi kepada keadaan baru yang lebih baik. Sebuah garis yang memicu api pengharapan dan luasnya kemungkinan-kemungkinan, sebuah garis yang menerangi berbagai opsi - alternatif pilihan dan prioritas. Sebuah garis yang membuat kita melihat berbagai hal yang bisa kita lakukan. Garis JOI adalah penjelas batas yang harus diseberangi. Garis JOI adalah penjelas pagar yang harus dilompati.Garis JOI adalah cara jitu untuk memetakan persoalan.
Sebuah garis yang menginspirasi saya membuat ebook ini menjadi suatu realisasi nyata, atas sebuah gagasan yang tadinya hanya tergambar dalam benak saja.
Garis JOI adalah sebuah teknik berpikir perspektif terbaik yang akan membantu menanggulangi salah satu musuh dalam diri sendiri yaitu: moha(bingung, panik, bodoh). Musuh kognitif yaitu keadaan buta terhadap permasalahan dan tidak dapat memetakan keadaan yang sedang berlangsung. Tidak jarang kebingungan atau moha ini juga dialami oleh organisasi atau pun perusahaan. Kebingungan, kepanikan, dan kebodohan tersebut, lebih merupakan bentuk kegagalan memperoleh perspektif situasi secara benar dan menyeluruh.
Dengan Garis JOI, anda akan dapat memandang situasi anda lebih jelas, lebih ringkas, lebih sederhana dan ada pengharapan bahwa situasi akan dapat tertanggulangi. Garis JOI ini dapat digunakan juga untuk memetakan kepanikan dan kebingungan untuk menangani berbagai kondisi tidak kondusif yang terjadi dalam perusahaan atau organisasi yang sedang anda kelola.
Dari pengalaman saya sendiri, setelah saya bisa menggambarkan situasi dan memetakannya dalam selembar kertas, kemudian saya menarik suatu Garis JOI, maka saat itulah saya dapat memperoleh suatu perspektif yang jelas. Dari situlah muncul kelegaan, semangat dan kemauan untuk berbuat sesuatu, mengawali langkah untuk mempengaruhi dan mengubah situasi. Berbarengan dengan menarik Garis JOI, terpancarlah suatu kedamaian di hati karena situasi telah jelas terpahami, karena kebuntuan tentang jalan kemungkinan telah terpecahkan.
kemauan yang jelas dan terungkapkan
Kemauan yang jelas dan terungkapkan. Ini merupakan suatu langkah lanjutan setelah memperoleh pemandangan situasi yang jelas dan menyeluruh. Saya tidak dapat melupakan sebuah film yang sangat berkesan yang berjudul “We were soldier” yang dibintangi oleh Mel Gibson. Bagian dari film tersebut menceritakan bagaimana Mel Gibson dalam perannya sebagai komandan memimpin anak buahnya berperang di Vietnam.
Dalam suasana perang yang genting, ia selalu mengarahkan anak buahnya untuk segera mengambil kesimpulan atas situasi yang terjadi, dengan ketenangan dan ketabahan mencermati situasi. Segera sesudah situasi dipahami, keputusan yang dilanjutkan dengan tindakan harus segera diambil. Segala resiko dan konsekuensi yang akan terjadi, diterima dengan rasa tanggungjawab dan keikhlasan dengan tetap mengedepankan keselamatan diri dan tim.
Ketika diterjunkan dalam suatu peperangan, kemauan dari pasukan adalah jelas, memenangkan perang. Demikian juga dalam situasi pribadi maupun organisasi dan perusahaan, kemauan dari para pelaku di dalamnya adalah kemenangan ekonomi, apa pun kita menyebutnya. Bagi seorang karyawan, situasi yang dimaui adalah kemenangan dalam bentuk kesejahteraan yang tercukupi dan meningkat. Bagi seorang pengusaha, situasi yang dimaui adalah kemenangan dalam bentuk profit, penguasaan pasar dan pertumbuhan organisasi. Bagi seorang organisatoris, situasi yang dimaui adalah kemenangan dalam bentuk terealisasinya visi dan misi organisasi, terpenuhinya aspirasi para konstituen di dalamnya.
