Sumber Batin

Agustus 3, 2008 by tituspermadi

Untuk mengetahui bagaimana orang bertingkah laku memerlukan intelegensi,
tetapi untuk mengetahui diri sendiri memerlukan kebijaksanaan.

Untuk memanajemeni kehidupan orang lain memerlukan kekuatan, tetapi untuk
memanajemeni kehidupan diri sendiri memerlukan kekuatan yang sebenarnya.

Jika saya puas dengan apa yang saya miliki , saya dapat hidup sederhana dan
menikmati baik kemakmuran maupun waktu senggang.

Jika tujuan saya jelas, saya dapat mencapainya tanpa susah-susah.

Jika saya dalam kedamaian atas diri sendiri, saya tidak akan menggunakan kekuatan hidup saya untuk terjun dalam konflik.

Jika saya telah belajar untuk ikhlas, saya tak perlu takut sekarat.

Mati tidaklah menakutkan, sebab saya sendiri tahu bagaimana untuk pergi, dan saya tahu sifat keabadian.

‘Tao’s Leadership Philosophy’

From Tanti : http://profiles.friendster.com/36474008

Lewati Batas - mu, Lompati Pagar - mu

Juni 29, 2008 by tituspermadi

Pendahuluan
Sukses itu sulit
bagi siapa pun juga
keadaan maju dan sukses itu
tidak diperoleh dengan mudah
bukan karena sukses dan maju itu sulit,
tetapi untuk mencapainya,
terlebih dahulu seseorang harus dapat mengalahkan
musuh yang terbesar dalam hidupnya,

diri sendiri dengan segala kebodohan-nya…
dengan menangani musuh di dalam dirinya
terlebih dulu, itulah yang disebut dengan
menolong diri sendiri.

6 musuh dalam diri sendiri
Untuk dapat memenangkan pertarungan dengan diri sendiri, Patih Gajahmada menyarankan cara mendidik diri sendiri dengan metode kontemplasi dan refleksi untuk memerangi enam musuh utama dalam diri manusia yang disebut “Sadguna Wiweka” (kesadaran terhadap enam sifat) :
1. kama (hawa nafsu liar atau sifat kebinatangan)
2. lobha (tamak, rakus)
3. krodha (marah)
4. moha (bingung, panik, bodoh)
5. mada (mabuk, ketergantungan pada sesuatu yang negatif, miras dan narkoba)
6. masarya (iri hati)
(sumber: Astadasa Kottamaning Prabhu oleh Bhre Tandes, penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama).

Sementara itu dalam buku “Aturan Perang SIMA” dari Lucky Publisher menjelaskan ada 12 sikap yang harus dihindari oleh seorang pimpinan: 1. meremehkan musuh, 2. pengecut, 3. tidak mau mengikuti perintah, 4. kehilangan keyakinan, 5. ragu-ragu tidak dapat mengambil keputusan, 6. kemalasan serta keletihan, 7. takut bertempur, 8. pertikaian internal, 9. mencari kesenangan secara tidak terkendali, 10. ketakutan serta keraguan tiada habis-habisnya, 11. kurang wawasan dan pertimbangan, 12. sering menyesal atas tindakan yang telah diambil.

tantangan
Tantangan hidup adalah melewati batas, menyeberangi keterbatasan. Keterbatasan yang hadir karena cacat mental. Keterbatasan yang hadir karena cacat fisik. Keterbatasan yang hadir karena melakukan kekeliruan di masa lalu, misalnya melanggar hukum dan dipenjara. Keterbatasan karena ketidak-tahuan akibat tabir pengetahuan yang belum tersingkap. Keterbatasan karena masih terlalu muda dan kurang pengalaman. Keterbatasan karena sumber finansial yang dibutuhkan belum ada di tangan. Sebuah keterbatasan yang terjadi dalam organisasi sebagai karena salah urus (mis-management) dan lain sebagainya.

Tantangan dalam perusahaan adalah bentuk tantangan kehidupan dalam kosa kata yang berbeda. Bila suatu perusahaan mengalami masalah dan kemunduran, maka itu merupakan suatu tantangan bagi manajer atau pemimpin dalam organisasi tersebut–itu menjadi keterbatasan yang harus ditanggulangi.

Dalam bukunya yang berjudul “Corporate Turnaround” (diterbitkan oleh PT Prenhallindo), Michael Cheng menyebutkan 6 penyebab kegagalan perusahaan:
1. Hilangnya pasar (29%)
2. Salah urus (24%)
3. Keuangan (18%)
4. Lain-lain (13%)
5. Piutang macet (10%)
6. Persaingan (6%)

Namun,
satu hal yang perlu diingat, bahwa di bawah kolong langit ini, keterbatasan bersifat temporer dan bukannya kekal. Suatu keterbatasan hanyalah sebuah titik di sepanjang garis. Bahwa sebuah keterbatasan adalah suatu bentuk situasi yang bisa dirubah (changeable) sejauh seseorang tetap memelihara dalam dirinya rasa ingin tahu yang kuat dan rasa penasaran yang tinggi. Dengan rasa ingin tahu yang kuat akan merangsang semangat tidak akan berhenti bila sebuah jawaban belum dimengerti. Dengan rasa penasaran yang tinggi akan mendorong suatu langkah uji coba dan observasi tiada henti, hingga suatu keadaan nyata-nyata bisa di atasi.

melihat dengan perspektif : gunakan Garis JOI
Saya merasa cukup beruntung, karena sempat berkenalan dan bekerja bersama Prof. Dr. John Ihalauw di PT Mekar Armada Jaya. Ini berlangsung sekitar tahun 2005 yang telah lalu. Saya sempat menjadi staf beliau selama kurang lebih 1,5 tahun. Beliau adalah sosok pribadi yang paling gemar menangani hal-hal yang diyakini tidak mungkin dilakukan oleh orang lain. Sebuah sikap positif yang patut diteladani oleh para manajer, para pemimpin dan setiap orang yang berada dalam posisi bertanggungjawab untuk membuat sebuah perubahan yang berarti, sebuah perubahan dengan dampak yang bukan hanya membawa manfaat bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi suatu komunitas yang ia payungi - bagi sebuah entitas yang ia pengaruhi… untuk mengalami suatu keadaan baru… yang lebih baik.

