Seminar GODISO Digital Transformation

logo-godiso-2

GODISO®

Globalisasi dan digitalisasi dunia telah membuka peluang dan tantangan yang sangat luas bagi setiap individu di jagat dunia ini. Pasar telah menjadi global, batas antar negara tertembus oleh digitalisasi informasi melalui jaringan internet. Komunikasi berbasis teknologi informasi menjadi penunjang seluruh perekatan dan percepatan ini.

Sosial media menjadi wadah perjumpaan dan pertalian global seantero jagat dalam berbagai bentuk relasi, kepentingan dan transaksi. Selain menjadi jejaring perjumpaan antar manusia, maka sosial media telah mempertemukan antara permintaan dan penawaran baik yang berbentuk jasa maupun barang.

Pasar Global Tersaji Dalam Genggaman

Menilik segala kemajuan yang terjadi secara masif ini maka kehadiran SWOT (strength, weaknes, opportunity and threat) dan VUCA (volatility, uncertainty, complexity, and ambiguity) menjadi kenyataan sehari-hari yang dihadapi oleh semua orang. Kesempatan untuk maju dan sebaliknya ancaman untuk tertinggal di belakang hadir secara bersamaan. Kekuatan dan kemahiran tanpa sebuah pembelajaran diri secara aktif dan progresif akan menjadi kelemahan karena ketertinggalan.

Sangatlah benar demikian dan Anda adalah bagian darinya. Aksi, antisipasi dan responsi Anda terhadapnya akan menentukan bagaimana Anda akan memenangkan dan mendapat manfaat dari semua ini atau tetap di tempat dan tertinggal di belakang sementara yang lainnya melesat pesat. Berbekal gadget dengan akses internet, peluang ini ada dalam genggaman Anda. Dalam seketika Anda dapat menjangkau seluruh dunia.

Tiga Kompetensi Praktis Dalam Era Digital

Sayangnya, tak banyak orang yang sadar bahwa mereka perlu membekali diri dengan tiga kompetensi digital yang relevan. Pertama adalah kemampuan mengelola talenta dari karyawan atau anak buahya. “Managing people” masih tetap menjadi esensi utama kemajuan bisnis dimana pun juga. Dengan pemanfaatan teknologi digital yang berbasis web berbasis awan Anda akan mampu mengelola modal manusia Anda (human capital).

Menjadi “global-digital-social competent” adalah prasyarat mutlak untuk eksis dalam platform ekonomi digital sekarang hingga ke depan. Kami hadir untuk membekali Anda dengan Kompetensi GODISO® (global-digital-social) dalam bidang:

  1. HRIS (Human Resource Information System),
  2. Kepemimpinan (Leadership) dan
  3. Digital Marketing (delivering and promoting you existance in global-socio-digital era).

Seminar GODISO Digital Transformation

final-flyer-horisontal

Melalui Seminar dan Workshop ini, kami akan membekali Anda dengan 3 Kompetensi GODISO®, yaitu:

  1. Managing your people dengan memanfaatkan teknologi “OrangeHRM Human Resource Information System”
  2. Leadership development untuk para pemimpin dalam organisasi Anda dengan konsep “H8 Leadership Mix”
  3. Digital Selling untuk memampukan Anda memenangkan bisnis digital Anda.

Daftarkan diri Anda, KLIK DISINI!


 

Hire Right People, Essential Business Success: Proven in the west, proven in the east

Tim Stansfield (Founder and President IET Inc) says, “Without all of my people doing their jobs with skill, passion, and commitment this dream could never have become a reality”.

Woody Hayes (Legendary Ohio State Football Coach) says, “You win with people”.

Memilih dan menempatkan orang yang tepat / orang terbaik (right people) dikabarkan sebagai kunci keberhasilan organisasi. Berikut ini adalah beberapa pendapat yang mengemukakan hal itu:

Clinton O. Longenecker, Sonny Ariss dan Dale T. Eesly

Dalam publikasi HR Advisor (July 2008) Longenecker memaparkan hasil penelitiannya yang berjudul “Human Resource Management In Successful Entrepreneurial Entreprises: Challenges and Lessons”. Penelitian ini mengungkap pendapat dari para entrepreneur yang diteliti tentang pendapat mereka tentang orang/sumber daya manusia (people), peranan dan tantangan yang dihadapi oleh bidang pengelolaan Sumber Daya Manusia – SDM (human resource management).

