Kepemimpinan ala pohon Jati

Bernilai karena mutunya

Pohon jati dikenal sebagai salah satu pohon yang kuat untuk berbagai kegunaan dan manfaat. Kayu Jati (Tectona grandis L.f.) atau ‘teak wood’ telah dikenal masyarakat nasional maupun internasional sebagai bahan baku industri pengolahan kayu yang memiliki kualitas terbaik di dunia. Kayu yang terkenal karena kekuatan, keawetan dan keindahannya ini memiliki nilai tinggi baik secara ekonomi maupun seni.

Tak heran jika kayu jati selalu menjadi pilihan utama bahan industri furnitur, mebel maupun bahan dasar kerajinan berkualitas. Kualitas kayu jati yang bagus menjadikan produk kayu jati masuk dalam tingkatan mahal dan mewah. Harga kayu jati di pasar internasional berkisar US$.500- $.2200 per meter kubik .

Kuat Karena Ditempa Keadaan

Si pohon jati bertumbuh kuat karena lingkungannya. Salah satu ungkapan kepemimpinan yang saya sukai adalah ungkapan dari Warren Bennis.

Pembelajaran terbaik bagi seorang pemimpin, adalah dengan menjalani peran kepemimpinan sehari-hari yang senantiasa berjumpa dengan berbagai kadar tantangan kepemimpinan. Habitat belajar seorang pemimpin adalah kenyataan hidup sehari-hari.

Leaders learn by leading, and they learn best by leading in the face of obstacles. As weather shapes mountains, problems shape leaders. Warren Bennis

Ungkapan ini nampaknya relevan dengan proses sebuah pohon jati mencapai realisasi potensi puncaknya.

Si pohon jati tidak bisa menolak keadaan kondisi lingkungannya. Iklim yang cocok adalah yang memiliki musim kering yang nyata, namun tidak terlalu panjang, dengan curah hujan antara 1.200–3.000 mm pertahun dan dengan intensitas cahaya yang cukup tinggi sepanjang tahun. Ketinggian tempat yang optimal adalah antara 0 – 700 m dpl; meski jati bisa tumbuh hingga 1.300 m dpl.

Ia hidup dalam pergiliran hujan, badai, guntur dan halilintar. Ia menyikapinya secara wajar, natural dan proporsional, sambil tetap bertumbuh ke atas, mengembang radial ke samping dan mengakar kokoh ke dalam.

Maka waktu demi waktu, ia mencapai puncak tahapan-tahapan kemajuannya dengan kesetiaan yang sederhana untuk terus bertumbuh menjadi pohon jati yang sejati. Hingga pada suatu saat nanti, pada giliran dan waktunya, menjalankan dan menampilkan peran keberadaannya dalam berbagai bentuk dan kegunaannya.

pohon jati

Kepemimpinan berbicara tentang menumbuhkan pemimpin-pemimpin berikutnya dengan kapabilitas kepemimpinan yang semakin meningkat. Itu adalah sejenis kualitas. Sekiranya dipersamakan dengan kualitas pohon jati yang kokoh, kuat, indah dan bernilai tinggi, pada tingkat mana Anda akan membentuk pemimpin-pemimpin selanjutnya setelah Anda?

Perjalanan waktu tak pernah mundur ke belakang, hanya saja manusia beruntung mempunyai mekanisme memori untuk mengenang, tapi kenyataan yang indah mendatang, hanya terjadi dengan membayar peluh dan tempuh di hari sekarang. Jalan yang relevan untuk saya sarankan, adalah “Jalan Kepemimpinan ala pohon jati”.

 

Selamat Memimpin Perubahan,

TiTuS Permadi

M: 0878 5577 8882 Skype: titus.orangehrm

header

Artikel sebelumnya:

  1. Kepemimpinan ala BODREX, solusi jitu abad ke 21
  2. Kepemimpinan ala PHILIPS, terus terang terang terus
  3. The REXONA Way: Freshing Smell Leadership Today
  4. Life is SO NICE, Be A So Nice Leader
  5. Kepemimpinan ala RINSO, Nggak ada noda ya nggak belajar
  6. Kepemimpinan ala Telkomsel 4G LTE : Magnet Strategis Pengelolaan SDM Masa Depan
  7. Kepemimpinan ala Pegadaian
  8. Wavin: Filosofi Kepemimpinan ala Bengawan Solo
  9. Memimpin Seperti Teh Botol Sosro, Mengelola Seperti Indomie
  10. Kepemimpinan ala Kopi Kapal Api, Jelas Lebih Enak
  11. Kepemimpinan bergoyang ala “All About The Bass” Meghan Trainor
  12. L-Men Six Pack Leadership Secret

Sumber kajian:

  1. Jati Emas – https://jatiemas.wordpress.com/
  2. Jati – https://id.wikipedia.org/wiki/Jati
  3. Sanggahan: sumber-sumber kajian diperoleh dari internet, diakses pada tanggal 5 Juli 2015. Hak cipta dan merek pada masing-masing pemilik hak dan merek. Hak cipta dan merek dilindungi undang-undang. Kutipan pada tulisan ini digunakan untuk keperluan pengetahuan dan bukan untuk tujuan komersial. Sumber rujukan diberikan sebagai respek kepada pemegang hak dan merek masing-masing dan kepatuhan terhadap hukum yang mengatur dan melindungi hak cipta.