Saya tidak dapat melupakan sebuah pengalaman yang menarik bersama beliau. Ini adalah saat beliau memaparkan konsep-konsepnya dengan menarik suatu garis yang ia sebut dengan Garis JOI.

Saat saya bertanya kepadanya, apakah Garis JOI itu? Ia hanya membalas dengan sebuah senyuman. Wadalah, pertanyaan kok malah dijawab dengan senyuman, ini bikin saya penasaran. Rasa penasaran ini telah menggelayuti pikiran saya selama bertahun-tahun, hingga saat ini sepertinya saya dapat mengerti makna dari Garis JOI itu. Maka saya mencoba menuangkan apa yang telah saya pahami ke dalam ebook ini.

Setiap masalah, setiap tantangan, setiap persoalan, pastilah dapat diselesaikan, diatasi dan ditanggulangi.

Namun,
syarat utama untuk menanggulangi masalah adalah memperoleh persepsi yang benar atas situasi tersebut. Sebuah perspektif yang tepat harus dicapai terlebih dahulu sebelum satu rangkaian langkah penanganan dapat dipilih dan dilakukan satu demi satu. Pemahaman masalah atas situasi harus dimengerti terlebih dahulu, selanjutnya baru dipilih langkah-langkah penanggulangannya.

Sebuah perspektif yang benar, adalah sebuah cara pandang terhadap situasi yang telah dapat membedakan apa yang saya sebut dengan Situasi (saya*) Sekarang dengan Situasi (saya*) Berikutnya. Situasi (saya*) Sekarang secara ringkas adalah situasi yang membuat diri kita tidak enak, tidak nyaman, tidak puas, tidak leluasa, tidak optimal, tidak sejahtera, tidak bahagia karena adanya keterbatasan yang belum tertanggulangi. Situasi dimana masih adanya keinginan-keinginan yang belum dapat dipenuhi, masih adanya kondisi ideal yang belum tergapai, masih adanya mimpi-mimpi yang belum terealisasi. Sebuah situasi yang saya gambarkan dengan sebutan “Penjara Ketidak-berdayaan”. Masukkanlah berbagai variabel, unsur dan komponen-komponen situasi yang membatasi ke dalam kelompok ini.

Pada sisi yang lain, Situasi (saya*) Berikutnya adalah situasi yang membuat diri kita enak, nyaman, puas, leluasa, optimal, sejahtera, bahagia karena keterbatasan yang sebelumnya membelenggu telah tertanggulangi. Situasi dimana keinginan-keinginan telah dapat dipenuhi, kondisi ideal telah tergapai, mimpi-mimpi telah terealisasi. Sebuah situasi yang saya gambarkan dengan sebutan “Surga Kemerdekaan”. Masukkanlah berbagai variabel, unsur dan komponen-komponen situasi yang memerdekakan ke dalam kelompok ini. (catatan: kata saya dapat diganti dengan kita, perusahaan, organisasi sesuai konteks permasalahannya)

Sebuah garis yang memisahkan dengan jelas keduanya inilah yang disebut Garis JOI. Garis yang memberi kejelasan dan penjelasan tentang duduk perkaranya, suatu garis yang membuat jelas dua keadaan yang berbeda. Suatu garis yang menegaskan sekarang bagaimana dan esok mau menjadi apa. Garis yang menginspirasikan langkah-langkah yang tergambar dan dapat dilakukan untuk mengubah keadaan. Garis yang mengisyaratkan tentang waktu - suatu tahapan-tahapan yang berangsur-angsur membawa situasi kepada keadaan baru yang lebih baik. Sebuah garis yang memicu api pengharapan dan luasnya kemungkinan-kemungkinan, sebuah garis yang menerangi berbagai opsi - alternatif pilihan dan prioritas. Sebuah garis yang membuat kita melihat berbagai hal yang bisa kita lakukan. Garis JOI adalah penjelas batas yang harus diseberangi. Garis JOI adalah penjelas pagar yang harus dilompati.Garis JOI adalah cara jitu untuk memetakan persoalan.

Sebuah garis yang menginspirasi saya membuat ebook ini menjadi suatu realisasi nyata, atas sebuah gagasan yang tadinya hanya tergambar dalam benak saja.

Garis JOI adalah sebuah teknik berpikir perspektif terbaik yang akan membantu menanggulangi salah satu musuh dalam diri sendiri yaitu: moha(bingung, panik, bodoh). Musuh kognitif yaitu keadaan buta terhadap permasalahan dan tidak dapat memetakan keadaan yang sedang berlangsung. Tidak jarang kebingungan atau moha ini juga dialami oleh organisasi atau pun perusahaan. Kebingungan, kepanikan, dan kebodohan tersebut, lebih merupakan bentuk kegagalan memperoleh perspektif situasi secara benar dan menyeluruh.

Dengan Garis JOI, anda akan dapat memandang situasi anda lebih jelas, lebih ringkas, lebih sederhana dan ada pengharapan bahwa situasi akan dapat tertanggulangi. Garis JOI ini dapat digunakan juga untuk memetakan kepanikan dan kebingungan untuk menangani berbagai kondisi tidak kondusif yang terjadi dalam perusahaan atau organisasi yang sedang anda kelola.

