Kepemimpinan ala RINSO: Nggak ada noda, ya nggak belajar

Kepemimpinan di Rinso aja – Nggak ada noda ya nggak belajar

Tumbuh Dewasa memang Berantakan

Simak pendapat dari RINSO berikut ini: Kami percaya bahwa sifat berani kotor itu baik untuk anak-anak. Tanpa menjadi kotor, mereka tidak mendapatkan pengalaman yang sebenarnya. Kotor adalah tanda dari adanya petualangan, menjalani dan belajar dari kehidupan. . . . .

Terlebih lagi, sebagai orangtua Anda memahami bahwa setiap kali mereka datang dengan noda dan kotoran di pakaiannya, itu artinya mereka juga datang dengan pengalaman baru. . . . . .

Nggak ada noda ya nggak belajar….demikianlah keyakinan dari Rinso tentang proses belajar anak-anak.

Lalu, bagaimana dengan orang dewasa, bagaimana dengan pemimpin? Bagaimana proses belajar mereka? Apa saja noda kotor dalam pembelajaran kepemimpinan mereka? Dengan sabun cuci apa noda pembelajaran ini akan dibilas bersih?

Pengalaman: Metode belajar terbaik bagi Pemimpin

Manusia belajar, bertumbuh, mendewasa dan efektif melalui berbagai peristiwa dan keadaan. Pertama mereka belajar melalui kebenaran (truth), mereka belajar membuat keputusan untuk berperilaku sesuai kebenaran atau berperilaku yang bertolak belakang dengan kebenaran. Pada peristiwa-peristiwa inilah otot-otot kepribadian pemimpin berkesempatan untuk berkembang, diantaranya: displin, komitmen, konsistensi, keteguhan, ketegaran, dan prioritas.

Yang kedua, mereka bertumbuh dengan cara menyelesaikan satu persatu persoalan (trouble) yang hadir di hadapannya. Bila ia membalikkan punggung dan berlari dari persoalannya, maka ia berhenti bertumbuh mendewasa. Di sinilah kesempatan untuk ketrampilan membuat keputusan, memeriksa akar persoalan, dan pemecahan masalah bertumbuh subur.

Ketiga, mereka semakin matang setelah lolos melalui ujian godaan (temptation) yang memaksa mereka jujur pada dirinya sendiri, pada nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang ia junjung tinggi.

Peristiwa-peristiwa kehidupan akan membuatnya terpojok untuk menguji ketahanan dan ketegarannya bersiteguh pada prinsipnya atau berkompromi sehingga kehilangan makna dirinya. Ini adalah bentuk ujian yang sangat pribadi, personal dan privasi. Disarikan dari buku “The Purpose Driven Life” karya Rick Warren.

Warren Bennis, pakar kepemimpinan dunia mengatakan demikian dalam bahasa aslinya, “Taking charge of your own learning is a part of taking charge of your life, which is the sine qua non in becoming an integrated person. . . . . Becoming a leader is synonymous with becoming yourself. It is precisely that simple, and it is also that difficult. . . . . Leaders learn by leading, and they learn best by leading in the face of obstacles. As weather shapes mountains, problems shape leaders.”

5 Dimensi Pembelajaran Pemimpin Yang Utuh

Dalam perjalanan belajarnya, seorang pemimpin mengasah dimensi kepemimpinannya pada area kognitif, afektif, behavioral, sosial dan spiritual.

Menjadi seorang pemimpin yang efektif tak cukup berbekal IQ (intelectual quotient) yang tinggi, ia harus disertai dengan EQ (emotional quotient) yang memadai. Tak lupa juga ia harus melatih SQ (spiritual quotient) yang sejati, dan tak ketinggalan pula PQ (physical quotient) sebagaimana yang diajarkan oleh Hermawan Kartajaya dalam “WOW Leadership: Kepemimpinan yang menggerakkan pikiran, perasaan serta spirit kemanusiaan.”

Manfaat belajar bagi pemimpin

Dengan belajar maka kapabilitas kepemimpinan seseorang semakin luas dan dengan demikian kesiapan memimpinnya berada dalam kondisi puncak (leadership readiness). Tugas seorang pemimpin adalah membawa perubahan bagi organisasinya, oleh sebab itu hanya dengan kesiapan mental yang cukup, kecerdasan kognitif yang siap, aspek kognitif yang terlatih, spiritualitas yang telah menemukan jati dirinya dan perilaku yang telah dibiasakan, serta kepekaan nurani yang semakin tajam, maka kemungkinan keberhasilan transformasi organisasi yang dipimpinnya akan tercipta.

Kembali pada pelajaran dari Rinso: Nggak ada noda ya nggak belajar, hal ini dapat menjadi inspirasi bagi pemimpin untuk menumbuhkembangkan budaya belajar di dalam dirinya dan di dalam orang-orangnya dengan cara berani menerima tanggungjawab, berani mengambil inisiatif perubahan dan perbaikan, menerima seluruh feedback sebagai titik berangkat improvement selanjutnya.

Selamat me-Rinso-kan Kepemimpinan Anda: Nggak ada noda ya nggak belajar.

Salam kepemimpinan.

TiTuS Permadi

Sumber inspirasi:

https://id.wikipedia.org/wiki/Rinso

http://izquotes.com/quote/338020

https://www.rinso.co.id/produk-rinso/

<

p align=”justify”>https://www.facebook.com/RinsoIndonesia/posts/508069335919406

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s