Kepemimpinan ala Telkomsel 4G LTE : Magnet Strategis Pengelolaan SDM Masa Depan

Kepemimpinan 4G LTE Telkomsel – Magnet Strategis Pengelolaan SDM Masa Depan

Teknologi Komunikasi generasi 4G LTE

https://youtu.be/qs-SjXoTvDs?t=10

Apakah teknologi 4G LTE itu.  4G LTE adalah teknologi jaringan internet super cepat generasi ke-empat berbasis Internet Protocol (IP) yang membuat proses transfer data jadi lebih cepat dan stabil. Lalu apa saja kelebihannya?

Kecepatan (Speed)

Jaringan internet super cepat 4G LTE mampu memberikan kecepatan download dan upload 3x lipat dibanding generasi sebelumnya.

Kemudahan

Jaringan internet super cepat 4G LTE bisa memudahkan kita dalam mengakses beragam aktivitas online dengan lebih efisien, seperti: File Sharing, Streaming Music, Video Call, Social Media.

Tantangan Generasi 4G LTE

Bagi para praktisi SDM seperti saya, saat ini sedang mengalami fenomena pengelolaan SDM yang cukup memusingkan kepala. Betapa tidak, saat ini kita sedang berpijak pada suatu momen dimana sedang terjadi transisi antar generasi yang ditunjang dengan platform dunia yang saling terkoneksi dan dipacu oleh keterbukaan serta akses komunikasi global antar sesama warga dunia. Seluruh penduduk dunia kini mempunyai kewarganegaraan tunggal dan bersama, melintasi batasan kewarganegaraan sebuah negara yang disebut dengan netizen.

Laju pertukaran lintas bangsa bukan hanya terjadi pada sektor barang dan jasa, modal, ilmu dan teknologi, tetapi sudah merambah kepada pertukaran gagasan dan informasi serta pertukaran SDM lintas negara pada derajat kompetensinya masing-masing secara masif, turbulen, dan fluid.

Selain banyak bermunculan usaha-usaha baru, maka organisasi-organisasi bisnis yang mapan sedang mengalami transisi kepemimpinan dan kepemilikan dari generasi sebelumnya. Tak hanya regenerasi pada tingkat pemilik dan pimpinan tertinggi perusahaan, tetapi juga jajaran kepemimpinan dalam organisasi bisnis sedang mengalami transisi di tengah turbulensi ekonomi yang penuh kejutan dan hentakan.

Maka jajaran pucuk pimpinan manajemen yang saat ini didominasi oleh Generasi X akhir — yang saat ini ada di puncak kematangannya pada usia kisaran 38-45 tahunan, akan harus diestafetkan kepada pemimpin dari Generasi Y awal — yang pada masa ini memasuki masa puncak kedewasaannya di usia 30-38 tahun, dengan warna kinerja yang produktif, kreatif, tangkas, agresif, ambisius dan netizen banget seperti: always connected, status updated, sosical media sharing, selfie mania.

Dengan demikian maka sistem, gaya, teknik dan pendekatan pengelolaan SDM sedang memasuki masa yang subur untuk menemukan terobosan pengelolaan SDM gaya baru. Selanjutnya pada dimensi kepemimpinan dalam organisasi, maka gaya, teknik, pendekatan, serta teknologi kepemimpinan perlu menyesuaikan diri dengan audiens kepemimpinan yang mulai didominasi oleh generasi milenial ini. Sebuah generasi mapan berkecukupan, kaya informasi dan pengetahuan, namun cenderung kurang sabaran dan inginnya serba instant.

Pola realita hukum pertanian, yaitu: siapkan lahan, tabur benih, tanam dan siangi, lalu panen dan jual, tidak terlalu mereka pedulikan, karena mereka sejak kecil terbiasa dengan pola serba instan berbasis teknologi, seperti: pencet tombol, menyala lalu tayangan muncul, interaksi pencet sana pencet sini, lalu ganti gadget karena yang baru dan berteknologi lebih maju telah hadir dengan harga lebih murah dan fitur lebih lengkap.