Dari pengalaman saya sendiri, setelah saya bisa menggambarkan situasi dan memetakannya dalam selembar kertas, kemudian saya menarik suatu Garis JOI, maka saat itulah saya dapat memperoleh suatu perspektif yang jelas. Dari situlah muncul kelegaan, semangat dan kemauan untuk berbuat sesuatu, mengawali langkah untuk mempengaruhi dan mengubah situasi. Berbarengan dengan menarik Garis JOI, terpancarlah suatu kedamaian di hati karena situasi telah jelas terpahami, karena kebuntuan tentang jalan kemungkinan telah terpecahkan.

kemauan yang jelas dan terungkapkan
Kemauan yang jelas dan terungkapkan. Ini merupakan suatu langkah lanjutan setelah memperoleh pemandangan situasi yang jelas dan menyeluruh. Saya tidak dapat melupakan sebuah film yang sangat berkesan yang berjudul “We were soldier” yang dibintangi oleh Mel Gibson. Bagian dari film tersebut menceritakan bagaimana Mel Gibson dalam perannya sebagai komandan memimpin anak buahnya berperang di Vietnam.

Dalam suasana perang yang genting, ia selalu mengarahkan anak buahnya untuk segera mengambil kesimpulan atas situasi yang terjadi, dengan ketenangan dan ketabahan mencermati situasi. Segera sesudah situasi dipahami, keputusan yang dilanjutkan dengan tindakan harus segera diambil. Segala resiko dan konsekuensi yang akan terjadi, diterima dengan rasa tanggungjawab dan keikhlasan dengan tetap mengedepankan keselamatan diri dan tim.

Ketika diterjunkan dalam suatu peperangan, kemauan dari pasukan adalah jelas, memenangkan perang. Demikian juga dalam situasi pribadi maupun organisasi dan perusahaan, kemauan dari para pelaku di dalamnya adalah kemenangan ekonomi, apa pun kita menyebutnya. Bagi seorang karyawan, situasi yang dimaui adalah kemenangan dalam bentuk kesejahteraan yang tercukupi dan meningkat. Bagi seorang pengusaha, situasi yang dimaui adalah kemenangan dalam bentuk profit, penguasaan pasar dan pertumbuhan organisasi. Bagi seorang organisatoris, situasi yang dimaui adalah kemenangan dalam bentuk terealisasinya visi dan misi organisasi, terpenuhinya aspirasi para konstituen di dalamnya.

Kemauan yang jelas dan diungkapkan sebagai tanggapan dan keputusan sikap yang mau diambil terhadap situasi yang dihadapi merupakan langkah pembuka yang memelopori tampilnya berbagai solusi berikutnya.

menyeberang dengan kreatifitas
Untuk dapat melanjutkan menyeberangi batas dan keterbatasan, maka dibutuhkan adanya suatu kreatifitas berpikir mengatasi masalah. Ini berarti bahwa kreatifitas berpikir menempatkan dirinya pada posisi di atas masalah atau yang sering dikenal dengan “helicopter view”. Untuk dapat menanggulangi masalah, maka masalah harus dipetakan dulu. Untuk dapat memetakan masalah, anda harus melihatnya dari atas.

Pancaran Mentari Kebebasan - 4 Sinar Kreatifitas
Kreatifitas pemecahan masalah untuk menanggulangi keterbatasan dapat dihasilkan dengan memberi pertanyaan kepada diri sendiri setelah terlebih dahulu setelah memperoleh perspektif situasi dengan menggunakan Garis JOI.

Jawaban atas pertanyaan tersebut merupakan tuntunan langkah nyata untuk menanggulangi keadaan yang sedang dihadapi. Keempat pertanyaan itu adalah:
1. Apa saja yang B I S A kita perbuat …? (bisa saja begini, bisa saja begitu, dll)
2. Apa saja yang B O L E H dilakukan…? (boleh begini, boleh begitu, dll)
3. Apa saja yang MUNGKIN dilakukan…? (mungkin saja begini, mungkin begitu, dll)
4. Apa yang PASTI…? (bila begitu, pasti begini, apa yang pasti demikian, dll)
Jawaban-jawaban atas ke-empat pertanyaan tersebut merupakan opsi-opsi tindakan yang dapat dilakukan. Bayangkan saja jawaban-jawaban itu seperti sebuah roti tart besar yang dipotong-potong menjadi bagian yang lebih kecil sehingga pas masuk ke mulut anda, artinya itu merupakan potongan-potongan solusi yang ada dalam jangkauan untuk anda tangani. Jawaban-jawaban tersebut merupakan spektrum solusi yang dapat dipilih, berbagai terobosan kreatif untuk melewati batas-batas keterbatasan.

hati yang ikhlas - jiwa yang bergandeng tangan dengan Tuhan
Sepertinya tidaklah berlebihan bila saya mengatakan bahwa manusia adalah makhluk ciptaan yang mendapat kehormatan dan kesempatan untuk bermitra dengan Tuhan Sang Pencipta Semesta untuk membuat keadaan di dunia ini menjadi lebih baik.

Di dalam dirinya, di dalam kandungan badan, pikiran dan emosinya, manusia mempunyai jiwa yang diyakini adalah bagian diri yang dapat berelasi dengan Tuhan. Jiwa inilah yang menuntun badan, pikiran dan emosi ke dalam tingkah laku manusia. Manusia akan bertingkah sesat bila jiwanya terlepas dari Tuhan. Sebaliknya manusia akan bertingkah setia bila ia bergandeng tangan dengan Tuhan. Dalam biografinya, Bunda Theresa menganggap dirinya hanya “sebatang pensil di tangan Allah. Ia bukannya memanggil saya untuk sukses, melainkan untuk setia.” Inilah contoh orang yang jiwa-nya dalam keadaan bergandeng tangan dengan Tuhan.

Orang-orang yang jiwanya bertemu dengan Tuhan, orang-orang yang jiwanya bergandeng tangan dengan Tuhan, mengarahkan segenap hidupnya untuk kebahagiaan dan kesejahteraan bagi orang lain dan bukan sebaliknya.

