Wavin: Filosofi Kepemimpinan ala Bengawan Solo

Gesang dan Bengawan Solo, Keindahan Dalam Kepemimpinan

Kepemimpinan adalah ekspresi dalam berbagai sentuhan dan pijakan. Ia adalah soal posisi tapi juga relasi, ia adalah soal manusia tapi juga situasional, ia adalah ilmu tapi juga seni.

Mari kita simak bagaimana Gesang mengisahkan kekagumannya pada keindahan Sungai Bengawan Solo dalam karya seni berjudul “Bengawan Solo”.

Bengawan Solo … Riwayatmu ini

Sedari dulu jadi ..  Perhatian insani

Musim kemarau … Tak s’brapa airmu

Di musim hujan air … Meluap sampai jauh

Mata airmu dari Solo, Terkurung gunung seribu

Air meluap sampai jauh, Akhirnya ke laut

Itu perahu …. Riwayatmu dulu

Kaum pedagang selalu …. Naik itu perahu

Filosofi Air, Pancaran Kepemimpinan Yang Cair

Air telah menjadi menjadi sumber inspirasi untuk membentuk sifat dan perilaku pemimpin yang efektif. Simaklah kisah Ramayana yang menceritakan adegan dimana Sri Rama memberikan wejangan ajaran kepemimpinan Astabrata kepada Wibhisana sebagai Raja Alengka Pura menggantikan kakaknya Rahwana.

Seorang pemimpin hendaknya mengikuti sifat-sifat Dewa Indra yaitu sebagai dewa hujan. Hujan adalah sumber kemakmuran, karena tanpa hujan tumbuh-tumbuhan tidak dapat hidup. Seorang pemimpin hendaknya seperti hujan yaitu senantiasa mengusahakan kemakmuran bagi rakyatnya dan dalam setiap tindakannya dapat membawa kesejukan dan penuh kewibawaan.

Inilah lakunya Hyang Indra yang hendaknya kau ambil. Ia mendatangkan hujan dan menentramkan dunia. Sifat dan lakunya Hyang Indra itulah hendaknya kau ambil, (kau turuti), hendaknya kamu menghujankan hadiah yang banyak hingga merata pada segenap rakyat.

Hal senada dapat dipetik dari ajaran Lao Tzu tentang kepemimpinan yang berguru juga pada filosofi air. Pemimpin yang bijaksana adalah seperti air. Dari mengamati gerakan air, pemimpin telah belajar bahwa dalam bertindak, waktu adalah segalanya. Seperti air pemimpin itu mengalah, karena pemimpin tidak memaksa, kelompok tidak membenci atau melawan.

Kepemimpinan yang dicerahkan adalah pelayanan, bukannya mementingkan diri sendiri. Pemimpin semakin bertumbuh dan tahan lebih lama dengan mengutamakan kesejahteraan semua orang ketimbang kesejahteraan diri sendiri semata-mata.

Kecerdikan tertinggi adalah seperti air; air itu cerdik memberikan faedah kepada segala benda tanpa  berebutan dengannya, berdiam pada tempat yang tidak disukai orang, maka dengan demikian mendekati “Jalan”. Cerdik memilih kediaman yang rendah , cerdik menenangkan hatinya, cerdik menjalankan perikemanusiaan, cerdik dengan kejujuran, cerdik memerintah dengan aturan, cerdik menggunakan kemampuan dalam urusannya, cerdik menunggu waktu dalam gerakkannya. Justru karena tidak berebutan, maka tidak membuat kesalahan.

Pemimpin yang bijaksana puas dengan hasil kerja yang baik lalu membiarkan yang lain tampil. Pemimpin tidak mencari nama atas apa yang terjadi dan tidak butuh ketenaran. Kepemimpinan yang tidak menyimpang meliputi:

a) Belajarlah untuk memimpin dengan cara yang memupuk (bukan mendasarkan diri pada hukum transaksi, tetapi pada hukum tabur, siangi, tuai),

b) Belajarlah untuk memimpin tanpa bersikap posesif (kewenangan memimpin dimengerti sebagai sebuah jalan mengabdi pada kepentingan rakyat untuk membayar hutang kepada kebaikan Tuhan dan alam yang sudah memberkati manusia dengan segala kemudahan),

c) Belajarlah untuk membantu tanpa mencari nama (berbuatlah demi sebuah transformasi ganti berbuat demi sebuah transaksi),

d) Belajarlah memimpin tanpa memaksa (galanglah partisipasi sebagai ganti instruksi).

