Magelang, 15 Mei 2008
Tak terasa genap satu bulan, saya menjadi seorang HR Manager. Menjalani hari-hari sebagai HR Manager di sebuah perusahaan industri otomotif yang padat modal sekaligus padat karya dengan sekitar 2.000 orang, saya tersentak sadar, bahwa saya berada dalam sebuah keberuntungan besar.
Bagaimana tidak? Bayangkan, saya berkesempatan bertemu dengan beragam individu dari berbagai latar belakang budaya, pendidikan, pengalaman, spiritualitas, agama, hobi, pergaulan sosial dan kompetensi kerjanya. Sebuah tempat yang tepat untuk mengerti dan memahami “aku”, “kamu”, “dia”, “kita”, “mereka”, “kami”.
Dalam kenyataan inilah, saya menyebut bahwa perusahaan adalah “laboratorium sosial”. Sebuah tempat dimana kita bebas mengobservasi, berusaha mengerti, memahami dan memaklumi beragam watak, sifat, perangai, karakter, kompetensi dan performa manusia dalam segala progres kemajuan dan kemandegannya ke arah yang lebih baik maupun yang lebih runyam.
Darah interaksi sosial: komunikasi
Di dalam “laboratorium sosial” ini terjadilah komunikasi dua arah antar karyawan. Terjadi bentuk-bentuk komunikasi, baik yang berupa instruksi yang berpasangan dengan umpan balik, sambung rasa yang berbungkus dialog, rapat koordinasi untuk meniadakan kesalah-pahaman dan ketidakteraturan, pelatihan untuk meningkatkan kompetensi sekaligus menyamakan bahasa dan persepsi (saya menyebutnya sebagai langkah menyamakan nada=do re mi fa sol, agar tercipta harmoni musik yang indah) pengumuman, informasi dan tak lupa gosip.
Mengingat berbagai keadaan yang ada, beragamnya watak individu yang terlibat di dalamnya, banyaknya kepentingan yang diperjuangkan, maraknya berbagai bagian yang terlibat, antrinya berbagai prioritas untuk mengedepan, serta pendeknya batas waktu penyelesaian suatu pekerjaan, menjadikan terjadinya kesalahpahaman dalam komunikasi sebagai sesuatu kewajaran yang tak terhindarkan dalam perusahaan.
Otot sosial yang kecapekan: konflik
Konflik, adalah suatu keadaan yang menggambarkan terjadinya suatu kesalahpahaman, perbedaan kepentingan dan jurang sikap yang belum dewasa serta sempitnya wawasan. Mengapa saya katakan demikian?
Karena, konflik adalah suatu yang wajar, lumrah dan alami mengingat kita berada dalam suatu situasi sosial yang dipenuhi dengan berbagai kesenjangan dan perbedaan dalam berbagai hal, dalam lingkup dan derajatnya. Perusahaan adalah sebuah entitas sosio-tekno-ekonomi yang bergerak untuk senantiasa mencapai performa yang selalu dituntut lebih baik daripada keadaan sebelumnya.
Tuntutan keharusan semacam ini secara berangsur-angsur terakumulasi menjadi beban kerja dan fisik serta beban emosi bagi para pekerja di dalamnya. Pada kenyataannya kondisi kerja ideal yang memberi kenyamanan yang berimbang antara beban kerja dan kenyamanan kerja sulitlah didapat, terlebih lagi dalam tekanan ekonomi biaya tinggi yang menuntut perusahaan harus berhemat.
Pada akhirnya, titik akhir akumulasi berbagai kesenjangan ini terpanggul di atas pundak para pekerja dimana tekanan ini akhirnya menggerogoti daya tahan (endurance) kemampuan kerja dan batas emosionalnya. Lalu terjadilah ketegangan yang meletus menjadi konflik.
Seorang HR Manager, meski bukan merupakan sebuah komponen utama sebuah proses produksi yang menghasilkan nilai tambah secara langsung, kerap kali ditarik ke tengah pusaran keributan untuk meredakan ketegangan dan mencari solusi. Memang sudah melekat dalam diri seorang HR Manager adalah peran sebagai seorang ibu, yang selalu harus siap kena ompol bayi yang digendongnya, sambil terus menyusui dan mendewasakannya. Mencari solusi begitulah kira-kira.