Para entrepreneur yang berhasil menyadari bahwa orang/SDM merupakan komponen kunci bagi keberhasilan organisasi dan para entrepeneur ini memberikan perhatian yang serius dalam mengembangkan fungsi pengelolaan SDM yang efektif dalam organisasi mereka.

Ada satu hal mendasar yang menjadi tantangan bagi pengelola SDM dalam perannya memberi kontribusi bagi organisasi, yaitu ia harus mampu mendapatkan orang terbaik bagi organisasinya seperti yang dikatakan oleh Greg Papp (Principal Cube Culture Corp.)

“Most entrepreneurial organizations are successful because of the efforts and sacrifies of the people working there. It is critical to get the right people on board and to successfully embed them in the culture of the organization, which is no easy task and requires time, effort, and energy.”

 

EMPAT TANTANGAN BAGI PENGELOLA SDM

Longenecker mengemukakan, bahwa ada empat tantangan yang dihadapi oleh pengelola SDM agar dapat menjalankan fungsinya dan berkontribusi efektif bagi perusahaan tempat ia bekerja sebagai berikut:

  1. Hiring Quality People (Dapatkan Orang Terbaik)

  2. Generating Immediate Performance and Productivity (Hasilkan Produktifitas dan Kinerja Segera)

  3. Maintaining Flexibility (Pengorganisasian SDM yang fleksibel)

  4. Overall HR Cost Containment (Mampu memperoleh efektifitas sdm dengan pembiayaan yang efisien)

Ringkasan lengkap tulisan dari Longenecker dapat dijumpai pada posting saya berikutnya.

 

Fan Li / Tao Zhu Gong: Listen the lesson

Fan Li yang kemudian berganti nama menjadi Tao Zhu Gong di masa tuanya adalah pebisnis ulung dan mantan stratejius militer dari kerajaan Yue pada jaman Cina Klasik (722-476 Sebelum Masehi). Tao Zhu Gong merumuskan ajaran bisnis yang tertuang dalam “12 Prinsip Bisnis Tao Zhu Gong”. 

Yang menarik adalah Tao Zhu Gong menempatkan kemampuan untuk mengenali orang, memahami karakter orang akan menjamin kesuksesan bisnis. Hal menarik berikutnya adalah Tao Zhu Gong membahas tentang orang dalam empat prinsip dari dua belas prinsip yang ia ajarkan.

Setidaknya ini dapat menjadi acuan kita bahwa masalah  menemukan orang yang tepat sangatlah penting bagi bisnis, sebaliknya kekeliruan memilih orang akan menyebabkan hancurnya bisnis bahkan hilangnya kerajaan dan nyawa sang raja.

Kemampuan mempekerjakan orang yang tepat adalah kunci keberhasilan bisnis. Sebuah presentasi berjudul “The POWER of HRM: Start Up Business Essentials” berisi penjelasan lebih rinci mengenai hal ini. Presentasi ini tersedia gratis untuk Anda unduh pada link di bawah ini.

The POWER

 