Namun,
untuk dapat mencapai taraf ini, seseorang harus sudah pernah mencapai keikhlasan batin. Ke-ikhlasan ini saya pahami sebagai suatu keadaan mental dimana seseorang tersebut telah:
1. dapat menerima keadaan,
2. telah bisa mengerti keadaan dan
3. telah dapat memaklumi keadaan
4. bersedia memikul tanggungjawab untuk mempengaruhi dan mengubah keadaan
5. telah tercerahkan dan mengerti opsi-opsi untuk mengubah keadaan.

Namun tidak berhenti sampai di situ, ikhlas tidak berarti bahwa ia menyerah dengan keadaan, ikhlas tidak berarti bahwa ia berhenti berjuang, ikhlas juga tidak berarti bahwa ia telah kehilangan nyali dan keberanian, ikhlas tidak berarti bahwa ia membatalkan perjuangannya. Ikhlas bukan bentuk yang santun dari sebuah frustasi dan demotivasi.

Ikhlas di sini berarti bahwa ia telah mampu mengambil jarak antara dirinya dengan realitas, artinya di tengah keterlibatan badan, pikiran dan emosinya dalam pergelutan masalah kehidupan, jiwanya mampu dan sempat menarik diri untuk keluar dan melihat dari luar arena.

Siapapun ia, manajer atau pengusaha, sipil atau tentara, ia harus bisa mengambil keputusan dan mengendalikan situasi. Sebagai pengambil keputusan, ia harus bisa membuat keputusan yang obyektif, dan sebagai pemimpin ia harus bisa mengendalikan situasi. Nah, keikhlasan inilah yang memberi kesempatan pada seseorang untuk dapat melihat masalah dengan jernih dan obyektif serta menilai situasi dengan lengkap.

tanda-tanda keberhasilan
Orang-orang yang telah mahir menguasai kemampuan melewati batas, kemampuan melompati pagar adalah orang-orang yang dari mulutnya dapat terucap kata-kata berikut:
1. Saya bisa melakukannya lebih baik sekarang (I can do better now)
2. Saya dapat menghasilkan lebih lagi (I can achieve more)
3. Saya dapat meraih prestasi lebih tinggi lagi (I can reach higher)
4. Saya mengerti apa yang membuat perbedaan (I know what makes the difference)
5. Saya mengerti sekarang, mengapa pilihan ini lebih baik daripada pilihan lainnya
6. Sekarang lebih jelas, apa yang mau saya perbuat
7. Saya merasa lebih baik (I feel better now)

Akhirnya, inti pesan dari tulisan ini adalah untuk mengingatkan bahwa setiap manusia diciptakan oleh Tuhan di dunia ini untuk menjadi insan yang merdeka, menjadi pribadi yang menjadi tuan bagi dirinya sendiri, yaitu orang yang dapat menanggulangi segala wujud keterbatasan hidup yang menghampirinya.
Gunakanlah empat kunci sebagaimana telah diuraikan di bagian atas tulisan ini yang dapat disingkat dengan P3K:

1. Perspektif
2. Kemauan
3. Kreatifitas
4. Keikhlasan

Intinya agar semakin banyak orang yang menjadi pribadi yang mampu melewati batas, melompati pagar, yaitu batas dan keterbatasan temporer yang membatasi dirinya sendiri. Keterbatasan hanyalah satu peristiwa yang terjadi manakala kita dalam keadaan tidak mampu memandang situasi dengan perspektif yang benar sehingga gagal membangkitkan kreatifitas dalam memecahkan masalah, terpuruk dalam ketidak-berdayaan.

Sekali lagi, milikilah kemampuan melewati batas, melompati pagar dan kuasailah kemahiran melihat dengan perspektif yang benar.

” not just freedom, but independent”

Garis JOI

Baca tulisan ini di: tituspermadi.wordpress.com
Download ebook dalam format exe dan zip di groups.yahoo.com/group/gempita

Semoga bermanfaat,

Titus Permadi
Before knowing others, understand yourself first
Hubungi Titus Permadi
Handphone : 0888.685.8882
email: tituspermadi@gmail.com

Flower

Flower
The silent fighter for the beauty outcome

HR Manager: Pereda Konflik - Perusahaan sebagai laboratorium sosial

Juni 26, 2008 by tituspermadi

Magelang, 15 Mei 2008

Tak terasa genap satu bulan, saya menjadi seorang HR Manager. Menjalani hari-hari sebagai HR Manager di sebuah perusahaan industri otomotif yang padat modal sekaligus padat karya dengan sekitar 2.000 orang, saya tersentak sadar, bahwa saya berada dalam sebuah keberuntungan besar.

Bagaimana tidak? Bayangkan, saya berkesempatan bertemu dengan beragam individu dari berbagai latar belakang budaya, pendidikan, pengalaman, spiritualitas, agama, hobi, pergaulan sosial dan kompetensi kerjanya. Sebuah tempat yang tepat untuk mengerti dan memahami “aku”, “kamu”, “dia”, “kita”, “mereka”, “kami”.

Dalam kenyataan inilah, saya menyebut bahwa perusahaan adalah “laboratorium sosial”. Sebuah tempat dimana kita bebas mengobservasi, berusaha mengerti, memahami dan memaklumi beragam watak, sifat, perangai, karakter, kompetensi dan performa manusia dalam segala progres kemajuan dan kemandegannya ke arah yang lebih baik maupun yang lebih runyam.

Darah interaksi sosial: komunikasi
Di dalam “laboratorium sosial” ini terjadilah komunikasi dua arah antar karyawan. Terjadi bentuk-bentuk komunikasi, baik yang berupa instruksi yang berpasangan dengan umpan balik, sambung rasa yang berbungkus dialog, rapat koordinasi untuk meniadakan kesalah-pahaman dan ketidakteraturan, pelatihan untuk meningkatkan kompetensi sekaligus menyamakan bahasa dan persepsi (saya menyebutnya sebagai langkah menyamakan nada=do re mi fa sol, agar tercipta harmoni musik yang indah) pengumuman, informasi dan tak lupa gosip.