Saat kita menanam padi, rumput ikut tumbuh, tapi saat kita menanam rumput tidak pernah tumbuh padi. Dalam melakukan kebaikan, kadang-kadang hal-hal yang buruk turut menyertai. Tapi saat melakukan keburukan, tidak ada kebaikan bersamanya.

Ketika belum dikenali, resiko dihindari. Setelah dipahami dan dimengerti menjadi kawan bersenda gurau.

15 ke depan dan belakang

ketika dijalani dan dijalankan dengan benar, hidup ini menghasilkan yang benar. Kompasnya adalah kepemimpinan, petanya adalah pengelolaan, “self-regulator”-nya adalah “learning” sementara “checking point”-nya adalah pertanyaan… saat ini saya sedang seberapa benar?

Hire Right People, Essential Business Success: Proven in the west, proven in the east

Tim Stansfield (Founder and President IET Inc) says, “Without all of my people doing their jobs with skill, passion, and commitment this dream could never have become a reality”.

Woody Hayes (Legendary Ohio State Football Coach) says, “You win with people”.

Memilih dan menempatkan orang yang tepat / orang terbaik (right people) dikabarkan sebagai kunci keberhasilan organisasi. Berikut ini adalah beberapa pendapat yang mengemukakan hal itu:

Clinton O. Longenecker, Sonny Ariss dan Dale T. Eesly

Dalam publikasi HR Advisor (July 2008) Longenecker memaparkan hasil penelitiannya yang berjudul “Human Resource Management In Successful Entrepreneurial Entreprises: Challenges and Lessons”. Penelitian ini mengungkap pendapat dari para entrepreneur yang diteliti tentang pendapat mereka tentang orang/sumber daya manusia (people), peranan dan tantangan yang dihadapi oleh bidang pengelolaan Sumber Daya Manusia – SDM (human resource management).

Para entrepreneur yang berhasil menyadari bahwa orang/SDM merupakan komponen kunci bagi keberhasilan organisasi dan para entrepeneur ini memberikan perhatian yang serius dalam mengembangkan fungsi pengelolaan SDM yang efektif dalam organisasi mereka.

Ada satu hal mendasar yang menjadi tantangan bagi pengelola SDM dalam perannya memberi kontribusi bagi organisasi, yaitu ia harus mampu mendapatkan orang terbaik bagi organisasinya seperti yang dikatakan oleh Greg Papp (Principal Cube Culture Corp.)

“Most entrepreneurial organizations are successful because of the efforts and sacrifies of the people working there. It is critical to get the right people on board and to successfully embed them in the culture of the organization, which is no easy task and requires time, effort, and energy.”

 

EMPAT TANTANGAN BAGI PENGELOLA SDM

Longenecker mengemukakan, bahwa ada empat tantangan yang dihadapi oleh pengelola SDM agar dapat menjalankan fungsinya dan berkontribusi efektif bagi perusahaan tempat ia bekerja sebagai berikut:

  1. Hiring Quality People (Dapatkan Orang Terbaik)

  2. Generating Immediate Performance and Productivity (Hasilkan Produktifitas dan Kinerja Segera)

  3. Maintaining Flexibility (Pengorganisasian SDM yang fleksibel)

  4. Overall HR Cost Containment (Mampu memperoleh efektifitas sdm dengan pembiayaan yang efisien)

Ringkasan lengkap tulisan dari Longenecker dapat dijumpai pada posting saya berikutnya.

 

Fan Li / Tao Zhu Gong: Listen the lesson

Fan Li yang kemudian berganti nama menjadi Tao Zhu Gong di masa tuanya adalah pebisnis ulung dan mantan stratejius militer dari kerajaan Yue pada jaman Cina Klasik (722-476 Sebelum Masehi). Tao Zhu Gong merumuskan ajaran bisnis yang tertuang dalam “12 Prinsip Bisnis Tao Zhu Gong”. 

Yang menarik adalah Tao Zhu Gong menempatkan kemampuan untuk mengenali orang, memahami karakter orang akan menjamin kesuksesan bisnis. Hal menarik berikutnya adalah Tao Zhu Gong membahas tentang orang dalam empat prinsip dari dua belas prinsip yang ia ajarkan.

Setidaknya ini dapat menjadi acuan kita bahwa masalah  menemukan orang yang tepat sangatlah penting bagi bisnis, sebaliknya kekeliruan memilih orang akan menyebabkan hancurnya bisnis bahkan hilangnya kerajaan dan nyawa sang raja.

Kemampuan mempekerjakan orang yang tepat adalah kunci keberhasilan bisnis. Sebuah presentasi berjudul “The POWER of HRM: Start Up Business Essentials” berisi penjelasan lebih rinci mengenai hal ini. Presentasi ini tersedia gratis untuk Anda unduh pada link di bawah ini.