Sementara itu, Patih Gajah Mada, dalam ajaran kepemimpinannya “Asta Dasa Kotamaning Prabu” diantaranya mengganggas prinsip kepemimpinan yang mengadopsi filosofi air seperti:

a) Sarjawa Upasama. Seorang pemimpin harus rendah hari, tidak boleh sombong, congkak mentang-mentang menjadi pemimpin dan tidak sok berkuasa.

b) Prasaja. Seorang pemimpin harus berpola hidup sederhana (Aparigraha), tidak berfoya-foya atau serba gemerlap.

c) Abikamika. Pemimpin harus tampil simpatik, berorientasi kebawah dan mengutamakan kepentingan rakyat banyak dari pada kepentingan pribadi atau golongan.

Sosial Media, Pancaran Kepemimpinan Mengalir Sampai Jauh

Kepemimpinan adalah soal perilaku, demikian kata Kouzes & Posner dalam bukunya “Leadership Challenge”. Karena kepemimpinan adalah perilaku, maka ia bermula dari sebuah gagasan tentang kepemimpinan. Gagasan kepemimpinan adalah sebuah pesan yang dapat diteruskan dari satu orang ke orang lainnya, dari pemimpin kepada pengikut.

Salah satu film kesukaan saya adalah “300” yang mengisahkan pertempuran Raja Leonidas bersama 300 pasukannya dari Sparta melawan pasukan Raja Xerxes yang berjumlah 170.000 orang. Kisah ini berakhir dengan tewasnya Raja Leonidas akibat pengkhianatan orangnya. Sebelum pertempuran finalnya, Leonidas mengutus salah seorang kaptenya yang bernama Dilios untuk pulang ke negaranya dengan misi untuk menceritakan kisah heroik dan patriotik Raja Leonidas beserta 300 pasukannya.

Melalui kisah yang dituturkan oleh Dilios kepada, setahun kemudian terbentuklah pasukan tempur berkekuatan 10.000 pasukan Sparta ditambah dengan 30.000 pasukan Yunani untuk menghadang invasi kedua yang dilakukan oleh Xerses, Raja Persia.

Di masa lalu komunikasi dengan metode komunikasi cerita tutur – tinular (kisah yang disebarkan dari mulut ke mulut) mampu menggelorakan semangat juang sebuah bangsa.

Maka, baru-baru ini petisi yang dilakukan oleh saudara Gilang Mahardhika, Yogyakarta di situs Change.org yang dimulai tanggal 1 Juli 2015, telah mendapat dukungan tandangan elektronik 100.000 orang dalam tiga hari dan pada hari keempat telah mencapai  103.738 orang.

Teknologi informasi telah memungkinkan penyebaran informasi dan penggalangan dukungan lebih dari 25 ribu orang per hari. Wow, luar biasa bukan? Semangat kepemimpinan, pengetahuan tentang kepemimpinan, wawasan tentang kepemimpinan, kisah sukses kepemimpinan adalah pesan-pesan kepemimpinan yang baik untuk diteruskan kepada banyak orang.

Gunanya sebagai bahan pembelajaran, sebagai inspirasi, sebagai sebuah literatur, sebagai sebuah ekspresi bagi para pemerhati dan pembelajar kepemimpinan lainnya. Media sosial dan teknologi informasi sudah nyata-nyata merupakan media komunikasi yang cepat, dahsyat, hemat dan berjangkauan luas.

Taburkanlah benih, agar pohon tumbuh.

