Memimpin Seperti Teh Botol Sosro, Mengelola Seperti Indomie

Ketika saya membagikan gagasan tentang kepemimpinan berjudul “Wavin: Filosofi Kepemimpinan ala Bengawan Solo” yang saya share di Sosmed Profesi – Linkedin.Com, seorang pembaca setia artikel saya menanggapinya demikian:

“Bagaimana pendapat bapak, apakah tugas pemimpin lebih ke mencegah atau mengantisipasi masalah ?

Lalu, saya berjanji kepadanya untuk menjawabnya dengan tulisan berikutnya. Nah pembaca, konsisten dengan konsep sharing saya yaitu “enjoy in leadership learning  through top of mind advertising in your ready mind” maka saya kaitkan pula dengan Teh Botol SOSRO dan Indomie. Inilah jawaban untuk pembaca setia tulisan saya.

Anda: “Aduh cape deh pa Titus… Kenapa iklan lagi dan kenapa makanan lagi…?”

Saya: “Ho ho ho, ada pepatah berkata, tanpa logistik tidak ada solusi, maka silahkan siapkan Indomie dan Teh Botol Sosro sambil membaca kelanjutannya. Okay?”

Memimpin seperti Teh Botol Sosro

Bila ingat teh botol SOSRO, saya juga ingat kalimat ini “Apapun makanannya, minumnya teh botol SOSRO”. Entah berapa kali pikiran saya diterpa tayangan iklan ini sehingga saya selalu mengingatnya dan bila sedang makan di tempat makan, teh botol SOSRO pun ikut dipesan.

 Makanan adalah sumber energi manusia, lalu menyertainya dengan minum sebagai penutup membuat mulut terasa segar. Kenyang, mantap dan lega. Demikian juga dalam organisasi selalu hadir makanan setiap hari.

Di dalam tugasnya sebagai seorang pemimpin, maka organisasinya akan selalu menghadapi banyak persoalan untuk ia “telan”, untuk ia “makan”, untuk ia “bereskan”. Setiap masalah dalam organisasi hadir di setiap lini dan divisi. Nah itu dia, makanan bagi para pemimpin.

Departemen penjualan mengalami masalah turunnya penjualan dan gencarnya agresifitas dari kompetitor. Bagian marketing menghadapi masalah lemahnya branding produk dan citra perusahaan.  Bagian keuangan mengalami masalah cashflow, profitabilitas, likuiditas, solvabilitas dan opsi-opsi pendanaan. Bagian sumber daya manusia (SDM) berkutat dengan masalah menemukan orang yang tepat dan mengisi kompetensi karyawan yang masih dibawah standar.

Pada puncak yang tertinggi, sang CEO pusing menentukan pilihan akan dibawa ke mana perusahaan ini dan kapabilitas organisasi yang akan diperkuat agar sukses dan tetap eksis di kancah saing bisnis. Menanggapi berbagai masalah tersebut dibutuhkan suatu pemecahan masalah. Lalu, bagaimana kita bisa menemukan opsi-opsi pemecahan masalah?

Kunci pemecahannya adalah kepemimpinan. Semangat dan jiwa pemimpin yang harus bangkit dalam diri semua karyawan di setiap lini dan jenjang organisasi. Karena ada kepemimpinan yang menyala, maka rasa tanggungjawab hadir. Karena ada rasa tanggungjawab hadir, maka upaya-upaya dijalankan. Karena upaya-upaya dijalankan, maka solusi-solusi muncul.

Jim Collins yang mempublikasikan hasil penelitiannya tentang rahasia perusahaan yang berhasil, pada awalnya berusaha mati-matian menolak kepemimpinan sebagai faktor penting dalam keberhasilan perusahaan biasa menjadi perusahaan hebat (Good to Great). Dari awal Collins sudah berkali-kali berpesan kepada tim risetnya untuk tidak memperdulikan faktor pemimpin dalam mencari kunci sukses perusahaan. Ia sadar bahwa kepemimpinan memang cenderung diromantisir, yaitu kalau perusahaan sukses, itu pasti karena pemimpinnya, demikian juga kalau gagal.

