Fundamental Leadership

10 06 2008

KEPEMIMPINAN FUNDAMENTAL
(Fundamental Leadership)

“Pemimpin adalah fondasi organisasi – Titus P”

Berbeda dengan topik-topik kepemimpinan pada umumnya yang menempatkan pemimpin sebagai orang yang mempunyai kedudukan lebih tinggi dari pengikutnya, maka tulisan ini justru mengambil perspektif sebaliknya, yaitu pemimpin (the leader) sebagai fondasi yang terletak di bawah-sebagai alas berpijak suatu komunitas atau organisasi sebagai wadah berkumpulnya orang (the people). Tulisan ini merupakan tulisan yang meninjau seorang pemimpin sebagai fondasi penopang organisasi, pemimpin sebagai dasar keberhasilan orang-orang dalam organisasinya.

Model Fundamental Leadership

Dalam suatu komunitas atau organisasi tempat dimana seorang pemimpin hadir, orang-orang (the people) bergerak untuk mencapai suatu tujuan tertentu (target achieving).

Dalam perjalanan mencapai tujuan yang ditetapkan – cita-cita yang diidamkan – suatu organisasi akan mengalami pasang surut daur kehidupan, baik yang berupa hambatan (hal-hal yang menghalangi pencapaian tujuan) maupun yang berupa dukungan (hal-hal yang mempermudah tercapainya tujuan). Selalu saja akan ada situasi-situasi dimana pemecahan masalah dibutuhkan (problem solving) dan keputusan-keputusan harus dibuat (decision making). Ini adalah area pengeloaan (management). Seorang pemimpin yang baik akan melakukan proses kaderisasi yaitu melatih orang-orangnya agar mampu mengelola permasalahan dengan baik melalui ketajaman pengambilan keputusan dan pemecahan masalah.

Selain itu kemampuan memecahkan persoalan (problem solving) juga ditunjang oleh rasa percaya diri, ketabahan dan ketenangan menghadapi situasi. Di sini pemimpin harus memompa semangat dan kepercayaan diri orang-orangnya dengan cara terus memberi kesempatan orang-orangnya untuk memecahkan persoalan-persoalan yang mereka hadapi (heart). Di sinilah peranan seorang pemimpin untuk menguatkan hati orang-orangnya.

Pemimpin menyentuh dan menguatkan hati pengikutnya dengan menjalankan peran untuk memberdayakan (empowering), memampukan (enabling) dan memperkaya (enhancing) orang-orangnya agar dapat mengambil keputusan yang tepat dan membuat pemecahan masalah yang jitu.

Suatu keputusan dan pemecahan masalah dibuat atas dasar pertimbangan-pertimbangan yang nalar dan telah lolos uji berdasarkan kriteria yang bermutu. Agar dapat mencapai kualitas dalam hal ini, seorang pemimpin harus memperkaya pikiran (mind) orang-orangnya sehingga dapat mengurai kekusutan permasalahan dengan berbekal inspirasi (inspiring) dan membuat terobosan lewat inovasi (innovating). Inspirasi dan inovasi adalah dua senjata untuk mengatasi kemandegan berpikir.

Selain itu, organisasi akan menjalankan kegiatan rutin-mengerjakan hal yang sama berulang-ulang. Kebosanan dan kebekuan kreatifitas dapat mengancam gairah dan dinamika organisasi. Oleh sebab itu pemimpin berperan untuk menstimulasi orang-orangnya agar aktif berinovasi dan senantiasa tertantang untuk menjajal ide-ide baru, terobosan baru dan cara-cara yang cerdik untuk mencapai sasaran.

Dalam hal ini, seorang pemimpin perlu merangsang orang-orangnya bukan saja untuk bekerja, tetapi berkarya, karena bekerja hanya menggunakan pikiran dan fisik, tetapi berkarya memerlukan satu unsur lagi yaitu rasa, unsur hati (heart). Dengan memotivasi orang untuk bekerja, maka pemimpin hanya mengantar orang-orang untuk memperoleh uang lebih banyak. Tetapi dengan memicu orang untuk berkarya, pemimpin mengantar orang-orangnya untuk memperoleh makna-suatu arti hidup yang dapat dibanggakan. Dengan mendorong orang-orangnya untuk berkarya, pemimpin menjadikan orang-orangnya bukan sekedar pelaku ekonomi melainkan menjadikan mereka pelaku sejarah.

Untuk menuju pada kondisi ini seorang pemimpin harus membuat orang-orangnya terinspirasi (inspiring) – membuka pintu wawasan, menggali beragam kemungkinan yang tak terbatas dan berinovasi mencipta hal-hal baru (innovating).

Lalu bagaimana seorang pemimpin dapat melangkah untuk mewujudkan proses 3E’s (empowering, enabling, enhancing) kepada orang-orangnya? Ada dua hal mendasar yang harus dipahami oleh seorang pemimpin tentang sifat-sifat alami manusia.