Taburkanlah Benih Kepemimpinan, Agar Gerombolan Pemimpin Berikutnya Tumbuh. Konfusius yang hidup lima abad sebelum Masehi berkata : Jika rencana anda satu tahun, tanamlah padi, jika rencana anda sepuluh tahun, tanamlah pohon, namun jika rencana anda seratus tahun, didiklah manusia.

Kepemimpinan adalah perilaku, karena itu ia dapat dipelajari. Kepemimpinan adalah gagasan, karenanya ia dapat ditularkan. Kepemimpinan adalah sikap, karena itu dapat diteladankan. Kepemimpinan adalah karakter, karena itu ia sepantasnya dibentuk.

Tugas pemimpin adalah membereskan masalah, membangun kapabilitas organisasinya dan menumbuhkan pemimpin-pemimpin baru di sekelilingnya. Hal itu hanya terjadi ketika seorang pemimpin memutuskan untuk mengembangkan pemimpin-pemimpin baru melalui tangan kepemimpinannya, lalu menindaklanjuti keputusannya dan melangkah hari ini juga untuk mendidik setidaknya satu orang pemimpin potensial yang ada dalam jangkauannya.

Melalui artikel ini saya sudah melakukannya, bagaimana dengan Anda? Ayo bersama-sama menumbuhkan pemimpin-pemimpin baru di sekitar kita.

Wavin, dimana air mengalir sampai jauh

Dear leader, melalui jargon iklannya, Wavin menyentak kesadaran batin saya untuk mempertanyakan motif, makna, metode, model dan momentum kepemimpinan yang saya anut selama ini. Tidak ada yang salah dengan semua yang pernah saya pilih, namun sudut pandang untuk memahami kepemimpinan laksana air, nampaknya patut dipertimbangkan.

Kesederhanaan dalam mengemas pengetahuan kepemimpinan adalah salah satu bentuk yang ingin saya upayakan. Menyambungkan antara iklan-iklan yang terekam dalam top of mind menjadi salah satu jurus untuk memudahkan tersampaikannya gagasan-gagasan dan pengetahuan tentang kepemimpinan bagi para pembaca sekalian.

Sehingga, dengan waktu yang singkat dan memanfaatkan tautan (anchor) dalam memori yang sudah exist, sebuah konsep gagasan tentang kepemimpinan otomatis “nyanthol” dengan cepat dan mudah dalam benak pembaca. Karena gagasan kepemimpinan telah “ready in the mind”, maka siap untuk di-running menjadi sebuah behavior….sebuah perilaku kepemimpinan yang berdampak positif bagi orang-orang di sekeliling Anda…segera, seketika, singkat dan sampai.

Selamat Memimpin Perubahan,

TiTuS Permadi

General Manager Human Resources & Gen. Affairs

THAMRIN GROUP – Palembang

M: 0878 5577 8882 PinBB: 7CB8B896 update@munksiji.com

wps5AF0.tmp

Artikel sebelumnya:

1. Kepemimpinan ala BODREX, solusi jitu abad ke 21

2. Kepemimpinan ala PHILIPS, terus terang terang terus

3. The REXONA Way: Freshing Smell Leadership Today

4. Life is SO NICE, Be A So Nice Leader

5. Kepemimpinan ala RINSO, Nggak ada noda ya nggak belajar

6. Kepemimpinan ala Telkomsel 4G LTE : Magnet Strategis Pengelolaan SDM Masa Depan

7. Kepemimpinan ala Pegadaian

Sumber kajian:

1. Iklan Wavin, https://www.youtube.com/watch?v=xIAj66DeP18

2. Sanggahan: sumber-sumber kajian diperoleh dari internet, diakses pada tanggal 5 Juli 2015. Hak cipta dan merek pada masing-masing pemilik hak dan merek. Hak cipta dan merek dilindungi undang-undang. Kutipan pada tulisan ini digunakan untuk keperluan pengetahuan dan bukan untuk tujuan komersial. Sumber rujukan diberikan sebagai respek kepada pemegang hak dan merek masing-masing dan kepatuhan terhadap hukum yang mengatur dan melindungi hak cipta.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s