The POWER

 

12 Prinsip Bisnis Tao Zhu Gong

  1. Prinsip bisnis ke 1: Kemampuan mengenali orang: mengetahui karakter orang akan menjamin kestabilan keuangan anda. (neng shi ren: zhi ren shan e, zhang mu fu)
  2. Prinsip bisnis ke 2: Kemampuan menangani orang, memperlakukan orang dengan rasa hormat akan membuat anda diterima dikalangan luas dan membuat bisnis berkembang. (neng jie na: li wen xiang dai, jiao guan zhe zhong)
  3. Prinsip bisnis ke 3: Kemampuan berfokus pada bisnis: mengabaikan yang lama untuk mendapatkan yang baru merupakan kutukan dalam bisnis.
  4. Prinsip bisnis ke 4: Kemampuan mengorganisasikan: bila produk ditampilkan dengan baik, ia akan menarik perhatian banyak orang. (neng zheng dun: huo wu zheng qi, duo ren xin mu)
  5. Prinsip bisnis ke 5: Kemampuan bersikap tangkas dan fleksibel: keengganan dan keraguan akan menghasilkan kesia-siaan. (neng min jie: you yi bu jue, zhong gui wu cheng)
  6. Prinsip bisnis ke 6: Kemampuan menagih pembayaran: rajin dan rewel akan memberikan keuntungan bagi perusahaan (neng tao zhang: qin jin bu dai, qu tao zi duo
  7. Prinsip bisnis ke 7: Kemampuan memperkerjakan dan menempatkan sumber daya manusia: memilih orang yang tepat untuk pembayaran yang tepat akan menjamin bahwa orang tersebut dapat dipercaya dan diandalkan. (neng yong ren: yin cai qi shi, ren shi you lai)
  8. Prinsip bisnis ke 8: Kemampuan berbicara: kepandaian berbicara bisa mendatangkan keberuntungan dan memberikan pencerahan kepada orang lain. (neng bian lun: zuo cai you dao, chan fa yu meng)
  9. Prinsip bisnis ke 9: Kemampuan unggul dalam pembelian: dalam pembelian, menawar sampai setiap ons-nya tidak akan mengurangi modal anda. (neng ban huo: zhi huo bu ke, shi ben bian jing)
  10. Prinsip bisnis ke 10: Kemampuan mendiagnosa dan menyambar peluang serta melawan ancaman: Praktik bisnis yang bijaksana membutuhkan kemampuan untuk menjual dan menyimpan pada waktu yang tepat. (neng zhi ji: shou zhu zui zhi, ke cheng ming zhe)
  11. Prinsip bisnis ke 11: Kemampuan memulai dan menjadi contoh: persahabatan dan kepercayaan akan muncul secara alami jika disiplin dan standar yang tinggi ditegakkan. (neng chang lu: gong xing yi lu: qin gan zhi sheng)
  12. Prinsip bisnis ke 12: Kemampuan melihat jauh ke depan: kapan harus mencari lebih banyak, mengencangkan dan mengendurkan, tergantung pada situasi. (neng yuan shu: duo gua kuan jin, zhuo zhong er xing)

Sumber bacaan:

Leader’s Behavior: Munksiji Leadership Matrix Summary versi 1.0

Tulisan kali ini merupakan kelanjutan dari tulisan sebelumnya yang berjudul “Munksiji Leadership Matrix Summary, versi 1.0” yang membahas tentang salah satu poin dari ringkasan tentang kepemimpinan ini, yaitu “Leader’s Position”. Secara garis besar, pada tulisan itu memaparkan tentang peta perjalanan karir seseorang yang ingin menempuh jalan kepemimpinan sebagai jalur untuk mengubah nasibnya dan mengubah nasib orang lain di sekelilingnya. Konektifitas intelektual yang saya rujuk untuk meramu-padukan konsepsi dan ancangan praktek kepemimpinan ini berturut-turut adalah:

Setelah kemarin Anda membaca tentang peta perjalanan karir seorang pemimpin (roadmap), maka pembahasan berikut ini adalah tentang perilaku pemimpin. Dalam bidang apa dan dalam bentuk apa perilaku kepemimpinan yang akan Anda lakukan dalam mengisi agenda kepemimpinan Anda sehari-hari.

Leader’s Behavior

Ya perilaku kepemimpinan (Leader’s Behavior) adalah pertanyaan besar yang dulu menghalangi saya untuk memberanikan diri berjalan di “Jalan Kepemimpinan”. Pada saat itu, saya tidak berani memimpin karena saya tidak tahu apa sih pekerjaan seorang pemimpin? Apa sih agenda sehari-hari seorang pemimpin? Bagaimana sih ia membangun hubungan (relationship) dan meningkatkan mutu hubungan kepemimpinan (leadership relations quality) yang ia jalin dengan para pemangku kepentingan (stakeholders) yang relevan dengan peran dan jabatan kepemimpinan yang sedang ia pikul? PEMIMPIN, Apa sih sebenarnya yang kau lakukan? Apa agenda perilaku dan serangkaian serial perilaku yang dapat ia jalankan untuk meningkatkan mutu dan dampak kehadiran kepemimpinannya (quality and impact of your leadership presence)?.