12 Prinsip Bisnis Tao Zhu Gong

  1. Prinsip bisnis ke 1: Kemampuan mengenali orang: mengetahui karakter orang akan menjamin kestabilan keuangan anda. (neng shi ren: zhi ren shan e, zhang mu fu)
  2. Prinsip bisnis ke 2: Kemampuan menangani orang, memperlakukan orang dengan rasa hormat akan membuat anda diterima dikalangan luas dan membuat bisnis berkembang. (neng jie na: li wen xiang dai, jiao guan zhe zhong)
  3. Prinsip bisnis ke 3: Kemampuan berfokus pada bisnis: mengabaikan yang lama untuk mendapatkan yang baru merupakan kutukan dalam bisnis.
  4. Prinsip bisnis ke 4: Kemampuan mengorganisasikan: bila produk ditampilkan dengan baik, ia akan menarik perhatian banyak orang. (neng zheng dun: huo wu zheng qi, duo ren xin mu)
  5. Prinsip bisnis ke 5: Kemampuan bersikap tangkas dan fleksibel: keengganan dan keraguan akan menghasilkan kesia-siaan. (neng min jie: you yi bu jue, zhong gui wu cheng)
  6. Prinsip bisnis ke 6: Kemampuan menagih pembayaran: rajin dan rewel akan memberikan keuntungan bagi perusahaan (neng tao zhang: qin jin bu dai, qu tao zi duo
  7. Prinsip bisnis ke 7: Kemampuan memperkerjakan dan menempatkan sumber daya manusia: memilih orang yang tepat untuk pembayaran yang tepat akan menjamin bahwa orang tersebut dapat dipercaya dan diandalkan. (neng yong ren: yin cai qi shi, ren shi you lai)
  8. Prinsip bisnis ke 8: Kemampuan berbicara: kepandaian berbicara bisa mendatangkan keberuntungan dan memberikan pencerahan kepada orang lain. (neng bian lun: zuo cai you dao, chan fa yu meng)
  9. Prinsip bisnis ke 9: Kemampuan unggul dalam pembelian: dalam pembelian, menawar sampai setiap ons-nya tidak akan mengurangi modal anda. (neng ban huo: zhi huo bu ke, shi ben bian jing)
  10. Prinsip bisnis ke 10: Kemampuan mendiagnosa dan menyambar peluang serta melawan ancaman: Praktik bisnis yang bijaksana membutuhkan kemampuan untuk menjual dan menyimpan pada waktu yang tepat. (neng zhi ji: shou zhu zui zhi, ke cheng ming zhe)
  11. Prinsip bisnis ke 11: Kemampuan memulai dan menjadi contoh: persahabatan dan kepercayaan akan muncul secara alami jika disiplin dan standar yang tinggi ditegakkan. (neng chang lu: gong xing yi lu: qin gan zhi sheng)
  12. Prinsip bisnis ke 12: Kemampuan melihat jauh ke depan: kapan harus mencari lebih banyak, mengencangkan dan mengendurkan, tergantung pada situasi. (neng yuan shu: duo gua kuan jin, zhuo zhong er xing)

Sumber bacaan:

Leader’s Behavior: Munksiji Leadership Matrix Summary versi 1.0

Tulisan kali ini merupakan kelanjutan dari tulisan sebelumnya yang berjudul “Munksiji Leadership Matrix Summary, versi 1.0” yang membahas tentang salah satu poin dari ringkasan tentang kepemimpinan ini, yaitu “Leader’s Position”. Secara garis besar, pada tulisan itu memaparkan tentang peta perjalanan karir seseorang yang ingin menempuh jalan kepemimpinan sebagai jalur untuk mengubah nasibnya dan mengubah nasib orang lain di sekelilingnya. Konektifitas intelektual yang saya rujuk untuk meramu-padukan konsepsi dan ancangan praktek kepemimpinan ini berturut-turut adalah:

Setelah kemarin Anda membaca tentang peta perjalanan karir seorang pemimpin (roadmap), maka pembahasan berikut ini adalah tentang perilaku pemimpin. Dalam bidang apa dan dalam bentuk apa perilaku kepemimpinan yang akan Anda lakukan dalam mengisi agenda kepemimpinan Anda sehari-hari.

Leader’s Behavior

Ya perilaku kepemimpinan (Leader’s Behavior) adalah pertanyaan besar yang dulu menghalangi saya untuk memberanikan diri berjalan di “Jalan Kepemimpinan”. Pada saat itu, saya tidak berani memimpin karena saya tidak tahu apa sih pekerjaan seorang pemimpin? Apa sih agenda sehari-hari seorang pemimpin? Bagaimana sih ia membangun hubungan (relationship) dan meningkatkan mutu hubungan kepemimpinan (leadership relations quality) yang ia jalin dengan para pemangku kepentingan (stakeholders) yang relevan dengan peran dan jabatan kepemimpinan yang sedang ia pikul? PEMIMPIN, Apa sih sebenarnya yang kau lakukan? Apa agenda perilaku dan serangkaian serial perilaku yang dapat ia jalankan untuk meningkatkan mutu dan dampak kehadiran kepemimpinannya (quality and impact of your leadership presence)?.

Ketika bertanya kepada pemimpin-pemimpin senior yang saya temui, tak ada jawaban yang memuaskan hingga akhirnya saya sempat mempelajari kepemimpinan secara lebih mendalam dengan membedah berbagai literatur-literatur kepemimpinan. Inspirator utama dalam menyingkap misteri apa yang dilakukan oleh pemimpin, terjelaskan bagi saya dari berbagai sumber.