Kemauan yang jelas dan diungkapkan sebagai tanggapan dan keputusan sikap yang mau diambil terhadap situasi yang dihadapi merupakan langkah pembuka yang memelopori tampilnya berbagai solusi berikutnya.
menyeberang dengan kreatifitas
Untuk dapat melanjutkan menyeberangi batas dan keterbatasan, maka dibutuhkan adanya suatu kreatifitas berpikir mengatasi masalah. Ini berarti bahwa kreatifitas berpikir menempatkan dirinya pada posisi di atas masalah atau yang sering dikenal dengan “helicopter view”. Untuk dapat menanggulangi masalah, maka masalah harus dipetakan dulu. Untuk dapat memetakan masalah, anda harus melihatnya dari atas.
Pancaran Mentari Kebebasan - 4 Sinar Kreatifitas
Kreatifitas pemecahan masalah untuk menanggulangi keterbatasan dapat dihasilkan dengan memberi pertanyaan kepada diri sendiri setelah terlebih dahulu setelah memperoleh perspektif situasi dengan menggunakan Garis JOI.
Jawaban atas pertanyaan tersebut merupakan tuntunan langkah nyata untuk menanggulangi keadaan yang sedang dihadapi. Keempat pertanyaan itu adalah:
1. Apa saja yang B I S A kita perbuat …? (bisa saja begini, bisa saja begitu, dll)
2. Apa saja yang B O L E H dilakukan…? (boleh begini, boleh begitu, dll)
3. Apa saja yang MUNGKIN dilakukan…? (mungkin saja begini, mungkin begitu, dll)
4. Apa yang PASTI…? (bila begitu, pasti begini, apa yang pasti demikian, dll)
Jawaban-jawaban atas ke-empat pertanyaan tersebut merupakan opsi-opsi tindakan yang dapat dilakukan. Bayangkan saja jawaban-jawaban itu seperti sebuah roti tart besar yang dipotong-potong menjadi bagian yang lebih kecil sehingga pas masuk ke mulut anda, artinya itu merupakan potongan-potongan solusi yang ada dalam jangkauan untuk anda tangani. Jawaban-jawaban tersebut merupakan spektrum solusi yang dapat dipilih, berbagai terobosan kreatif untuk melewati batas-batas keterbatasan.
hati yang ikhlas - jiwa yang bergandeng tangan dengan Tuhan
Sepertinya tidaklah berlebihan bila saya mengatakan bahwa manusia adalah makhluk ciptaan yang mendapat kehormatan dan kesempatan untuk bermitra dengan Tuhan Sang Pencipta Semesta untuk membuat keadaan di dunia ini menjadi lebih baik.
Di dalam dirinya, di dalam kandungan badan, pikiran dan emosinya, manusia mempunyai jiwa yang diyakini adalah bagian diri yang dapat berelasi dengan Tuhan. Jiwa inilah yang menuntun badan, pikiran dan emosi ke dalam tingkah laku manusia. Manusia akan bertingkah sesat bila jiwanya terlepas dari Tuhan. Sebaliknya manusia akan bertingkah setia bila ia bergandeng tangan dengan Tuhan. Dalam biografinya, Bunda Theresa menganggap dirinya hanya “sebatang pensil di tangan Allah. Ia bukannya memanggil saya untuk sukses, melainkan untuk setia.” Inilah contoh orang yang jiwa-nya dalam keadaan bergandeng tangan dengan Tuhan.
Orang-orang yang jiwanya bertemu dengan Tuhan, orang-orang yang jiwanya bergandeng tangan dengan Tuhan, mengarahkan segenap hidupnya untuk kebahagiaan dan kesejahteraan bagi orang lain dan bukan sebaliknya.