Ketika bertanya kepada pemimpin-pemimpin senior yang saya temui, tak ada jawaban yang memuaskan hingga akhirnya saya sempat mempelajari kepemimpinan secara lebih mendalam dengan membedah berbagai literatur-literatur kepemimpinan. Inspirator utama dalam menyingkap misteri apa yang dilakukan oleh pemimpin, terjelaskan bagi saya dari berbagai sumber.

Kepemimpinan Adalah Perilaku, kata Kouzes & Posner

Salah satu hal yang menggembirakan dari pertemuan saya dengan kepemimpinan adalah pernyataan dari Kouzes & Posner, dimana penelitian yang mereka selenggarakan memberikan temuan yang didukung dengan bukti yang kuat bahwa kepemimpinan adalah perilaku.

Inilah pernyataan mereka dalam situsnya:

Kepemimpinan adalah bukan persoalan kepribadian; kepemimpinan adalah soal perilaku – serangkaian ketrampilan dan kemampuan yang dapat diamati.

Leadership is not about personality; it’s about behavior—an observable set of skills and abilities. Leadership is about behavior.

Dalam penelitian mereka, Kouzes & Posner mengklasifikasikan perilaku terbaik pemimpin ke dalam 5 (lima) praktek perilaku kepemimpinan, yaitu:

  • Model The Way – Menunjukkan Jalan dengan memberikan contoh/keteladanan
  • Inspire a Shared Vision –  Menginsirasikan Visi bersama
  • Challenge the Process – Pemimpin harus mengubah proses yang sekarang untuk menghasilkan hasil yang berbeda
  • Enable Others to Act – Memberdayakan orang untuk berpartisipasi dan berkontribusi sebagai bagian dari perubahan dan kemajuan
  • Encourage the Heart – Memberikan dukungan moril dan semangat kepada tim

Belajar dari Model Kepemimpinan US ARMY

Salah satu model kepemimpinan berbasis perilaku yang mencerahkan pemikiran saya tentang kepemimpinan adalah konsep dari US ARMY Leadership Model, dimana dalam konsepsi kepemimpinan mereka, secara jelas ada 3 (tiga) dimensi kepemimpinan yang harus dikembangkan dari diri seorang pemimpin.

Yang pertama adalah persoalan BE, seperti apa seorang pemimpin itu harus menjadi, sosok pemimpin yang seperti apa yang mau dibentuk?. Yang kedua adalah DO, yaitu apa yang dilakukan oleh seorang pemimpin sehari-hari? dan yang ketiga adalah persoalan KNOW, pengetahuan, ketrampilan, dan kompetensi apa yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin.

Konsepsi ini diturunkan dari definisi kepemimpinan yang mereka rumuskan, yaitu: Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi orang – dengan memberikannya tujuan, arah dan motivasi, sembari melakukan operasi atau pelaksanaan untuk  menyelesaikan misinya dan meningkatkan organisasi.

Leadership is influencing people—by providing purpose, direction, and motivation—while operating to accomplish the mission and improving the organization.

Mari kita perhatikan gambar di bawah ini, dimana dalam hal “Actions” atau “Do” ada 3 (tiga) perilaku seorang pemimpin yaitu: “Influencing – Operating – Improving”, saya sering mengajarkannya kepada tim saya dengan singkatan I-O-I.

b3_2795

Perilaku seorang pemimpin lebih jelasnya adalah:

  1. Influencing – Mempengaruhi
    1. Communicating – Berkomunikasi
    2. Decision Making – Membuat keputusan
    3. Motivating – Memotivasi
  2. Operating – Menjalankan operasi
    1. Planning – Merencanakan atau mempersiapkan
    2. Executing – Melaksanakan
    3. Assessing – Mengevaluasi pelaksanaan
  3. Improving
    1. Developing – Mengembangkan orang lain
    2. Building – Mengembangkan organisasi
    3. Learning – Belajar meningkatkan diri

Setelah melihat ke sembilan perilaku tadi, maka cerahlah pikiran saya, bahwa ternyata agenda sehari-hari seorang pemimpin adalah komunikasi – berbicara dan mendengarkan orang lain – meluruskan pendapat yang beda, pengambilan keputusan – memilih satu di antara banyak pilihan – memprioritaskan yang satu ke puncak urutan, memotivasi orang lain-membuat mereka tersenyum kembali, membuat mereka bersemangat kembali, membuat rencana apa yang mau dikerjakan, lalu mengerjakannya, bila hasilnya bagus dipertahankan, bila hasilnya belum bagus dikoreksi kekeliruan yang telah dilakukan, belajar untuk menambah ketrampilan, mengajar orang lain dan mengatur sistem kerja dalam organisasi…

Wadalah, coba perhatikan sekali lagi, bukankah itu semua yang sudah kita lakukan dalam pekerjaan kita sehari-hari? Jadi belajar memimpin itu mudah atau sulit? Belajar memimpin itu hanya untuk orang tertentu ataukah semua orang bisa mempelajarinya? Ha ha ha, rahasianya tersingkap sudah.