Kepemimpinan Adalah Perilaku, kata Kouzes & Posner

Salah satu hal yang menggembirakan dari pertemuan saya dengan kepemimpinan adalah pernyataan dari Kouzes & Posner, dimana penelitian yang mereka selenggarakan memberikan temuan yang didukung dengan bukti yang kuat bahwa kepemimpinan adalah perilaku.

Inilah pernyataan mereka dalam situsnya:

Kepemimpinan adalah bukan persoalan kepribadian; kepemimpinan adalah soal perilaku – serangkaian ketrampilan dan kemampuan yang dapat diamati.

Leadership is not about personality; it’s about behavior—an observable set of skills and abilities. Leadership is about behavior.

Dalam penelitian mereka, Kouzes & Posner mengklasifikasikan perilaku terbaik pemimpin ke dalam 5 (lima) praktek perilaku kepemimpinan, yaitu:

  • Model The Way – Menunjukkan Jalan dengan memberikan contoh/keteladanan
  • Inspire a Shared Vision –  Menginsirasikan Visi bersama
  • Challenge the Process – Pemimpin harus mengubah proses yang sekarang untuk menghasilkan hasil yang berbeda
  • Enable Others to Act – Memberdayakan orang untuk berpartisipasi dan berkontribusi sebagai bagian dari perubahan dan kemajuan
  • Encourage the Heart – Memberikan dukungan moril dan semangat kepada tim

Belajar dari Model Kepemimpinan US ARMY

Salah satu model kepemimpinan berbasis perilaku yang mencerahkan pemikiran saya tentang kepemimpinan adalah konsep dari US ARMY Leadership Model, dimana dalam konsepsi kepemimpinan mereka, secara jelas ada 3 (tiga) dimensi kepemimpinan yang harus dikembangkan dari diri seorang pemimpin.

Yang pertama adalah persoalan BE, seperti apa seorang pemimpin itu harus menjadi, sosok pemimpin yang seperti apa yang mau dibentuk?. Yang kedua adalah DO, yaitu apa yang dilakukan oleh seorang pemimpin sehari-hari? dan yang ketiga adalah persoalan KNOW, pengetahuan, ketrampilan, dan kompetensi apa yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin.

Konsepsi ini diturunkan dari definisi kepemimpinan yang mereka rumuskan, yaitu: Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi orang – dengan memberikannya tujuan, arah dan motivasi, sembari melakukan operasi atau pelaksanaan untuk  menyelesaikan misinya dan meningkatkan organisasi.

Leadership is influencing people—by providing purpose, direction, and motivation—while operating to accomplish the mission and improving the organization.

Mari kita perhatikan gambar di bawah ini, dimana dalam hal “Actions” atau “Do” ada 3 (tiga) perilaku seorang pemimpin yaitu: “Influencing – Operating – Improving”, saya sering mengajarkannya kepada tim saya dengan singkatan I-O-I.

b3_2795

Perilaku seorang pemimpin lebih jelasnya adalah:

  1. Influencing – Mempengaruhi
    1. Communicating – Berkomunikasi
    2. Decision Making – Membuat keputusan
    3. Motivating – Memotivasi
  2. Operating – Menjalankan operasi
    1. Planning – Merencanakan atau mempersiapkan
    2. Executing – Melaksanakan
    3. Assessing – Mengevaluasi pelaksanaan
  3. Improving
    1. Developing – Mengembangkan orang lain
    2. Building – Mengembangkan organisasi
    3. Learning – Belajar meningkatkan diri

Setelah melihat ke sembilan perilaku tadi, maka cerahlah pikiran saya, bahwa ternyata agenda sehari-hari seorang pemimpin adalah komunikasi – berbicara dan mendengarkan orang lain – meluruskan pendapat yang beda, pengambilan keputusan – memilih satu di antara banyak pilihan – memprioritaskan yang satu ke puncak urutan, memotivasi orang lain-membuat mereka tersenyum kembali, membuat mereka bersemangat kembali, membuat rencana apa yang mau dikerjakan, lalu mengerjakannya, bila hasilnya bagus dipertahankan, bila hasilnya belum bagus dikoreksi kekeliruan yang telah dilakukan, belajar untuk menambah ketrampilan, mengajar orang lain dan mengatur sistem kerja dalam organisasi…

Wadalah, coba perhatikan sekali lagi, bukankah itu semua yang sudah kita lakukan dalam pekerjaan kita sehari-hari? Jadi belajar memimpin itu mudah atau sulit? Belajar memimpin itu hanya untuk orang tertentu ataukah semua orang bisa mempelajarinya? Ha ha ha, rahasianya tersingkap sudah.