Mengingat berbagai keadaan yang ada, beragamnya watak individu yang terlibat di dalamnya, banyaknya kepentingan yang diperjuangkan, maraknya berbagai bagian yang terlibat, antrinya berbagai prioritas untuk mengedepan, serta pendeknya batas waktu penyelesaian suatu pekerjaan, menjadikan terjadinya kesalahpahaman dalam komunikasi sebagai sesuatu kewajaran yang tak terhindarkan dalam perusahaan.

Otot sosial yang kecapekan: konflik
Konflik, adalah suatu keadaan yang menggambarkan terjadinya suatu kesalahpahaman, perbedaan kepentingan dan jurang sikap yang belum dewasa serta sempitnya wawasan. Mengapa saya katakan demikian?

Karena, konflik adalah suatu yang wajar, lumrah dan alami mengingat kita berada dalam suatu situasi sosial yang dipenuhi dengan berbagai kesenjangan dan perbedaan dalam berbagai hal, dalam lingkup dan derajatnya. Perusahaan adalah sebuah entitas sosio-tekno-ekonomi yang bergerak untuk senantiasa mencapai performa yang selalu dituntut lebih baik daripada keadaan sebelumnya.

Tuntutan keharusan semacam ini secara berangsur-angsur terakumulasi menjadi beban kerja dan fisik serta beban emosi bagi para pekerja di dalamnya. Pada kenyataannya kondisi kerja ideal yang memberi kenyamanan yang berimbang antara beban kerja dan kenyamanan kerja sulitlah didapat, terlebih lagi dalam tekanan ekonomi biaya tinggi yang menuntut perusahaan harus berhemat.

Pada akhirnya, titik akhir akumulasi berbagai kesenjangan ini terpanggul di atas pundak para pekerja dimana tekanan ini akhirnya menggerogoti daya tahan (endurance) kemampuan kerja dan batas emosionalnya. Lalu terjadilah ketegangan yang meletus menjadi konflik.

Seorang HR Manager, meski bukan merupakan sebuah komponen utama sebuah proses produksi yang menghasilkan nilai tambah secara langsung, kerap kali ditarik ke tengah pusaran keributan untuk meredakan ketegangan dan mencari solusi. Memang sudah melekat dalam diri seorang HR Manager adalah peran sebagai seorang ibu, yang selalu harus siap kena ompol bayi yang digendongnya, sambil terus menyusui dan mendewasakannya. Mencari solusi begitulah kira-kira.

Relaksasi otot sosial: rekonsiliasi
Saya ingat, saat kuliah di Univ. Atma Jaya Yogyakarta, pernah mendapat pelajaran tentang konflik. Di situ dibedakan ada konflik yang sehat ada juga konflik yang tidak sehat.

Namun setelah saya masuk dalam dunia kerja, saya punya pandangan sendiri tentang konflik. Bagi saya, intinya konflik itu “nyebelin”. Mengapa? Acapkali konflik timbul karena terlalu serius memandang perbedaan dan kurang luas menggali berbagai kemungkinan serta alternatif, terlalu dominan mengedepankan “aku” ketimbang “kita”, lebih suka mencari si “kambing hitam” ketimbang membangun orkestra sosial yang kompak dan harmonis, lebih suka mencari kesalahan ketimbang kebenaran, lebih terbiasa dengan solusi cepat daripada solusi komprehensif.

Namun apa pun pandangan yang bisa diungkapkan untuk menjelaskan apa itu konflik, yang pasti kehadiran konflik selalu mencari pasangan sejatinya yaitu rekonsiliasi. Sebab, kalau tidak terjadi rekonsiliasi maka yang meledak adalah revolusi.

Suatu rekonsiliasi bisa terjadi, apabila kedua belah pihak yang bertikai telah dapat melihat dari sisi pandang pihak lawannya, apabila kedua belah pihak telah menyusun ulang skala prioritasnya, apabila kedua belah pihak telah bersatu untuk mengatasi “musuh bersama” sebagai ganti dari saling bertikai sendiri.

Diagram tulang ikan: alat rekonsiliasi kognitif sosial
Salah satu keuntungan yang saya dapat dengan bekerja dalam sebuah industri otomotif yang besar di Jawa Tengah, adalah bahwa saya sempat berkenalan dengan apa yang disebut dengan diagram tulang ikan (fishbone) yang dipopulerkan oleh Ishikawa.

Diagram Fishbone

Sejatinya, ini merupakan salah satu alat dalam Quality Contol yang dipakai sebagai salah satu bagian dalam proses penanganan masalah. Dengan membiasakan diri menggunakan diagram tulang ikan untuk mengurai berbagai keterkaitan faktor-faktor penyebab masalah, maka akan membantu kita untuk menemukan bidang-bidang yang perlu ditangani agar terapi sosial terhadap konflik dapat dijalankan.

Diagram diatas digunakan untuk menelusuri sebab-sebab (causes) yang menyebabkan timbulnya akibat (effect). Dalam mengurai konflik maka akibat yang diharapkan adalah rekonsiliasi, maka kotak-kotak sebab dapat berjudul antara lain:
1. KESALAH-PAHAMAN
2. TUMPANG TINDIH PRIORITAS
3. KOORDINASI LINTAS BAGIAN
4. WAKTU
5. MANPOWER
6. Lainnya (dapat Anda kembangkan sendiri sejauh relevan dengan situasi dan masuk akal)

Melalui alat bantu ini, rekonsiliasi sosial dapat tercipta untuk memberikan solusi pada konflik yang terjadi. Bekali diri Anda dengan konsep-konsep solusi yang berjangkauan dan berwawasan “company-wide” serta binalah “company-wisdom” Anda dan jadilah HR-Manager Pereda Konflik.
Sumber bacaan online
1. http://www.apo-tokyo.org
2. http://www.qualityindonesia.com

Semoga bermanfaat,

Titus Permadi
Before knowing others, understand yourself first
Hubungi Titus Permadi
Handphone : 0888.685.8882
email: tituspermadi@gmail.com
Flower - the silent fighter, for the beauty outcome.