Adu Kuat Pancaran Kepemimpinan

Dengan maraknya teknologi, dengan terhubungnya hampir semua orang sejagat raya ini, maka sosok kemimpinan seseorang, tak lagi mudah disembunyikan. Pada sisi yang lain, tak lagi sulit bagi seorang pemimpin mengekspresikan jati diri (leader’s identity) dan terpaan kepemimpinannya (leadership exposure) melalui berbagai media sosial,  tempat berkumpulnya para netizen dalam segmen-nya yang relevan.

Sosial media telah terbukti menjadi determinan faktor terpilihnya presiden di Indonesia dan Amerika. Simak saja kisah kampanye Jokowi dan Barack Obama, bahkan Sinta dan Jojo dengan “Keong Racun”nya serta Briptu Norman dengan “Chaiyya chaiyya” terkenal gara-gara sosial media Youtube.

Alasan utama karyawan meninggalkan perusahaan. Alasan pertama mengapa karyawan meninggalkan sebuah organisasi begitu saja, penyebabnya bukan karena pembayaran paket yang tidak memuaskan. Akan tetapi sebaliknya, kepemimpinan yang tidak efektif yang menyebabkan sebagian besar staf untuk bangun dan pergi meninggalkan organisasi /perusahaan.

Mengacu pada jajak pendapat Gallup lebih dari satu juta pekerja meninggalkan organisasi oleh karena tidak efektifnya pola kepemimpinan di organisasinya. “Orang atau karyawan meninggalkan manajer bukan perusahaan, yang inti dari semua masalah ada pada pola kepemimpinannya,” tulis Gallup dalam temuan surveinya.

Esensi Kepemimpinan 4G LTE

4G LTE (To Get-Grow-Give-Gather Leadership Talent Engagement). Beberapa saat yang lalu, kesimpulan saya tiba pada pengertian bahwa kepemimpinan itu adalah perwujudan dari 4G; to get, to give, to grow dan together. Saya menyebutnya 4G Leadership.

To Get adalah konsep kepemimpinan yang memahami kepemimpinan sebagai salah satu cara untuk memperoleh sesuatu, sebuah proses transaksional antara pemimpin dan pengikut, antara pemimpin dengan para pemangku kepentingan di sekelilingnya.

To Give adalah konsep kepemimpinan yang memahami kepemimpinan sebagai salah satu perwujudan pemimpin untuk menghadirkan dirinya bagi orang-orangnya. Seorang pemimpin tulus memberikan manfaat kepemimpinan bagi orang-orangnya.  Ia memberikan pikirannya untuk memajukan orang-orangnya, ia memberikan waktunya untuk memberi kesempatan orang-orangnya belajar darinya. Ia memberikan hatinya untuk peduli kepada perbaikan nasib orang-orangnya. Pemimpin yang menjalankan konsep memberi telah tiba pada pemahaman tentang mentalitas keberlimpahan (abundant mentality).

To Grow adalah konsep kepemimpinan yang memandang bahwa pertumbuhan pribadi dan pertumbuhan kepemimpinan seorang pemimpin adalah hal utama yang menentukkan pertumbuhan organisasinya. Selain menjaga tingkat pertumbuhan dirinya melaju pada kecepatan dan momentum yang sehat, pemimpin juga menstimuli pertumbuhan orang-orangnya pada tingkat pertumbuhan yang sehat.

To-Gether adalah konsep kepemimpinan yang mempersatukan seluruh komponen dalam keharmonisan tujuan bersama. Meskipun keunikan masing-masing pribadi mendapat tempatnya, namun kebersamaan bermain dalam sebuah harmoni dijalankan secara disiplin oleh seluruh komponen organisasi. Memimpin layaknya mengatur sebuah orkestra.