image012

Yang dimaksud dengan Influencing adalah seorang pemimpin melakukan tindakan komunikasi kepada anak buahnya, ini adalah “communicating”. Komunikasi yang disampaikan haruslah jelas dipahami oleh anak buahnya. Ini mencakup instruksi, arahan, petunjuk, target yang harus dicapai, misi yang harus diselesaikan. Elemen influencing berikutnya adalah ketika menghadapi situasi dan problem nyata di lapangan, seorang pemimpin harus mampu membuat keputusan yang tegas, mantap, tanpa ragu-ragu, sehingga seluruh anak buahnya bertindak dalam kepastian dan kemantapan, ini adalah “decision making”.  Elemen yang ketiga adalah memotivasi atau “motivating”. Di sini berarti pemimpin harus mampu berperilaku melalui ucapan, tindakan, dan ekspresi, serta argumentasi sehingga anak buah mempunyai alasan yang kuat, keyakinan yang kuat untuk menjalankan arahan, petunjuk dan instuksinya serta mempunyai kemantapan hati, keikhlasan, daya tahan dan ketabahan untuk menghadapi masalah yang ada di lapangan secara nyata.

Yang dimaksud dengan Operating, adalah seorang pemimpin bersama anak buahnya melakukan serangkaian kegiatan untuk mencapai tujuan dari misinya. Sebuah hasil kerja yang baik terjadi karena siklus persiapan, pelaksanaan dan evaluasi untuk perbaikan dilakukan dengan cermat, tidak sembrono dan awut-awutan. Perencanaan atau persiapan “planning” adalah segala sesuatu penyiapan sebelum pemimpin dan timnya bertindak, pada aspek non-manusia itu menyangkut penyiapan material, mesin atau peralatan, uang, informasi dan lain sebagainya. Pada aspek manusia berarti itu menyiapkan motif, kompetensi, kemampuannya untuk “ready”, “willing”, “able” sehingga misi dan penugasan yang diembannya berhasil. Pelaksanaan atau “executing” berarti pada momen pelaksanaan, pemimpin dan timnya dapat menanggulangi, beradaptasi dan melakukan terobosan sesuai perkembangan di lapangan dengan tetap memastikan bahwa target dan misinya tercapai, di sinilah pintar, cerdik dan banyak akal mendapat ruang untuk unjuk gigi.

Slide85

Yang dimaksud dengan Improving, berarti perilaku pemimpin bukan hanya menyelesaikan misinya, namun juga menjadi tugasnya untuk membangun aspek manusia seperti melakukan kaderisasi, pembinaan anak buah, penyusunan materi dan metode pelatihan,  maupun aspek non-manusia seperti merawat gedung, memutahirkan peralatan, pra sarana, metode pelatihan di dalam organisasinya.

Dari dari ke 9 (sembilan) elemen perilaku yang terangkum dalam 3 (tiga) kategori perilaku pemimpin ini semuanya adalah hal yang dapat dipelajari. Siapa pun dengan berbekal kecerdasan yang memadai dan motivasi yang cukup untuk meningkatkan kapabilitas kepemimpinannya dapat melakukan dan melewati tahapan yang diperlukan untuk mencapai level-level kompetensi elemen-elemen ini.

Inilah alasan mengapa kepemimpinan itu dapat dipelajari. Karena kepemimpinan adalah perilaku, maka ia dapat diamati, diukur, dan ditiru atau dipelajari. Mudah bukan?

Belajar dari Peneliti Kepemimpinan, Gary Yukl

Slide87

Pada tahun 2002 Yukl, bersama dengan Angela Gordon dan Tom Taber menerbitkan hasil penelitian mereka tentang kepemimpinan selama lebih dari 50 tahun. Mereka mengklasifikasikan perilaku pemimpin ke dalam tiga bidang: tugas, hubungan, dan perubahan. Mereka memerincikan perilaku-perilaku yang menjadi elemen dari setiap bidang.

Konsepsi perilaku kepemimpinan dari Yukl memberikan perspektif yang menyempurnakan model sebelumnya. Melalui laporan penelitiannya yang berjudul “Yukl’s: A Hierarchical Taxonomy of Leadership Behavior”, Yukl memberikan penjelasan tentang perilaku kepemimpinan yang dapat diklasifikasikan dalam 3 (tiga) kategori perilaku yang disusun dari 12 (dua belas) perilaku sebagaimana saya telah ringkaskan pada tabel di atas.