image012

Yang dimaksud dengan Influencing adalah seorang pemimpin melakukan tindakan komunikasi kepada anak buahnya, ini adalah “communicating”. Komunikasi yang disampaikan haruslah jelas dipahami oleh anak buahnya. Ini mencakup instruksi, arahan, petunjuk, target yang harus dicapai, misi yang harus diselesaikan. Elemen influencing berikutnya adalah ketika menghadapi situasi dan problem nyata di lapangan, seorang pemimpin harus mampu membuat keputusan yang tegas, mantap, tanpa ragu-ragu, sehingga seluruh anak buahnya bertindak dalam kepastian dan kemantapan, ini adalah “decision making”.  Elemen yang ketiga adalah memotivasi atau “motivating”. Di sini berarti pemimpin harus mampu berperilaku melalui ucapan, tindakan, dan ekspresi, serta argumentasi sehingga anak buah mempunyai alasan yang kuat, keyakinan yang kuat untuk menjalankan arahan, petunjuk dan instuksinya serta mempunyai kemantapan hati, keikhlasan, daya tahan dan ketabahan untuk menghadapi masalah yang ada di lapangan secara nyata.

Yang dimaksud dengan Operating, adalah seorang pemimpin bersama anak buahnya melakukan serangkaian kegiatan untuk mencapai tujuan dari misinya. Sebuah hasil kerja yang baik terjadi karena siklus persiapan, pelaksanaan dan evaluasi untuk perbaikan dilakukan dengan cermat, tidak sembrono dan awut-awutan. Perencanaan atau persiapan “planning” adalah segala sesuatu penyiapan sebelum pemimpin dan timnya bertindak, pada aspek non-manusia itu menyangkut penyiapan material, mesin atau peralatan, uang, informasi dan lain sebagainya. Pada aspek manusia berarti itu menyiapkan motif, kompetensi, kemampuannya untuk “ready”, “willing”, “able” sehingga misi dan penugasan yang diembannya berhasil. Pelaksanaan atau “executing” berarti pada momen pelaksanaan, pemimpin dan timnya dapat menanggulangi, beradaptasi dan melakukan terobosan sesuai perkembangan di lapangan dengan tetap memastikan bahwa target dan misinya tercapai, di sinilah pintar, cerdik dan banyak akal mendapat ruang untuk unjuk gigi.

Slide85

Yang dimaksud dengan Improving, berarti perilaku pemimpin bukan hanya menyelesaikan misinya, namun juga menjadi tugasnya untuk membangun aspek manusia seperti melakukan kaderisasi, pembinaan anak buah, penyusunan materi dan metode pelatihan,  maupun aspek non-manusia seperti merawat gedung, memutahirkan peralatan, pra sarana, metode pelatihan di dalam organisasinya.

Dari dari ke 9 (sembilan) elemen perilaku yang terangkum dalam 3 (tiga) kategori perilaku pemimpin ini semuanya adalah hal yang dapat dipelajari. Siapa pun dengan berbekal kecerdasan yang memadai dan motivasi yang cukup untuk meningkatkan kapabilitas kepemimpinannya dapat melakukan dan melewati tahapan yang diperlukan untuk mencapai level-level kompetensi elemen-elemen ini.

Inilah alasan mengapa kepemimpinan itu dapat dipelajari. Karena kepemimpinan adalah perilaku, maka ia dapat diamati, diukur, dan ditiru atau dipelajari. Mudah bukan?

Belajar dari Peneliti Kepemimpinan, Gary Yukl

Slide87

Pada tahun 2002 Yukl, bersama dengan Angela Gordon dan Tom Taber menerbitkan hasil penelitian mereka tentang kepemimpinan selama lebih dari 50 tahun. Mereka mengklasifikasikan perilaku pemimpin ke dalam tiga bidang: tugas, hubungan, dan perubahan. Mereka memerincikan perilaku-perilaku yang menjadi elemen dari setiap bidang.

Konsepsi perilaku kepemimpinan dari Yukl memberikan perspektif yang menyempurnakan model sebelumnya. Melalui laporan penelitiannya yang berjudul “Yukl’s: A Hierarchical Taxonomy of Leadership Behavior”, Yukl memberikan penjelasan tentang perilaku kepemimpinan yang dapat diklasifikasikan dalam 3 (tiga) kategori perilaku yang disusun dari 12 (dua belas) perilaku sebagaimana saya telah ringkaskan pada tabel di atas.