Namun setiap kali menganalisa tumpukan data-data riset yang menggunung, mau tidak mau mereka menemukan bahwa kepemimpinan adalah faktor yang krusial dalam menentukan suksesnya perusahaan. Yang jauh lebih menarik adalah temuan bahwa pada semua perusahaan yang mereka teliti, yang telah mengalami terobosan transformative dalam kinerja dan mampu mempertahankan terus-menerus selama puluhan, bahkan ratusan tahun, ternyata memiliki pemimpin dengan dua karakteristik utama : Personal Humility dan Profesional Will. Kedua ciri ini menjadi paradox.

Pemimpin yang disebut Collins sebagai LeveL 5 Leaders ini adalah para pemimpin yang rendah hati, tidak pernah menyombongkan diri, bahkan cenderung pemalu. Mereka menunaikan tugas dengan diam-diam tanpa berupaya mencari perhatian dan pujian publik. Apabila ada keberhasilan mereka selalu berusaha memberi kredit kepada orang lain atau hal lain diluar diri mereka. Apabila ada kegagalan, mereka bertanggung jawab secara pribadi dan tidak mencari kambing hitam. Ambisi mereka adalah untuk kelanggengan perusahaan, bukan penggemukan dan kepentingan diri.

Meskipun rendah hati, mereka juga dikenal sangat konsisten, tangguh, dan pantang menyerah dalam mencapai tujuan. Mereka membangun prinsip yang idealis dan mentaatinya dengan militan. Pendek kata, pemalu tapi pemberani, rendah hati namun militan.

Nah kepemimpinan jenis ini perlu hadir dalam organisasi Anda, sehingga inilah resepnya

“Apa pun makannya, minumnya teh botol SOSRO. Apa pun persoalannya, kepemimpinan SOLUSI nya.”

Mengelola Seperti Indomie

Bila ditanya, apa jargon iklan dari Indomie yang paling Anda ingat? Ya benar sekali “INDOMIE Seleraku”. Kalimat ini senantiasa hadir menyapa kita ketika kita menonton televisi. Mungkin tak hanya itu, bahkan di rumah saya, selalu ada persediaan Indomie dalam rasa favorit saya, Indomie Rasa Ayam Bawang.

Barangkali dapat dikatakan nyaris semua orang suka makan Indomie. Bahkan penelusuran saya melalui Om Google memberikan hasil yang mengejutkan. Amazon.COM pun menjual Indomie. Tidak percaya? Coba klik tautan ini:

http://www.amazon.com/Indomie-Mi-Goreng-Instant-Noodle/dp/B00HXIXWKM

Masih penasaran, maka saya pun bertanya pada sahabat Linkediners dalam jaringan saya. Berikut apa yang sahabat saya ingat tentang Indomie.

wpsDE4B.tmp

Baiklah, lalu apa hubungannya Indomie dengan kepemimpinan pak Titus? Nah itu dia, karena saya hobi makan, pasti apapun tentang kepemimpinan bisa disambungkan dengan makanan.

Begini ceritanya, ketika saya sempat bekerja di New Armada Magelang (PT Mekar Armada Jaya), saya belajar sesuatu yang penting di sana. Itu adalah tentang problem solving, pemecahan masalah. Sebagai sebuah perusahaan “autobody manufacturing dan stamping tools”, New Armada mensuplai memproduksi bodi mobil.

Seperti kebanyakan pabrikan mobil lainnya, salah satu tools problem solving yang diadopsi adalah Diagram Tulang Ikan Ishikawa atau sering dikenal dengan “fish bone”. Setelah masalah ditelusuri dengan pola ini, maka menjadi jelas sumber masalahnya apakah bersumber dari MAN (manusianya: ini bisa gara-gara SDM nya kurang terlatih, bisa jadi SOP nya tidak dijalankan dengan urutan yang benar), MATERIAL (bahan bakunya: bisa jadi mutu bahan bakunya di bawah standar, pengirimannya terlambat, handling nya dari gudang ke lini produksi mengalami gangguan, pengaturan di gudangnya tidak terawat sehingga mengalami kerusakan), METHOD (prosedur kerjanya: SOP tidak standar, standarisasi tidak ada), MACHINE (mesinya: rusak, tidak dirawat, layout mesinnya tidak ringkas).

Setelah diindentifikasi maka dibuatlah PICA (Problem Identification Counter Action) untuk membuat tindakan penanggulangannya. Setelah itu dibuat Standarisasinya, dibuat Strandar Operating Procedurenya (SOP) untuk mencegah berulangnya masalah.