Gambar berikut ini saya peroleh dari internet, yang menjabarkan ke dua belas perilaku tersebut dalam bahasa aslinya. (Mohon maaf belum sempat saya terjemahkan)

slide_6

Pada bulan November 2012, Yukl menyempurnakan taksonomi perilaku pemimpin menjadi 4 (empat) bidang, yang tersusun dari 15 (lima belas) perilaku yaitu:

  1. Berioentasi Tugas (meliputi: klarifikasi peran, perencanaan, pemantauan eksekusi operasional, pemecahan masalah) — Task-oriented (clarifying, planning, monitoring operations, problem solving)
  2. Berorientasi Hubungan (meliputi: dukungan, pengembangan, pujian atau pengakuan, dan pemberdayaan) — Relations-oriented (supporting, developing, recognizing, empowering)
  3. Berorientasi Perubahan (meliputi: penasehat, bervisi, mendorong inovasi, memfasilitasi pembelajaran bersama) — Change-oriented (advocating, envisioning, encouraging innovation, facilitating collective learning)
  4. Berorientasi Eksternal (meliputi: membangun jejaring, memonitor kondisi dan perubahan di luar organisasi, mewakili organisasi) — External (networking, external monitoring, representing)

Dari Yukl ini maka selain I-O-I (Influencing-Operating-Improving) maka perilaku pemimpin dapat dilihat dari perspektif dan ekspresi perilaku yang berbeda, walaupun secara esensial ada kesamaan di antara keduanya. Karena di susun oleh orang sipil, maka perilaku kepemimpinan T-R-C-E (Task-Relations-Change-External) ada bedanya dengan I-O-I yang dibuat oleh kalangan militer. Saya melihat perbedaan ini di bagian Change & External.

Bila penekanan utama pendekatan militer adalah penuntasan misi-biasanya misi mengahancurkan lawan, maka di kalangan sipil atau organisasi bisnis yang dibidik adalah Change dan External. Mengapa bagi kalangan bisnis, perilaku C-E ini relevan dan bukan melulu O-perating saja? Hal ini dapat dijelaskan karena organisasi bisnis harus selalu menyesuaikan dengan variabel-variabel eksternal yaitu pasar (Market), customer (Pelanggan), kompetitor (Competitor) dan teknologi (Technology). Maka seorang pemimpin perlu kuat di perilaku berorientasi Change & External, karena ibarat menyetir mobil, ia harus selalu awas dan waspada serta melakukan penyesuaian (Change) dengan kepadatan lalu lintas (External) dan pergerakan kendaraan di kanan-kiri-depan-belakang nya supaya tidak nubruk dan nyemplung ke kali.

Bagaimana perilaku para praktisi pemimpin organisasi bisnis di Indonesia?

Dear pembaca, saya mencoba membuat sebuah penelitian sederhana untuk mengetahui bagaimana perilaku pemimpin organisasi di Indonesia dilihat dari taksonomi perilaku pemimpin dengan model dari Yukl, sebagai berikut:

Bagaimana Penerapannya?

Pembaca yang budiman, dengan penjelasan perilaku pemimpin adalah M-I-C-E-E (Kouzes & Posner) I-O-I (US Army Model) dan T-R-C-E (Yukl), maka buatlah daftar dari semua perilaku dalam sebuah tabel, lalu jadwalkanlah dalam agenda harian Anda, pada perilaku mana Anda mau melakukan perbaikan dan peningkatan.

Lakukanlah refleksi, introspeksi dan mintalah feedback dari orang lain untuk menemukan di perilaku kepemimpinan mana yang Anda masih kurang, lalu lakukan perbaikan disitu. Dengan demikian maka kapabilitas kepemimpinan Anda akan meningkat dan otomatis, sebentar lagi kesempatan memimpin pada tingkat berikutnya akan menghampiri Anda. Trust me, it works!

Selamat Memimpin Perubahan

 

TiTuS Permadi

Sumber bacaan:

  1. http://www.johnballardphd.com/blog/what-do-leaders-do-management-style

Kepemimpinan ala pohon Jati

Bernilai karena mutunya

Pohon jati dikenal sebagai salah satu pohon yang kuat untuk berbagai kegunaan dan manfaat. Kayu Jati (Tectona grandis L.f.) atau ‘teak wood’ telah dikenal masyarakat nasional maupun internasional sebagai bahan baku industri pengolahan kayu yang memiliki kualitas terbaik di dunia. Kayu yang terkenal karena kekuatan, keawetan dan keindahannya ini memiliki nilai tinggi baik secara ekonomi maupun seni.