Download file => http://finance.groups.yahoo.com/group/gempita/

Fundamental Leadership

Juni 10, 2008 by tituspermadi

KEPEMIMPINAN FUNDAMENTAL
(Fundamental Leadership)

“Pemimpin adalah fondasi organisasi – Titus P”

Berbeda dengan topik-topik kepemimpinan pada umumnya yang menempatkan pemimpin sebagai orang yang mempunyai kedudukan lebih tinggi dari pengikutnya, maka tulisan ini justru mengambil perspektif sebaliknya, yaitu pemimpin (the leader) sebagai fondasi yang terletak di bawah-sebagai alas berpijak suatu komunitas atau organisasi sebagai wadah berkumpulnya orang (the people). Tulisan ini merupakan tulisan yang meninjau seorang pemimpin sebagai fondasi penopang organisasi, pemimpin sebagai dasar keberhasilan orang-orang dalam organisasinya.

Model Fundamental Leadership

Dalam suatu komunitas atau organisasi tempat dimana seorang pemimpin hadir, orang-orang (the people) bergerak untuk mencapai suatu tujuan tertentu (target achieving).

Dalam perjalanan mencapai tujuan yang ditetapkan - cita-cita yang diidamkan - suatu organisasi akan mengalami pasang surut daur kehidupan, baik yang berupa hambatan (hal-hal yang menghalangi pencapaian tujuan) maupun yang berupa dukungan (hal-hal yang mempermudah tercapainya tujuan). Selalu saja akan ada situasi-situasi dimana pemecahan masalah dibutuhkan (problem solving) dan keputusan-keputusan harus dibuat (decision making). Ini adalah area pengeloaan (management). Seorang pemimpin yang baik akan melakukan proses kaderisasi yaitu melatih orang-orangnya agar mampu mengelola permasalahan dengan baik melalui ketajaman pengambilan keputusan dan pemecahan masalah.

Selain itu kemampuan memecahkan persoalan (problem solving) juga ditunjang oleh rasa percaya diri, ketabahan dan ketenangan menghadapi situasi. Di sini pemimpin harus memompa semangat dan kepercayaan diri orang-orangnya dengan cara terus memberi kesempatan orang-orangnya untuk memecahkan persoalan-persoalan yang mereka hadapi (heart). Di sinilah peranan seorang pemimpin untuk menguatkan hati orang-orangnya.

Pemimpin menyentuh dan menguatkan hati pengikutnya dengan menjalankan peran untuk memberdayakan (empowering), memampukan (enabling) dan memperkaya (enhancing) orang-orangnya agar dapat mengambil keputusan yang tepat dan membuat pemecahan masalah yang jitu.

Suatu keputusan dan pemecahan masalah dibuat atas dasar pertimbangan-pertimbangan yang nalar dan telah lolos uji berdasarkan kriteria yang bermutu. Agar dapat mencapai kualitas dalam hal ini, seorang pemimpin harus memperkaya pikiran (mind) orang-orangnya sehingga dapat mengurai kekusutan permasalahan dengan berbekal inspirasi (inspiring) dan membuat terobosan lewat inovasi (innovating). Inspirasi dan inovasi adalah dua senjata untuk mengatasi kemandegan berpikir.

Selain itu, organisasi akan menjalankan kegiatan rutin-mengerjakan hal yang sama berulang-ulang. Kebosanan dan kebekuan kreatifitas dapat mengancam gairah dan dinamika organisasi. Oleh sebab itu pemimpin berperan untuk menstimulasi orang-orangnya agar aktif berinovasi dan senantiasa tertantang untuk menjajal ide-ide baru, terobosan baru dan cara-cara yang cerdik untuk mencapai sasaran.

Dalam hal ini, seorang pemimpin perlu merangsang orang-orangnya bukan saja untuk bekerja, tetapi berkarya, karena bekerja hanya menggunakan pikiran dan fisik, tetapi berkarya memerlukan satu unsur lagi yaitu rasa, unsur hati (heart). Dengan memotivasi orang untuk bekerja, maka pemimpin hanya mengantar orang-orang untuk memperoleh uang lebih banyak. Tetapi dengan memicu orang untuk berkarya, pemimpin mengantar orang-orangnya untuk memperoleh makna-suatu arti hidup yang dapat dibanggakan. Dengan mendorong orang-orangnya untuk berkarya, pemimpin menjadikan orang-orangnya bukan sekedar pelaku ekonomi melainkan menjadikan mereka pelaku sejarah.

Untuk menuju pada kondisi ini seorang pemimpin harus membuat orang-orangnya terinspirasi (inspiring) – membuka pintu wawasan, menggali beragam kemungkinan yang tak terbatas dan berinovasi mencipta hal-hal baru (innovating).

Lalu bagaimana seorang pemimpin dapat melangkah untuk mewujudkan proses 3E’s (empowering, enabling, enhancing) kepada orang-orangnya? Ada dua hal mendasar yang harus dipahami oleh seorang pemimpin tentang sifat-sifat alami manusia.