Gambar berikut ini saya peroleh dari internet, yang menjabarkan ke dua belas perilaku tersebut dalam bahasa aslinya. (Mohon maaf belum sempat saya terjemahkan)

slide_6

Pada bulan November 2012, Yukl menyempurnakan taksonomi perilaku pemimpin menjadi 4 (empat) bidang, yang tersusun dari 15 (lima belas) perilaku yaitu:

  1. Berioentasi Tugas (meliputi: klarifikasi peran, perencanaan, pemantauan eksekusi operasional, pemecahan masalah) — Task-oriented (clarifying, planning, monitoring operations, problem solving)
  2. Berorientasi Hubungan (meliputi: dukungan, pengembangan, pujian atau pengakuan, dan pemberdayaan) — Relations-oriented (supporting, developing, recognizing, empowering)
  3. Berorientasi Perubahan (meliputi: penasehat, bervisi, mendorong inovasi, memfasilitasi pembelajaran bersama) — Change-oriented (advocating, envisioning, encouraging innovation, facilitating collective learning)
  4. Berorientasi Eksternal (meliputi: membangun jejaring, memonitor kondisi dan perubahan di luar organisasi, mewakili organisasi) — External (networking, external monitoring, representing)

Dari Yukl ini maka selain I-O-I (Influencing-Operating-Improving) maka perilaku pemimpin dapat dilihat dari perspektif dan ekspresi perilaku yang berbeda, walaupun secara esensial ada kesamaan di antara keduanya. Karena di susun oleh orang sipil, maka perilaku kepemimpinan T-R-C-E (Task-Relations-Change-External) ada bedanya dengan I-O-I yang dibuat oleh kalangan militer. Saya melihat perbedaan ini di bagian Change & External.

Bila penekanan utama pendekatan militer adalah penuntasan misi-biasanya misi mengahancurkan lawan, maka di kalangan sipil atau organisasi bisnis yang dibidik adalah Change dan External. Mengapa bagi kalangan bisnis, perilaku C-E ini relevan dan bukan melulu O-perating saja? Hal ini dapat dijelaskan karena organisasi bisnis harus selalu menyesuaikan dengan variabel-variabel eksternal yaitu pasar (Market), customer (Pelanggan), kompetitor (Competitor) dan teknologi (Technology). Maka seorang pemimpin perlu kuat di perilaku berorientasi Change & External, karena ibarat menyetir mobil, ia harus selalu awas dan waspada serta melakukan penyesuaian (Change) dengan kepadatan lalu lintas (External) dan pergerakan kendaraan di kanan-kiri-depan-belakang nya supaya tidak nubruk dan nyemplung ke kali.

Bagaimana perilaku para praktisi pemimpin organisasi bisnis di Indonesia?

Dear pembaca, saya mencoba membuat sebuah penelitian sederhana untuk mengetahui bagaimana perilaku pemimpin organisasi di Indonesia dilihat dari taksonomi perilaku pemimpin dengan model dari Yukl, sebagai berikut:

Bagaimana Penerapannya?

Pembaca yang budiman, dengan penjelasan perilaku pemimpin adalah M-I-C-E-E (Kouzes & Posner) I-O-I (US Army Model) dan T-R-C-E (Yukl), maka buatlah daftar dari semua perilaku dalam sebuah tabel, lalu jadwalkanlah dalam agenda harian Anda, pada perilaku mana Anda mau melakukan perbaikan dan peningkatan.

Lakukanlah refleksi, introspeksi dan mintalah feedback dari orang lain untuk menemukan di perilaku kepemimpinan mana yang Anda masih kurang, lalu lakukan perbaikan disitu. Dengan demikian maka kapabilitas kepemimpinan Anda akan meningkat dan otomatis, sebentar lagi kesempatan memimpin pada tingkat berikutnya akan menghampiri Anda. Trust me, it works!

Selamat Memimpin Perubahan

 

TiTuS Permadi

Sumber bacaan:

  1. http://www.johnballardphd.com/blog/what-do-leaders-do-management-style

Munksiji Leadership Matrix Summary, versi 1.0

Leadership Mix Matrix

Dalam beberapa sesi sharing Leadership yang saya sampaikan, saya selalu tidak lupa mengetengahkan tentang Munksiji Leadership Matrix Summary (versi 1.0).

Munksiji Leadership Matrix Summary, versi 1.0 adalah sebuah ringkasan pemahaman, tuntunan agenda belajar, refleksi diri dan ancangan perilaku yang berfungsi sebagai roadmap seorang pembelajar kepemimpinan untuk menyusun dan menyesuaikan keempat bidang kepemimpinan yang senantiasa perlu dipertajam setiap hari.

Leader’s Position

Yang pertama kita akan berbicara tentang arah karir kepemimpinan yang hendak dituju seseorang. Karena konteks kepemimpinan yang sedang kita bahas adalah konteks kepemimpinan organisasi, khususnya organisasi bisnis, maka rujukan yang saya pakai juga berasal dari sumber-sumber dan pengarang kepemimpinan di bidang bisnis.

Ketika materi ini saya sampaikan selalu saja, sekitar 10 (sepuluh) orang mengambil ponsel dan jepret, jepret, jepret mereka memotret dengan ponselnya. Wow, siapa ya yang dipotret? Sayakah sebagai pembicara yang ganteng dan menggemaskan ataukah materinya?

Kepemimpinan ya jelas, itu merupakan masalah posisi, masalah tingkat kewenangan yang semakin tinggi semakin luas. Itu juga adalah sebuah posisi karir yang wajar, berharga dan sah-sah saja untuk dikejar. Dalam bukunya Good To Great, Jim Collins mengetengahkan pirimida kepemimpinan yang berjenjang dalam 5 tingkat.