Kepemimpinan sebagai berkat abadi. Kepemimpinan sebagai berkat abadi memahami kepemimpinan sebagai bentuk saluran berkat secara timbal balik dari pemimpin melalui segala interaksi dirinya dengan orang-orangnya.

Pemimpin menjadikan dirinya sebagai berkat bagi orang-orangnya. Meskipun ia tegas menjalankan peran dan kewenangannya, ia tidak meraja di atas mereka.
Pemimpin memandang orang-orang di sekelilingnya sebagai berkat dan bukan beban baginya, kebaikan yang terjadi pada orang-orangnya adalah tujuannya dan bukan sebaliknya orang-orangnya adalah sarana pencapaian tujuan pribadinya.

Kepemimpinan adalah soal posisional sekaligus relasional, kepemimpinan adalah soal investasi dan produksi, kepemimpinan adalah soal pemikiran dan praktek, kepemimpinan adalah mindset dan juga behavior, kepemimpinan adalah soal menjadi (becoming) dan berubah (transforming).

Leadership Talent Engagement Magnet Strategis SDM Masa Depan

Bila penelitian Gallup telah menemukan bahwa faktor kepemimpinan adalah akar masalah dari kaburnya orang-orang terbaik dari organisasi Anda, maka kebalikannya pun benar demikian, bahwa Kepemimpinan yang terkelola baik, akan menjadi magnet perekat bagi orang-orang terbaik tinggal di dalam organisasinya.

Pertanyaannya adalah: Apakah saya sudah menjadi pemimpin yang baik untuk orang-orang saya sehingga mereka betah bekerja bersama dalam organisasi yang saya pimpin ini? Apakah saya sudah menjadi seorang pemimpin yang inspiratif bagi mereka, sehingga laju produktifitas mereka semakin tinggi, kinerja mereka melesat dan kepuasan kerja mereka meningkat?

Setiap hari, seorang pemimpin yang terbarukan…tampil dengan sebuah diri yang baru… sebuah syarat dan kepantasan untuk mengemban tugas mewujudkan pembaharuan.

Pemimpin yang mempersiapkan diri…harapan perubahan bagi jamannya

Orang zaman dahulu yang hendak menggemilangkan Kebajikan yang Bercahaya itu pada tiap umat di dunia,
Ia lebih dulu berusaha mengatur negerinya ;
Untuk mengatur negerinya,
Ia lebih dulu membereskan rumah tangganya ;
Untuk membereskan rumah tangganya,
Ia lebih dulu membina dirinya ;

Untuk membina dirinya,
Ia lebih dulu meluruskan hatinya ;
Untuk meluruskan hatinya,
Ia lebih dulu memantapkan tekadnya ;
Untuk memantapkan tekadnya,
Ia lebih dulu mencukupkan pengetahuannya dan
Untuk mencukupkan pengetahuannya,
Ia meneliti hakikat tiap perkara.

Dengan meneliti hakikat tiap perkara,
maka cukuplah pengetahuannya ;
Dengan cukup pengetahuannya,
akan dapat memantapkan tekadnya ;
Dengan memantapkan tekadnya,
akan dapat meluruskan hatinya ;
Dengan hati yang lurus,
akan dapat membina dirinya sehingga dapat membereskan rumah tangganya dan setelah itu mengatur negaranya sehingga tercapailah damai di dunia.

Karena itu, dari raja sampai rakyat jelata,
ada satu kewajiban yang sama yaitu mengutamakan pembinaan diri sebagai pokok.
Adapun dari pokok yang kacau itu tidak pernah dihasilkan penyelesaian yang teratur baik,
karena hal itu seumpama : menipiskan benda yang seharusnya tebal dan menebalkan benda yang seharusnya tipis.
Hal ini adalah sesuatu yang belum pernah terjadi.