Relaksasi otot sosial: rekonsiliasi
Saya ingat, saat kuliah di Univ. Atma Jaya Yogyakarta, pernah mendapat pelajaran tentang konflik. Di situ dibedakan ada konflik yang sehat ada juga konflik yang tidak sehat.
Namun setelah saya masuk dalam dunia kerja, saya punya pandangan sendiri tentang konflik. Bagi saya, intinya konflik itu “nyebelin”. Mengapa? Acapkali konflik timbul karena terlalu serius memandang perbedaan dan kurang luas menggali berbagai kemungkinan serta alternatif, terlalu dominan mengedepankan “aku” ketimbang “kita”, lebih suka mencari si “kambing hitam” ketimbang membangun orkestra sosial yang kompak dan harmonis, lebih suka mencari kesalahan ketimbang kebenaran, lebih terbiasa dengan solusi cepat daripada solusi komprehensif.
Namun apa pun pandangan yang bisa diungkapkan untuk menjelaskan apa itu konflik, yang pasti kehadiran konflik selalu mencari pasangan sejatinya yaitu rekonsiliasi. Sebab, kalau tidak terjadi rekonsiliasi maka yang meledak adalah revolusi.
Suatu rekonsiliasi bisa terjadi, apabila kedua belah pihak yang bertikai telah dapat melihat dari sisi pandang pihak lawannya, apabila kedua belah pihak telah menyusun ulang skala prioritasnya, apabila kedua belah pihak telah bersatu untuk mengatasi “musuh bersama” sebagai ganti dari saling bertikai sendiri.
Diagram tulang ikan: alat rekonsiliasi kognitif sosial
Salah satu keuntungan yang saya dapat dengan bekerja dalam sebuah industri otomotif yang besar di Jawa Tengah, adalah bahwa saya sempat berkenalan dengan apa yang disebut dengan diagram tulang ikan (fishbone) yang dipopulerkan oleh Ishikawa.
Sejatinya, ini merupakan salah satu alat dalam Quality Contol yang dipakai sebagai salah satu bagian dalam proses penanganan masalah. Dengan membiasakan diri menggunakan diagram tulang ikan untuk mengurai berbagai keterkaitan faktor-faktor penyebab masalah, maka akan membantu kita untuk menemukan bidang-bidang yang perlu ditangani agar terapi sosial terhadap konflik dapat dijalankan.
Diagram diatas digunakan untuk menelusuri sebab-sebab (causes) yang menyebabkan timbulnya akibat (effect). Dalam mengurai konflik maka akibat yang diharapkan adalah rekonsiliasi, maka kotak-kotak sebab dapat berjudul antara lain:
1. KESALAH-PAHAMAN
2. TUMPANG TINDIH PRIORITAS
3. KOORDINASI LINTAS BAGIAN
4. WAKTU
5. MANPOWER
6. Lainnya (dapat Anda kembangkan sendiri sejauh relevan dengan situasi dan masuk akal)
Melalui alat bantu ini, rekonsiliasi sosial dapat tercipta untuk memberikan solusi pada konflik yang terjadi. Bekali diri Anda dengan konsep-konsep solusi yang berjangkauan dan berwawasan “company-wide” serta binalah “company-wisdom” Anda dan jadilah HR-Manager Pereda Konflik.
Sumber bacaan online
1. http://www.apo-tokyo.org
2. http://www.qualityindonesia.com
Semoga bermanfaat,
Titus Permadi
Before knowing others, understand yourself first
Hubungi Titus Permadi
Handphone : 0888.685.8882
email: tituspermadi@gmail.com
Flower – the silent fighter, for the beauty outcome.
Download file => http://finance.groups.yahoo.com/group/gempita/
Filed under: human resource manager | Leave a Comment
Tags: HR Manager: Pereda Konflik, Quality dong
Cari
-
Anda sedang menjelajah arsip weblog Titus Permadi's Weblog.


No Responses Yet to “HR Manager: Pereda Konflik – Perusahaan sebagai laboratorium sosial”