Kembali ke Indomie, cobalah lihat kemasan bagian sebaliknya, di situ tertulis urutan atau prosedur memasak Indomie. Bila penasaran dan ingin mencoba membuat dengan urutan terbalik silahkan dirasakan sendiri hasilnya. Misalnya, panaskan panci, tuangkan bumbu, lalu masukkan mie dan tidak usah masukkan air sebanyak tiga gelas. Pasti hasilnya tidak sesuai yang diharapkan. Demikian juga SOP dalam organisasi adalah teknik mengantisipasi hasil agar sesuai dengan yang dipersyaratkan.

Jadi dengan belajar dari Indomie, kita bisa merancang metode atau prosedur yang standar di organisasi kita. Dengan adanya prosedur standar (SOP) yang dipatuhi maka masalah tidak datang lagi. Itulah pelajaran kepemimpinan dari Indomie Seleraku.

Pemimpin membangun organisasinya dan mengatur orang-orangnya untuk mengantisipasi masalah dan mencegah masalah. Jangan lupa dalam setiap training yang Anda selenggarakan, sajikan satu porsi Indomie dan satu Teh Botol SOSRO bagi para peserta dan ingat jangan lupa mengundang saya hadir di sana.

Selamat Memimpin Perubahan,

TiTuS Permadi

General Manager Human Resources & Gen. Affairs

THAMRIN GROUP – Palembang – M: 0878 5577 8882 PinBB: 7CB8B896 update@munksiji.com

wpsDE8B.tmp


Artikel sebelumnya:

1. Kepemimpinan ala BODREX, solusi jitu abad ke 21

2. Kepemimpinan ala PHILIPS, terus terang terang terus

3. The REXONA Way: Freshing Smell Leadership Today

4. Life is SO NICE, Be A So Nice Leader

5. Kepemimpinan ala RINSO, Nggak ada noda ya nggak belajar

6. Kepemimpinan ala Telkomsel 4G LTE : Magnet Strategis Pengelolaan SDM Masa Depan

7. Kepemimpinan ala Pegadaian, Mengatasi Masalah Tanpa Masalah

8. Wavin: Filosofi Kepemimpinan ala Bengawan Solo


Sumber kajian:

1. Iklan Indomie, https://www.youtube.com/watch?v=iNOySVOk9SQ

2. Teh Botol SOSRO, http://www.sosro.com

3. Titus Permadi, “UAJY: Golden Me, Golden Memory”, dalam proses cetak, akan terbit pada tanggal 27 September 2015, dibuat dalam rangka menyemarakkan Ulang Tahun Emas Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Pesan buku melalui situs http://goldenuajy.munksiji.com/

4. Fajar Pengharapan, http://fpengharapan.blogspot.com/2011/06/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html

5. Sanggahan: sumber-sumber kajian diperoleh dari internet, diakses pada tanggal 9 Juli 2015. Hak cipta dan merek pada masing-masing pemilik hak dan merek. Hak cipta dan merek dilindungi undang-undang. Kutipan pada tulisan ini digunakan untuk keperluan pengetahuan dan bukan untuk tujuan komersial. Sumber rujukan diberikan sebagai respek kepada pemegang hak dan merek masing-masing dan kepatuhan terhadap hukum yang mengatur dan melindungi hak cipta.

6. Thanks to Deddy Wijaya, Dody B. Himawan, Andika Putra, Wies L.C Lontoh SH, Marjorie Wairisal, Hendra Fermana, Jesaya Peranginangin, Kadek Dhamma Satya, Nilla Wahyuni, Yoga Prabowo, Ruben Arnaldo Puba, Armin Tumanggor, Nena Raharjo, faisal renaldi, ferza ferditha, PINDY FITZA WILANDHA, syarifudin sardar, Sixtus Oktavianus Nato, SE, Yayan S Putra, Tajudin Iding, D. J. Anderson Butarbutar, Saztika Wilaxmi, R. Situmorang CPA.QIA.MBA, Willvan Tjoa.

Iklan

One thought on “Memimpin Seperti Teh Botol Sosro, Mengelola Seperti Indomie

  1. saya angkat topi pada bapak….hormat saya…….., saya menginginkan pemimpin seperti bapak…., sukses selalu utk bapak….

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s