Namun,
untuk dapat mencapai taraf ini, seseorang harus sudah pernah mencapai keikhlasan batin. Ke-ikhlasan ini saya pahami sebagai suatu keadaan mental dimana seseorang tersebut telah:
1. dapat menerima keadaan,
2. telah bisa mengerti keadaan dan
3. telah dapat memaklumi keadaan
4. bersedia memikul tanggungjawab untuk mempengaruhi dan mengubah keadaan
5. telah tercerahkan dan mengerti opsi-opsi untuk mengubah keadaan.
Namun tidak berhenti sampai di situ, ikhlas tidak berarti bahwa ia menyerah dengan keadaan, ikhlas tidak berarti bahwa ia berhenti berjuang, ikhlas juga tidak berarti bahwa ia telah kehilangan nyali dan keberanian, ikhlas tidak berarti bahwa ia membatalkan perjuangannya. Ikhlas bukan bentuk yang santun dari sebuah frustasi dan demotivasi.
Ikhlas di sini berarti bahwa ia telah mampu mengambil jarak antara dirinya dengan realitas, artinya di tengah keterlibatan badan, pikiran dan emosinya dalam pergelutan masalah kehidupan, jiwanya mampu dan sempat menarik diri untuk keluar dan melihat dari luar arena.
Siapapun ia, manajer atau pengusaha, sipil atau tentara, ia harus bisa mengambil keputusan dan mengendalikan situasi. Sebagai pengambil keputusan, ia harus bisa membuat keputusan yang obyektif, dan sebagai pemimpin ia harus bisa mengendalikan situasi. Nah, keikhlasan inilah yang memberi kesempatan pada seseorang untuk dapat melihat masalah dengan jernih dan obyektif serta menilai situasi dengan lengkap.
tanda-tanda keberhasilan
Orang-orang yang telah mahir menguasai kemampuan melewati batas, kemampuan melompati pagar adalah orang-orang yang dari mulutnya dapat terucap kata-kata berikut:
1. Saya bisa melakukannya lebih baik sekarang (I can do better now)
2. Saya dapat menghasilkan lebih lagi (I can achieve more)
3. Saya dapat meraih prestasi lebih tinggi lagi (I can reach higher)
4. Saya mengerti apa yang membuat perbedaan (I know what makes the difference)
5. Saya mengerti sekarang, mengapa pilihan ini lebih baik daripada pilihan lainnya
6. Sekarang lebih jelas, apa yang mau saya perbuat
7. Saya merasa lebih baik (I feel better now)
Akhirnya, inti pesan dari tulisan ini adalah untuk mengingatkan bahwa setiap manusia diciptakan oleh Tuhan di dunia ini untuk menjadi insan yang merdeka, menjadi pribadi yang menjadi tuan bagi dirinya sendiri, yaitu orang yang dapat menanggulangi segala wujud keterbatasan hidup yang menghampirinya.
Gunakanlah empat kunci sebagaimana telah diuraikan di bagian atas tulisan ini yang dapat disingkat dengan P3K:
1. Perspektif
2. Kemauan
3. Kreatifitas
4. Keikhlasan
Intinya agar semakin banyak orang yang menjadi pribadi yang mampu melewati batas, melompati pagar, yaitu batas dan keterbatasan temporer yang membatasi dirinya sendiri. Keterbatasan hanyalah satu peristiwa yang terjadi manakala kita dalam keadaan tidak mampu memandang situasi dengan perspektif yang benar sehingga gagal membangkitkan kreatifitas dalam memecahkan masalah, terpuruk dalam ketidak-berdayaan.
Sekali lagi, milikilah kemampuan melewati batas, melompati pagar dan kuasailah kemahiran melihat dengan perspektif yang benar.
” not just freedom, but independent”

Baca tulisan ini di: tituspermadi.wordpress.com
Download ebook dalam format exe dan zip di groups.yahoo.com/group/gempita
Semoga bermanfaat,
Titus Permadi
Before knowing others, understand yourself first
Hubungi Titus Permadi
Handphone : 0888.685.8882
email: tituspermadi@gmail.com

Flower
The silent fighter for the beauty outcome