continued..“Awal dan akhir dari kepemimpinan adalah mengenai tanggungjawab”

Tulisan ini sebagai jawaban atas pertanyaan lanjutan dari sahabat Linkediners, Jack M Sianturi (JMS)

JMS

Dear pak JMS, terima kasih atas komentarnya. (untuk mendapatkan perspektif yang sama, silahkan pembaca membaca artikel sebelumnya, “Awal dan akhir dari kepemimpinan adalah tanggungjawab” di tituspermadi.wordpress.com

Senang sekali bisa mendapat sahabat kognitif baru sesuai semboyan yang saya yakini di era sosmed-internet-gadget ini “intellectually connected, cognitively friendship”.

Jack M Sianturi (JMS) memberi komentar untuk update Anda : (setuju. “tanggung jawab” yang dimaksud Pak Titus- apakah “responsibility” atau “accountability”? dan mohon dijelaskan secara substansial dan tegas bila perlu diberi contohnya.)

Demikian tanggapan saya:

Ketika seseorang pernah memutuskan untuk memilih jalan kepemimpinan, maka dalam perjalanan kepemimpinannya, akan bermunculan situasi-situasi, kejadian dan peristiwa yang menantang konsistensi kepemimpinannya, menguji efektifitas kepemimpinannya, dan menguras daya tahan kepemimpinannya.

Di dalam situasi itu bisa jadi seorang pemimpin sedang berada dalam keadaan tidak stabil, limbung, tidak seimbang, kabur perspektifnya, menciut nyalinya atau pun kacau urutan prioritas-prioritasnya, mandeg kreatifitasnya dan terkunci inisiatif-inisiatifnya. Situasi-situasi menantang ini hadir bukan untuk mencelakakannya namun untuk menjadi mitra belajar baginya demi mengasah dan meningkatkan dua wilayah sumberdaya kepemimpinannya, yaitu berbagai perangkat kompetensi dan beragam elemen pembentuk karakternya.

Pada saat menghadapi situasi yang pelik, secara naluriah manusia mempunyai dua pilihan sikap, “flight or fight” (kabur atau hadapi). Agar seorang pemimpin tidak melarikan dari situasi ini, ia perlu mengakses sisi kebatinannya kembali, yaitu rasa bertanggungjawab atas seluruhnya. Ia perlu kembali mengingat alasan-alasan mengapa dulu ia memutuskan untuk memilih menerima tanggungjawab ini. 

Sebagaimana Nietzsche mengatakan, “Orang yang mengerti alasan mengapa ia melakukan sesuatu, akan sanggup menanggung segala akibat yang muncul darinya”.

Namun, turbulensi dan volatilitas dalam kepemimpinan tak jarang membuat seorang pemimpin terhenyak tak berdaya untuk sesaat. Pada momen-momen kritikal tersebut suatu mekanisme pemulihan dibutuhkan agar ia berdaya kembali. Refleksi dan keheningan ini diperuntukkan untuk itu.

Kembali ke pertanyaan pa JMS mengenai tanggungjawab adalah tanggungjawab dalam pengertian “responsibility” atau pertanggungjawaban “accountability” maka inilah sebuah sudut pandang yang dapat saya kemukakan:

Saya ingin mengibaratkan bahwa perjalanan kepemimpinan (leadership journey) selalu diawali dengan garis START dan diakhiri dengan garis FINISH. Maka “responsibility” dimengerti sebagai garis START dan akuntabilitas sebagai garis FINISH.

Sebagaimana lagu Rhoma Irama yang terkenal tentang Kegagalan Cinta – “kau yang memulai, kau yang mengakhiri”. Siklus atau episode kisah perjalanan seorang pemimpin “mulai dan akhiri” sepenuhnya merupakan ranah tanggungjawab sang pemimpin. Ia harus mengawali episode “mulai” dan menutupnya dengan episode “akhiri” dan itu adalah “responsibility” di satu sisi dan “accountability” pada sisi yang lainnya dari sekeping uang logam.

Pada episode bertanggungjawab (taking responsibility) seorang pemimpin mengambil tanggungjawab dari luar dirinya ke dalam (outside-in). Contohnya dalam memainkan peran sebagai pemimpin melalui jabatan GM HR maka saya terpanggil memikul tanggungjawab dalam mewujudkan tujuan organisasi (purpose, the reason of why), visi (vision, what we want to be), misi (mission, contribution to deliver, initiative to be taken), strategy (the way we choose to walk in through), nilai-nilai organisasi (the value we stand for). Saya bertanggungjawab untuk memastikan hal tersebut mewujud melalui eksposur-eksposur kepemimpinan yang saya terpakan dan langkah-langkah manajerial yang saya ambil.