Selamat Memimpin Perubahan,

TiTuS Permadi

Artikel sebelumnya:
1.Kepemimpinan ala BODREX, solusi jitu abad ke 21. https://tituspermadi.wordpress.com/2015/03/13/kepemimpinan-ala-bodrex-solusi-jitu-abad-ke-21/
2.Kepemimpinan ala PHILIPS, terus terang terang terus. https://tituspermadi.wordpress.com/2015/03/14/kepemimpinan-ala-philips/
3.The REXONA Way: Freshing Smell Leadership Today   https://tituspermadi.wordpress.com/2015/05/31/the-rexona-way/
4.Life is SO NICE, Be A So Nice Leader. https://tituspermadi.wordpress.com/2015/06/24/life-is-so-nice-be-so-nice-leader/
5.Kepemimpinan ala RINSO, Nggak ada noda ya nggak belajar. https://tituspermadi.wordpress.com/2015/06/28/kepemimpinan-ala-rinso-nggak-ada-noda-ya-nggak-belajar/

<

p align=”justify”>Sumber kajian:
1.Situs Resmi Telkomsel, http://internet.telkomsel.com/4g-lte/about
2.Blog Ashev-Chenko, http://ashev-chenko.blogspot.com/2011/04/orang-orang-indonesia-yang-jadi-tenar.html
3.Blog Human Capital Jurnal, http://humancapitaljournal.com/kenapa-karyawan-meninggalkan-pemimpin-bukan-organisasi/
4.Kitab Ajaran Besar (Thay Hak) dari literatur klasik Cina. http://kata-kata-mutiara.org/kata-kata-bijak/kata-kata-bijak-confucius-2/
5.Sanggahan: sumber-sumber kajian diperoleh dari internet, diakses pada tanggal 28 Juni 2015. Hak cipta dan merek pada masing-masing pemilik hak dan merek. Hak cipta dan merek dilindungi undang-undang. Kutipan pada tulisan ini digunakan untuk keperluan pengetahuan dan bukan untuk tujuan komersial. Sumber rujukan diberikan sebagai respek kepada pemegang hak dan merek masing-masing.

Kepemimpinan ala RINSO: Nggak ada noda, ya nggak belajar

Kepemimpinan di Rinso aja – Nggak ada noda ya nggak belajar

Tumbuh Dewasa memang Berantakan

Simak pendapat dari RINSO berikut ini: Kami percaya bahwa sifat berani kotor itu baik untuk anak-anak. Tanpa menjadi kotor, mereka tidak mendapatkan pengalaman yang sebenarnya. Kotor adalah tanda dari adanya petualangan, menjalani dan belajar dari kehidupan. . . . .

Terlebih lagi, sebagai orangtua Anda memahami bahwa setiap kali mereka datang dengan noda dan kotoran di pakaiannya, itu artinya mereka juga datang dengan pengalaman baru. . . . . .

Nggak ada noda ya nggak belajar….demikianlah keyakinan dari Rinso tentang proses belajar anak-anak.

Lalu, bagaimana dengan orang dewasa, bagaimana dengan pemimpin? Bagaimana proses belajar mereka? Apa saja noda kotor dalam pembelajaran kepemimpinan mereka? Dengan sabun cuci apa noda pembelajaran ini akan dibilas bersih?

Pengalaman: Metode belajar terbaik bagi Pemimpin

Manusia belajar, bertumbuh, mendewasa dan efektif melalui berbagai peristiwa dan keadaan. Pertama mereka belajar melalui kebenaran (truth), mereka belajar membuat keputusan untuk berperilaku sesuai kebenaran atau berperilaku yang bertolak belakang dengan kebenaran. Pada peristiwa-peristiwa inilah otot-otot kepribadian pemimpin berkesempatan untuk berkembang, diantaranya: displin, komitmen, konsistensi, keteguhan, ketegaran, dan prioritas.

Yang kedua, mereka bertumbuh dengan cara menyelesaikan satu persatu persoalan (trouble) yang hadir di hadapannya. Bila ia membalikkan punggung dan berlari dari persoalannya, maka ia berhenti bertumbuh mendewasa. Di sinilah kesempatan untuk ketrampilan membuat keputusan, memeriksa akar persoalan, dan pemecahan masalah bertumbuh subur.