Pertama, pada umumnya orang sampai tingkat tertentu tidak memiliki keajegan. Keterbatasan wawasan dan ketidakstabilan emosi serta suasana hati sering menyebabkan performa-nya tidak ajeg. Berhenti di tengah jalan dan berganti haluan, berubah pendirian berakar pada ketidakstabilan-emosi dan sempitnya-wawasan. Kegagalan yang berulang kali dalam membuat keputusan dan pemecahan masalah dapat meruntuhkan rasa percaya diri sehingga orang berhenti melangkah, berhenti mencoba lagi, menetapkan batas bagi dirinya sendiri.

Pada situasi-situasi seperti ini seorang pemimpin yang bijak dapat memahami kondisi kejiwaan yang dialami orang-orangnya. Manakala mereka berhenti berfungsi maka pemimpin wajib mengambil alih kemudi, bukan cemeti atau membiarkan mereka ”mati”. Dalam situasi kritis, pempimpin harus mampu mengambil alih kemudi dan menyelematkan semaksimal orang dalam perahu yang hampir karam. Ketika suasana kritis telah kembali berjalan normal, pemimpin mengembalikan orang-orang pada fungsinya semula. Inilah konsistensi, yaitu segala daya upaya agar organisasi (bukan individu) tetap konsisten dan gigih bergerak menuju pada sasaran dan pemenuhan skala kapasitasnya serta perluasan kapabilitasnya.

Kedua, pada dasarnya setiap orang unik. Masing-masing berbeda dalam wawasan-emosi-kedewasaan dan perasaannya. Itulah pentingnya fleksibilitas. Seorang pemimpin mengambil langkah untuk memberdayakan orang-orangnya dengan bersikap luwes terhadap perbedaan karakteristik orang-orangnya dan menerapkan pendekatannya secara berbeda pada masing-masing orang. Setiap orang mempunyai daya kerja, cara kerja, kecepatan kerja dan ketepatan kerja yang berbeda-beda dalam mencapai tujuan dan melaksanakan tugas, namun setiap orang mempunyai hak yang sama untuk mendapat suatu kepercayaan mengemban tugas dan merampungkan suatu tanggungjawab. Inilah fleksibilitas.

Lebih dari itu, seorang pemimpin perlu membawa budaya baru bagi organisasinya yang berpijak pada kebijakan ini. ”You are the complement of others…this is enough for both of you, to reach the sky… the unlimitted”. Sebuah kebijaksanaan yang mengedepankan kebersamaan antar satu dengan yang lain, yang bersifat saling melengkapi, bukan saling mengeliminasi… yang bersatu bersama mencapai cita-cita bersama, menggapai langit… yang tak terbatas. Artinya sejauh pemimpin mampu mencipta kekompakan dalam organisasinya, maka organisasinya mampu memperagakan performa yang tertinggi, terhebat, terheboh bahkan tak terbatas.

Bagaimana seorang pemimpin memberi tugas pada dirinya sendiri? Seorang pemimpin mempunyai empat tugas utama bagi dirinya. Ia harus menetapkan tujuan (goal setting) dengan wawasannya dan membaca keadaan dengan kejernihan persepsinya (perception). Berbekalkan dua hal ini, maka seorang pemimpin akan dapat menempatkan dirinya dengan pas. Dengan memiliki tujuan dan persepsi tentang situasi yang jelas pemimpin dapat menetapkan prioritas (prioritizing) dan fokusnya (focus) dan bersamaan dengan itu mampu menetapkan skala prioritas dan fokus bagi organisasi yang dipimpinnya.

Akhirnya motivasi tertinggi seorang pemimpin adalah memberdayakan orang-orang untuk mencapai tujuan dan menghasilkan karya yang bermakna. Agar dapat memahami dan mampu memberdayakan orang, seorang pemimpin perlu melatih dan membakali dirinya dengan suatu kemampuan dalam mengenali orang, yaitu neng shi ren. (lihat buku: 12 Prinsip Tao Zhu Gong)

Keberhasilan orang-orangnya lebih penting daripada keberhasilan dirinya secara individu. Keberhasilannya diukur bukan dari kehebatan pribadinya, tetapi apakah organisasi yang dipimpinnya maju dan berkembang. Hal itu bisa ditinjau dari laju kemajuan orang-orang yang menjadi rekan-rekan se-organisasi dengannya dalam berkarya.

Tantangan kepemimpinan selanjutnya setelah menjalankan Kepemimpinan Fundamental adalah bagaimana seorang pemimpin dapat membentuk orang-orangnya sebagai pengabdi kepentingan bangsa dan negara.

Perkembangan organisasi Anda, perkembangan orang-orang Anda dan pengabdian orang-orang Anda terhadap bangsa dan negara, inilah destinasi (destination). Itulah Destination of a Leader, judul tulisan saya berikutnya.

Semoga bermanfaat,

Titus Permadi

0888 685 8882

Download eBook: http://finance.groups.yahoo.com/group/gempita/

Karakter - Pondasi Kepemimpinan

Juni 9, 2008 by tituspermadi

Kepemimpinan dibangun atas pondasi yang kokoh, yaitu karakter. Karakter berbeda dengan karisma. Karisma merupakan daya pikat yang mendorong kesediaan tuan rumah untuk membuka pintu bagi kita, tetapi karakterlah yang menentukan apakah anda dibiarkan terus bertamu atau segera ditendang keluar oleh tuan rumah.

Karisma berdampak sementara tetapi karakter menjamin kelanggengan pengaruh dan kepemimpinan anda. Memang benar dengan karisma anda cepat menjadi bintang panggung, akan tetapi karakter akan menentukan seberapa lama anda berada di atas panggung.

1. Karakter membuat anda berbeda - CHARACTER SETS YOU APART

Ada suatu waktu ketika seseorang yang tidak memiliki integritas didepak keluar dari lingkungannya. Sebaliknya juga benar, bilamana anda konsisten menunjukkan karakter anda dalam periode waktu yang panjang maka orang akan menaruh perhatian kepada anda.

Karakter membuat anda berbeda dari lainnya.