Pada episode pertanggungjawaban (delivering accountability) seorang pemimpin menyerahkan hasil kepemimpinannya (inside-out), maka seorang pemimpin menyampaikan hasil-hasil yang telah dicapainya yang biasanya dalam organisasi disampaikan dalam satuan KPI, perubahan-perubahan yang telah dikelolanya, kemajuan orang-orang yang telah dikembangkannya.

Secara matematis maka notasi jawaban atas pertanyaan ini adalah [ Leadership = Responsibility + Accountability ] dengan syarat nilai Responsibility maupun Accountability harus lebih besar dari Nol. Artinya kepemimpinan adalah hasil dari pengambilan tanggungjawab dan pertanggungjawaban dimana tidak boleh ada angka Nol pada keduanya.

Selain itu dengan meminjam filosofi Kaizen (perbaikan terus menerus) yang bertumpu pada siklus PDCA-S (plan-do-check-action-standarization), maka kepemimpinan dimulai dari siklus plan dan ditutup dengan action, lalu dijaga dengan standarisasi. Itulah “responsibility dan accountability in action in the real world”. Manakala pemahaman ini dimengerti dan disepakati, maka pilihan-pilihan sikap atas situasi yang dihadapi bermunculan lebih dari satu.

Ketika seorang pemimpin tercerahkan dengan perspektif-perspektif yang terang maka berbagai pilihan hadir untuk dia ambil, maka dirinya berdaya kembali, ia kembali, “he is coming back”. Ia merdeka di atas situasi, itulah modal dasar seorang pemimpin untuk melanjutkan perubahan.

Melalui pengkajian dan pertimbangan yang cermat maka “reason, why” terdefinisi. Maka hukum dari Nietzsche pun berlaku dan ia mendapat kekuatan dan energi kepemimpinan yang baru. Ia pulih, ia dikuatkan lagi, dan ia bangkit kembali untuk memimpin dan dengan demikian ia bertindak untuk mengubah roda putaran nasib, ia menciptakan perubahan bagi dirinya dan bagi orang-orang di sekitarnya. Bila itu adalah diri Anda yang terpulihkan dan tercerahkan kembali, betapa beruntungnya orang-orang di sekeliling Anda, mereka akan terberkati oleh hadirnya kepemimpinan Anda kembali. Luar Biasa!!!

Demikian penjabaran lebih luas dari konsepsi “Awal dan akhir dari kepemimpinan adalah mengenai tanggungjawab” semoga bermanfaat.

Salam Munksiji.COM

 

Selamat Memimpin Perubahan,

TiTuS Permadi

“Awal dan akhir dari kepemimpinan adalah mengenai tanggungjawab”

Renungan Kepemimpinan # 01
“Awal dan akhir dari kepemimpinan adalah mengenai tanggungjawab”
Oleh: TiTuS Permadi
Palembang, 24 Februari 2016

Bila saya berhenti bertanggungjawab maka saya berhenti memimpin,
Bila saya berhenti memimpin maka saya tidak lagi punya pilihan,
Bila saya tidak punya pilihan maka saya sedang tidak merdeka,
Bila saya sedang tidak merdeka maka saya tidak mampu berkarya….

Terbatasi untuk mengeksplorasi esensi ke ranah ekspresi, menggaris tegas antara yang otentik dan ilusi

….itu bukan titik tujuan yang mau saya datangi….

Manakala saya tidak mampu dan lumpuh untuk memilih,
maka saya mengingkari posibilitas yang luas terbentang dalam kehidupan…
satu-satunya anugerah yang paling hakiki yang dipercayakan Tuhan kepada saya,

untuk berikhtiar,
untuk berupaya,
untuk terus bergerak,

merubah keadaan menuju baik, sinambung senantiasa membaik dan berguna pada akhirnya,
tidak peduli awal mulanya bagaimana dan ditengah prosesnya serumit apa…

Pada kenyataannya dalam berbagai derajat situasi inilah saya ditempatkan,
untuk ambil bagian dan untuk turut berperan, bukan untuk berpangku tangan karena menyerah diatur oleh roda nasib dalam ketidakberdayaan

Bersama semboyan,
Dengan tinggi kesadaran tidak melakukan segala kejahatan, dengan besar daya melakukan segala kebajikan…

maka selayaknya dimengerti, bahwa kita hidup memang untuk menjalani peristiwa,

Namun kita dilatih oleh kehidupan untuk membuat sejarah

Berbekal pilihan
untuk berani dan setia,
benar dan bertanggungjawab,
tekun dan sederhana,     
ulet, tahan dan mengerti,   

Maka nada-nada sejarah keindahan ini ingin kubuat…