  1. HCI – Highly Capable Individual yang singkatnya berurusan antara dirinya dengan tugas-tugas perorangan. Aku dengan pekerjaanku (Self-Task). Tugas perorangan adalah serangkaian pekerjaan yang dapat dilakukan sendirian oleh yang bersangkutan. Mengisi nota, memasukkan data ke komputer, membuat laporan atau pun segala jenis pekerjaan yang dapat dilakukan sendirian. Seorang karyawan baru pada umumnya akan masuk pada tingkat ini. Keberhasilannya akan tergantung pada kemahirannya menyelesaikan tugas-tugas perorangan ini dengan mutu kerja yang cepat, bebas salah, dalam jumlah yang banyak. Namun perjalanan karir seseorang tidak perlu berhenti di sini. Ia harus mempersiapkan diri untuk naik ke jenjang berikutnya.
  2. CTM – Contributing Team Member yang singkatnya berurusan dengan proses dengan melakukan pekerjaan yang membutuhkan kerja sama dengan orang lain. Pekerjaan saya akan menjadi inputan bagi proses kerja selanjutnya setelah saya. Ini adalah prosesku dengan orang lain (Process-Team). Di sini adalah pekerjaan-pekerjaan yang hanya selesai ketika semua anggota tim memberikan kontribusi kerja pada porsinya, pada waktunya, pada urutan atau pada gilirannya secara tepat. Disini mulai diperlukan ketrampilan komunikasi mendengar dan berbicara satu sama lain, disini mulai dibutuhkan yang namanya koordinisasi, di sini mulai dibutuhkan disiplin tepat waktu, tepat jumlah, tepat langkah. Kesempatan berperan menjadi anggota tim ataupun menjadi koordinator team merupakan ruang belajar dan bertumbuh yang harus dimanfaatkan dan dipersiapkan untuk dapat naik ke jenjang berikutnya.
  3. CM – Competent Manager yang singkatnya adalah berurusan dengan bidang dan variabel organisasi yang lebih luas, bukan hanya pekerjaan sendiri, bukan hanya proses dalam sebuah tim, tapi mulai mengelola sumber daya organisasi secara lebih luas, yaitu waktu (time), anggaran (money), mesin (machine), orang (people), proses yang terangkum dalam sebuah kesatuan sistem yang lebih luas (People & Resources). Di sini kemahiran yang dibutuhkan adalah pengelolaan, perancangan sistem untuk menghasilkan output pada tingkat produktifitas, efisien dan efektifitas serta akurasi yang lebih tinggi. 
  4. EL – Effective Leader yang singkatnya berurusan dengan fungsi organisasi yang lebih luas atau sebuah unit usaha dengan fungsi-fungsi yang lebih luas (Change & System). Dapat dikatakan di sini seorang pemimpin mengarahkan sebuah divisi yang terdiri banyak departemen, dengan banyak sistem  yang bekerja bersama. Kemampuan berpikir sistematis, mampu melihat masalah secara parsial maupun holistik menjadi kemahiran yang sangat diperlukan. Namun demikian pada posisi ini kemampuan menjalin hubungan dengan manusia tetap menjadi faktor yang dominan selain kemampuan mengelola faktor non-manusia seperti sistem, anggaran, mesin, dan sumberdaya-sumberdaya lainnnya. Di sini pemimpin sudah berurusan dengan soal Perubahan dan Sistem.
  5. Level 5 – Executive atau Great Leader adalah pemimpin puncak pada tingkat korporat. Dapat dikatakan ia berurusan dengan masalah eksistensi organisasi dan budaya organisasi sebagai roh dan jiwa organisasi yang menentukan jatuh bangun organisasi ke depan (Existance & Culture).

Selain ancangan dari Jim Collins, kita dapat juga merujuk pada 5 (lima) jenjang yang dirujuk oleh Center of Creative Leadership pengembangan kepemimpinan dimulai dari kemahiran memimpin diri sendiri (leading self), lalu memimpin orang lain (leading others), memimpin para manajer (leading manager), memimpin fungsi (leading functions) dan puncaknya adalah memimpin organisasi (leading organization). Konsepnya dapat diunduh melalui link ini

Pakar kepemimpinan lainnya yang membahas tentang pengembangan kepemimpinan dan jenjang kepemimpinan ini adalah Ram Charan dalam bukunya Leadership Pipeline dengan konsepnya “Six Leadership Passage”. Salah satu sumber di internet yang dapat Anda akses untuk menggali lebih lanjut konsep ini adalah Mindtools.COM 

Ketiga narasumber ini, Jim Collins, Ram Charan, Center of Creative Leadership membahas satu hal yang sama dari perspektif yang berbeda. Menggali dan mencermatinya lebih seksama akan memampukan Anda melihat permasalahan kepemimpinan dalam organisasi Anda dengan lebih tajam, komprehensif dan tepat. Hmmm lebih tepat lagi Anda mengangkat telepon sekarang dan menghubungi saya untuk berbicara memberikan pencerahan kepemimpinan bagi para pemimpin dalam organisasi Anda, setuju??? 