2. Karakter menumbuhkan kepercayaan - CHARACTER CREATES TRUST

Melalui karakter anda membangun kepercayaan. Setiap kali anda memilih integritas ketimbang citra diri, kebenaran ketimbang kenyamanan, kehormatan ketimbang keuntungan pribadi tingkat kepercayaan yang anda peroleh semakin tinggi.

CEO dan Chairman PepsiCo menjelaskan, “Anda tidak dapat membangun kepercayaan dengan hanya membicarakan tentangnya. Anda membangun kepercayaan dengan memberi hasil yang selalu diwujudkan melalui integritas dan sikap yang menunjukkan penghargaan tulus kepada orang yang bekerja dengan anda.

Sebagai basis atas munculnya kepercayaan dari pengikut maka karakter harus diuji melalui banyak kondisi ambiguitas dan dilematis. Kemampuan mengambil sikap dalam situasi ambigu menunjukkan keteguhan memegang suatu prinsip.

Kemampuan mengambil sikap dalam suasana dilematis menunjukkan pemahamannya tentang keadilan dan obyektifitas. Kegigihan dalam memegang prinsip dan keajegan membuktikan bahwa ucapan sama dengan tindakan. Ucapan sama dengan tindakan menghasilkan kepercayaan-dapat dipercaya. Kepercayaan adalah alasan utama pengikut bersedia dipimpin sekaligus alasan utama atasan bersedia mendelegasikan.

Dengan karakter anda membangun kepercayaan tanpa karakter anda menghancurkan kepercayaan.

3. Karakter menyampaikan konsistensi - CHARACTER COMMUNICATES CONSISTENCY
Pemain NBA, Jerry West mengatakan, “Anda tidak akan pernah mengerjakan banyak hal besar bila anda bekerja hanya ketika anda suka”. Pemimpin adalah pijakan orang-orang, landasan tempat kaki memasang kuda-kuda. Pemimpin menjadi acuan ketika terjadi pergolakan, ketidakseimbangan, ketidakstabilan dan ketidakadilan. Pemimpin adalah tempat pengikut mendapatkan stabilitas, keseimbangan dan garansi.

Konsistensi menunjukkan bahwa anda dapat dijadikan acuan karena anda menunjukkan kestabilan. Konsistensi adalah perwujudan dari kestabilan, keseimbangan, dan jaminan.

Konsistensi ibarat lampu penerang jalan yang memberi terang dan kepastian dan bukan lampu diskotik yang remang-remang dan kerlap-kerlip.

4. Karakter mengisyaratkan potensi tersembunyi - CHARACTER PROMOTES POTENTIAL

John Morely berkata, “Tak seorang pun dapat mendaki melampui batas karakternya.” Bila karakter seorang pemimpin kuat, orang percaya kepadanya dan mereka mempercayai kemampuannya untuk mengerahkan segenap kemampuannya dan segernap potensinya karena ia telah menerapkan hal tersebut atas dirinya sendiri.

Hal ini tidak hanya memberikan harapan (hope) tentang masa depan kepada pengikut, tetapi juga mendorong rasa percaya diri (confident) yang kuat atas diri mereka dan organisasi mereka.

Segitiga Kepemimpinan Abraham Lincoln

1. Karakter

Lincoln selalu ingin melakukan hal yang benar. Mottonya adalah, “Berdirilah di samping siapapun yang berada dalam pihak yang benar. Berdirilah disampingnya ketika dia benar, dan berdirilah berseberangan manakala ia salah.”

2. Komunikasi

Komunikasi sangat erat berhubungan dengan kepemimpinan. Bahkan dapat dikatakan komunikasi adalah nafas kepemimpinan karena melalui komunikasi inilah pemimpin:
1. mengungkapkan karakternya,
2. menceritakan ketulusannya,
3. menjelaskan tujuannya,
4. memaparkan rencananya,
5. menyampaikan ajakannya,
6. memotivasi semangatnya
7. menjabarkan gagasannya

3. Keberanian

Keberanian merupakan aktualisasi karakter. Keberanian adalah bentuk nyata dari karakter. Karakter adalah perwujudan dari iman, keberanian adalah perwujudan dari perbuatan. Iman tanpa perbuatan adalah mati demikian juga karakter tanpa keberanian tidaklah hidup.

Karakter dan keberanian merupakan kekuatan dalam diri pemimpin yang memungkinkannya untuk menangani kritik dan konflik sepanjang perjalanan kepemimpinannya.

Abraham Lincoln, “Dibutuhkan lebih banyak keberanian agar berani melakukan dengan benar ketimbang rasa takut untuk berbuat salah. Orang yang tahu bahwa yang ia lakukan benar tidak ada yang perlu ditakuti.”

Sikap dan tindakan Abraham Lincoln menggambarkan hal yang harus dikembangkan untuk menjadi pemimpin yang efektif dalam setiap organisasi.

Karakternya tetap kokoh teruji oleh waktu
Kemampuannya berkomunikasi dengan efektif terus memperluas pengaruhnya
Keberaniannya memberikan inspirasi bagi seluruh bangsa.

Kuis :
Berikan prioritas sesuai urutan yang anda yakini dalam membangun kepemimpinan:
Urutan prioritas
1. Membangun karisma …………………………………………
2. Membangun respek …………………………………………
3. Membangun wibawa …………………………………………
4. Membangun pengaruh …………………………………………
5. Membangun kesetiaan …………………………………………
6. Membangun kepercayaan …………………………………………

Sumber:
Terjemahan bebas dari
“This article is used by permission from Dr. John C. Maxwell’s free monthly e-newsletter ‘Leadership Wired’ available at www.INJOY.com.”
This information cannot be used for resale in any manner.
Copyright (c) 2000, The INJOY Group, Inc. TM

Semoga bermanfaat,

Titus Permadi

0888 685 8882

Download eBook: http://finance.groups.yahoo.com/group/gempita/