Ketiga, mereka semakin matang setelah lolos melalui ujian godaan (temptation) yang memaksa mereka jujur pada dirinya sendiri, pada nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang ia junjung tinggi.

Peristiwa-peristiwa kehidupan akan membuatnya terpojok untuk menguji ketahanan dan ketegarannya bersiteguh pada prinsipnya atau berkompromi sehingga kehilangan makna dirinya. Ini adalah bentuk ujian yang sangat pribadi, personal dan privasi. Disarikan dari buku “The Purpose Driven Life” karya Rick Warren.

Warren Bennis, pakar kepemimpinan dunia mengatakan demikian dalam bahasa aslinya, “Taking charge of your own learning is a part of taking charge of your life, which is the sine qua non in becoming an integrated person. . . . . Becoming a leader is synonymous with becoming yourself. It is precisely that simple, and it is also that difficult. . . . . Leaders learn by leading, and they learn best by leading in the face of obstacles. As weather shapes mountains, problems shape leaders.”

5 Dimensi Pembelajaran Pemimpin Yang Utuh

Dalam perjalanan belajarnya, seorang pemimpin mengasah dimensi kepemimpinannya pada area kognitif, afektif, behavioral, sosial dan spiritual.

Menjadi seorang pemimpin yang efektif tak cukup berbekal IQ (intelectual quotient) yang tinggi, ia harus disertai dengan EQ (emotional quotient) yang memadai. Tak lupa juga ia harus melatih SQ (spiritual quotient) yang sejati, dan tak ketinggalan pula PQ (physical quotient) sebagaimana yang diajarkan oleh Hermawan Kartajaya dalam “WOW Leadership: Kepemimpinan yang menggerakkan pikiran, perasaan serta spirit kemanusiaan.”

Manfaat belajar bagi pemimpin

Dengan belajar maka kapabilitas kepemimpinan seseorang semakin luas dan dengan demikian kesiapan memimpinnya berada dalam kondisi puncak (leadership readiness). Tugas seorang pemimpin adalah membawa perubahan bagi organisasinya, oleh sebab itu hanya dengan kesiapan mental yang cukup, kecerdasan kognitif yang siap, aspek kognitif yang terlatih, spiritualitas yang telah menemukan jati dirinya dan perilaku yang telah dibiasakan, serta kepekaan nurani yang semakin tajam, maka kemungkinan keberhasilan transformasi organisasi yang dipimpinnya akan tercipta.

Kembali pada pelajaran dari Rinso: Nggak ada noda ya nggak belajar, hal ini dapat menjadi inspirasi bagi pemimpin untuk menumbuhkembangkan budaya belajar di dalam dirinya dan di dalam orang-orangnya dengan cara berani menerima tanggungjawab, berani mengambil inisiatif perubahan dan perbaikan, menerima seluruh feedback sebagai titik berangkat improvement selanjutnya.

Selamat me-Rinso-kan Kepemimpinan Anda: Nggak ada noda ya nggak belajar.

Salam kepemimpinan.

TiTuS Permadi

Sumber inspirasi:

https://id.wikipedia.org/wiki/Rinso

http://izquotes.com/quote/338020

https://www.rinso.co.id/produk-rinso/

<

p align=”justify”>https://www.facebook.com/RinsoIndonesia/posts/508069335919406

Life is So Nice, Be So Nice Leader

Mengalami hidup yang bahagia, menjalani hidup yang menyenangkan adalah dambaan setiap orang. Kita semua hidup untuk mengejar suatu tujuan, bahkan kita hidup untuk memenuhi suatu tujuan dari keberadaan kita, demikian kata Rick Warren dalam bukunya “The Purpose Driven Life: What on Earth Am I Here For?” – www.purposedriven.com.