Satu pesan yang saya yakini dan telah terjadi dalam diri saya, adalah ketika kita mempersiapkan diri dan menambah wawasan, pengalaman, keterlibatan nyata dalam kepemimpinan sehari-hari akan meningkatkan “Readiness to lead” kita, maka ketika kesiapan mencukupi, peluang kepemimpinan untuk memimpin pada tingkat berikutnya datang dengan sendirinya. Trust me, it works!

Artikel selanjutnya kita akan membahas tentang Leader’s Behavior yang menjelaskan dan menjawab pertanyaan “Apa sih yang dilakukan pemimpin sehari-hari””?”

Selamat Memimpin Perubahan,

TiTuS Permadi

General Manager Human Resources & Gen. Affairs

THAMRIN GROUP – Palembang

M: 0878 5577 8882

wps5AF0.tmp

Artikel sebelumnya:

  1. Kepemimpinan ala BODREX, solusi jitu abad ke 21
  2. Kepemimpinan ala PHILIPS, terus terang terang terus
  3. The REXONA Way: Freshing Smell Leadership Today
  4. Life is SO NICE, Be A So Nice Leader
  5. Kepemimpinan ala RINSO, Nggak ada noda ya nggak belajar
  6. Kepemimpinan ala Telkomsel 4G LTE : Magnet Strategis Pengelolaan SDM Masa Depan
  7. Kepemimpinan ala Pegadaian
  8. Wavin: Filosofi Kepemimpinan ala Bengawan Solo
  9. Memimpin Seperti Teh Botol Sosro, Mengelola Seperti Indomie
  10. Kepemimpinan ala Kopi Kapal Api, Jelas Lebih Enak
  11. Kepemimpinan bergoyang ala “All About The Bass” Meghan Trainor
  12. L-Men Six Pack Leadership Secret

From Local to Global Competitiveness in MEA ERA

MEA – Masyarakat Ekonomi Asia adalah peluang bagi SDM Indonesia

Jumat, 13 Mei 2016 yang lalu, bertempat di Hotel Amaris Palembang, digelar sebuah forum seminar yang diprakarsai oleh ONE HR INDONESIA – www.onehrindonesia.org – sebuah komunitas non profit dari para professional dan praktisi HR di Indonesia yang berkumpul dengan tujuan utama untuk meningkatkan kompetensi para profesional dan praktisi HR pada khususnya dan memajukan praktek pengembangan SDM dan Organisasi pada umumnya di Indonesia.

Dengan dukungan media partner dari Kompas Gramedia, acara ini menghadirkan 4 (empat) pembicara dari berbagai perusahan dari lintas industri:

13 MeiPambudi Sunarsihanto, HR Director Citibank Indonesia

Sandra Kosasih, HC Managing Director Sinar Mas Land

A. Miftahuddin Amin, HR&Corp Affairs Director PT TELPP

Titus Permadi Setiawan,  HR&GA Thamrin Brothers

Para pembicara menyajikan pentingnya meningkatkan kompetensi SDM dalam menghadapi MEA (Masyarakat Ekonomi Asia) yang tidak perlu dipahami sebagai momok yang menakutkan namun sebaliknya harus dimengerti sebagai peluang bagi SDM Indonesia untuk bersaing secara sehat dan merebut peluang yang ada di dalamnya.

Meskipun para pembicara mewakili perusahaan dan latar belakang industri yang berbeda dan bahkan baru saling kenal dalam forum ini, namun uniknya materi yang disajikan saling sambung menyambung yang mengokohkan keyakinan mereka bahwa SDM Indonesia mampu bersaing dan memanfaatkan peluang MEA secara maksimal.

Beberapa poin penting yang harus dipersiapkan oleh SDM di antaranya adalah mindset bahwa MEA adalah lebih merupakan peluang daripada ancaman, kompetensi kepemimpinan, kompetensi teknis di berbagai termasuk kompetensi dalam HRIS (Human Resource Information System) serta membangun jejaring bisnis yang luas.

MEA Tribune News

Di balik layar

Berikut ini adalah beberapa foto yang menceritakan kebersamaan, persahabatan dan kecerian peserta dan pembicara. Hmmm, Indonesia banget ya ….

  

Gerhana Matahari di Indonesia, 9 Maret 2016

 

Gerhana

 

Hari ini kita ditegaskan bahwa bumi ini bergerak… semesta ini tak pernah diam… menyusuri perjalanan waktu.

 

Detik demi detik bergairah menyambut yang baru dan menyimpan yang lama sebagai kenangan rasa untuk pembelajaran…

 

Ia tak gentar menyambut misteri masa depan… ia tak memeluk erat bantal dan guling kenyamanannya.

 

Itulah sifat-sifat alam yang terus membaharu… sekiranya kita selaras dengan alam maka dengan hati riang kita menyambut perubahan.

 

Palembang, 9 Maret 2016

Info foto : Dari Koh Ahin