Pertama, pada umumnya orang sampai tingkat tertentu tidak memiliki keajegan. Keterbatasan wawasan dan ketidakstabilan emosi serta suasana hati sering menyebabkan performa-nya tidak ajeg. Berhenti di tengah jalan dan berganti haluan, berubah pendirian berakar pada ketidakstabilan-emosi dan sempitnya-wawasan. Kegagalan yang berulang kali dalam membuat keputusan dan pemecahan masalah dapat meruntuhkan rasa percaya diri sehingga orang berhenti melangkah, berhenti mencoba lagi, menetapkan batas bagi dirinya sendiri.

Pada situasi-situasi seperti ini seorang pemimpin yang bijak dapat memahami kondisi kejiwaan yang dialami orang-orangnya. Manakala mereka berhenti berfungsi maka pemimpin wajib mengambil alih kemudi, bukan cemeti atau membiarkan mereka ”mati”. Dalam situasi kritis, pempimpin harus mampu mengambil alih kemudi dan menyelematkan semaksimal orang dalam perahu yang hampir karam. Ketika suasana kritis telah kembali berjalan normal, pemimpin mengembalikan orang-orang pada fungsinya semula. Inilah konsistensi, yaitu segala daya upaya agar organisasi (bukan individu) tetap konsisten dan gigih bergerak menuju pada sasaran dan pemenuhan skala kapasitasnya serta perluasan kapabilitasnya.

Kedua, pada dasarnya setiap orang unik. Masing-masing berbeda dalam wawasan-emosi-kedewasaan dan perasaannya. Itulah pentingnya fleksibilitas. Seorang pemimpin mengambil langkah untuk memberdayakan orang-orangnya dengan bersikap luwes terhadap perbedaan karakteristik orang-orangnya dan menerapkan pendekatannya secara berbeda pada masing-masing orang. Setiap orang mempunyai daya kerja, cara kerja, kecepatan kerja dan ketepatan kerja yang berbeda-beda dalam mencapai tujuan dan melaksanakan tugas, namun setiap orang mempunyai hak yang sama untuk mendapat suatu kepercayaan mengemban tugas dan merampungkan suatu tanggungjawab. Inilah fleksibilitas.

Lebih dari itu, seorang pemimpin perlu membawa budaya baru bagi organisasinya yang berpijak pada kebijakan ini. ”You are the complement of others…this is enough for both of you, to reach the sky… the unlimitted”. Sebuah kebijaksanaan yang mengedepankan kebersamaan antar satu dengan yang lain, yang bersifat saling melengkapi, bukan saling mengeliminasi… yang bersatu bersama mencapai cita-cita bersama, menggapai langit… yang tak terbatas. Artinya sejauh pemimpin mampu mencipta kekompakan dalam organisasinya, maka organisasinya mampu memperagakan performa yang tertinggi, terhebat, terheboh bahkan tak terbatas.

Bagaimana seorang pemimpin memberi tugas pada dirinya sendiri? Seorang pemimpin mempunyai empat tugas utama bagi dirinya. Ia harus menetapkan tujuan (goal setting) dengan wawasannya dan membaca keadaan dengan kejernihan persepsinya (perception). Berbekalkan dua hal ini, maka seorang pemimpin akan dapat menempatkan dirinya dengan pas. Dengan memiliki tujuan dan persepsi tentang situasi yang jelas pemimpin dapat menetapkan prioritas (prioritizing) dan fokusnya (focus) dan bersamaan dengan itu mampu menetapkan skala prioritas dan fokus bagi organisasi yang dipimpinnya.

Akhirnya motivasi tertinggi seorang pemimpin adalah memberdayakan orang-orang untuk mencapai tujuan dan menghasilkan karya yang bermakna. Agar dapat memahami dan mampu memberdayakan orang, seorang pemimpin perlu melatih dan membakali dirinya dengan suatu kemampuan dalam mengenali orang, yaitu neng shi ren. (lihat buku: 12 Prinsip Tao Zhu Gong)

Keberhasilan orang-orangnya lebih penting daripada keberhasilan dirinya secara individu. Keberhasilannya diukur bukan dari kehebatan pribadinya, tetapi apakah organisasi yang dipimpinnya maju dan berkembang. Hal itu bisa ditinjau dari laju kemajuan orang-orang yang menjadi rekan-rekan se-organisasi dengannya dalam berkarya.

Tantangan kepemimpinan selanjutnya setelah menjalankan Kepemimpinan Fundamental adalah bagaimana seorang pemimpin dapat membentuk orang-orangnya sebagai pengabdi kepentingan bangsa dan negara.

Perkembangan organisasi Anda, perkembangan orang-orang Anda dan pengabdian orang-orang Anda terhadap bangsa dan negara, inilah destinasi (destination). Itulah Destination of a Leader, judul tulisan saya berikutnya.

Semoga bermanfaat,

Titus Permadi

0888 685 8882

Download eBook: http://finance.groups.yahoo.com/group/gempita/


Tindakan

Information

Tinggalkan komentar