Ada banyak hal yang membuat hidup ini sedemikian menyenangkan

Sinar pagi yang cerah, udara yang sejuk, bunga-bunga yang indah di taman, pesisir pantai putih yang menakjubkan, pegunungan yang asri dan menyegarkan. Teman-teman yang hari ini menyapa melalui Sosial Media yang tergenggam dalam gadget kita. Wow, hidup ini demikian indah dan menyenangkan.

Pemimpin hadir bersama kita untuk membawa kehidupan yang lebih baik bagi semua, hidup yang begitu menyenangkan. Kepemimpinan adalah sesuatu yang menyenangkan, simaklah apa yang dianjurkan oleh Shar McBee dalam eksplorasinya tentang kegembiraan dalam kepemimpinan, dalam situsnya “The Joy of Leadership” – www.joyofleadership.com.

Sangat jarang orang bersedia memimpin, oleh sebab itu sangat jarang pula yang mengetahui rahasia dari kegembiraan menjalani kepemimpinan dalam hidupnya. Mulailah hari ini untuk mengalami hidup yang menyenangkan dengan menjadi pemimpin yang menyenangkan. Simaklah fakta-fakta berikut yang dimotori oleh Arianna Huffington sebagai “3rd Metrics

  • 20 sampai 30 persen kinerja bisnis dipengaruhi oleh suasana hati (mood) karyawan-karyawannya dan salah satu penentu suasana hati mereka adalah…..Ya tepat sekali….itu Anda sebagai pemimpin mereka.
  • Hasil penelitian mengungkapkan bahwa dengan memberi kesempatan kepada karyawan untuk melakukan pekerjaan yang menjadi tanggungjawabnya dengan cara terbaik mereka akan meningkatkan keterlibatan (engagement), melipatgandakan produktifitas, dan menghasilkan kepuasan konsumen.
  • Hubungan yang baik di tempat kerja akan menurunkan tingkat stress dan menaikkan kenyamanan bekerja, jadi setiap hari luangkan waktu sejenak untuk menyapa anak buah dan kolega Anda dengan mengucapkan terima kasih atas kerja keras mereka hari ini.
  • Jadikanlah kepemimpinan sebagai salah satu peran dalam hidup yang paling bermakna bagi Anda. Pemimpin adalah pengubah nasib bagi dirinya dan bagi orang di sekelilingnya – Simaklah “PERMANIN Transformative Leadership Mix Model versi 1.0” dari Tanri Abeng dan Titus Permadi. www.sumsel.permanin.com
Lalu apa yang harus saya lakukan agar hidup hari ini menyenangkan?

Saran saya, pergilah segera ke supermarket, beli dan makanlah So Nice yang akan menjadikan hidup Anda menyenangkan – Life is So Nice – karena Anda adalah seorang pemimpin yang menyenangkan – Leadership Make It You A Nice Leader. Have a nice sosis….So Nice.

Sumber rujukan:
http://www.huffingtonpost.com/michelle-mcquaid/5-ways-leaders-can-use-th_b_4972397.html
http://sumsel.permanin.com/permanin-transformative-leadership-mix-model/
https://www.emergenetics.com/blog/happiness_in_leadership/

Saat kita menanam padi, rumput ikut tumbuh, tapi saat kita menanam rumput tidak pernah tumbuh padi. Dalam melakukan kebaikan, kadang-kadang hal-hal yang buruk turut menyertai. Tapi saat melakukan keburukan, tidak ada kebaikan bersamanya.

Ketika belum dikenali, resiko dihindari. Setelah dipahami dan dimengerti menjadi kawan bersenda gurau.

15 ke depan dan belakang

ketika dijalani dan dijalankan dengan benar, hidup ini menghasilkan yang benar. Kompasnya adalah kepemimpinan, petanya adalah pengelolaan, “self-regulator”-nya adalah “learning” sementara “checking point”-nya adalah pertanyaan… saat ini saya sedang seberapa benar?