Tak heran jika kayu jati selalu menjadi pilihan utama bahan industri furnitur, mebel maupun bahan dasar kerajinan berkualitas. Kualitas kayu jati yang bagus menjadikan produk kayu jati masuk dalam tingkatan mahal dan mewah. Harga kayu jati di pasar internasional berkisar US$.500- $.2200 per meter kubik .

Kuat Karena Ditempa Keadaan

Si pohon jati bertumbuh kuat karena lingkungannya. Salah satu ungkapan kepemimpinan yang saya sukai adalah ungkapan dari Warren Bennis.

Pembelajaran terbaik bagi seorang pemimpin, adalah dengan menjalani peran kepemimpinan sehari-hari yang senantiasa berjumpa dengan berbagai kadar tantangan kepemimpinan. Habitat belajar seorang pemimpin adalah kenyataan hidup sehari-hari.

Leaders learn by leading, and they learn best by leading in the face of obstacles. As weather shapes mountains, problems shape leaders. Warren Bennis

Ungkapan ini nampaknya relevan dengan proses sebuah pohon jati mencapai realisasi potensi puncaknya.

Si pohon jati tidak bisa menolak keadaan kondisi lingkungannya. Iklim yang cocok adalah yang memiliki musim kering yang nyata, namun tidak terlalu panjang, dengan curah hujan antara 1.200–3.000 mm pertahun dan dengan intensitas cahaya yang cukup tinggi sepanjang tahun. Ketinggian tempat yang optimal adalah antara 0 – 700 m dpl; meski jati bisa tumbuh hingga 1.300 m dpl.

Ia hidup dalam pergiliran hujan, badai, guntur dan halilintar. Ia menyikapinya secara wajar, natural dan proporsional, sambil tetap bertumbuh ke atas, mengembang radial ke samping dan mengakar kokoh ke dalam.

Maka waktu demi waktu, ia mencapai puncak tahapan-tahapan kemajuannya dengan kesetiaan yang sederhana untuk terus bertumbuh menjadi pohon jati yang sejati. Hingga pada suatu saat nanti, pada giliran dan waktunya, menjalankan dan menampilkan peran keberadaannya dalam berbagai bentuk dan kegunaannya.

pohon jati

Kepemimpinan berbicara tentang menumbuhkan pemimpin-pemimpin berikutnya dengan kapabilitas kepemimpinan yang semakin meningkat. Itu adalah sejenis kualitas. Sekiranya dipersamakan dengan kualitas pohon jati yang kokoh, kuat, indah dan bernilai tinggi, pada tingkat mana Anda akan membentuk pemimpin-pemimpin selanjutnya setelah Anda?

Perjalanan waktu tak pernah mundur ke belakang, hanya saja manusia beruntung mempunyai mekanisme memori untuk mengenang, tapi kenyataan yang indah mendatang, hanya terjadi dengan membayar peluh dan tempuh di hari sekarang. Jalan yang relevan untuk saya sarankan, adalah “Jalan Kepemimpinan ala pohon jati”.

 

Selamat Memimpin Perubahan,

TiTuS Permadi

M: 0878 5577 8882 Skype: titus.orangehrm

header

Artikel sebelumnya:

  1. Kepemimpinan ala BODREX, solusi jitu abad ke 21
  2. Kepemimpinan ala PHILIPS, terus terang terang terus
  3. The REXONA Way: Freshing Smell Leadership Today
  4. Life is SO NICE, Be A So Nice Leader
  5. Kepemimpinan ala RINSO, Nggak ada noda ya nggak belajar
  6. Kepemimpinan ala Telkomsel 4G LTE : Magnet Strategis Pengelolaan SDM Masa Depan
  7. Kepemimpinan ala Pegadaian
  8. Wavin: Filosofi Kepemimpinan ala Bengawan Solo
  9. Memimpin Seperti Teh Botol Sosro, Mengelola Seperti Indomie
  10. Kepemimpinan ala Kopi Kapal Api, Jelas Lebih Enak
  11. Kepemimpinan bergoyang ala “All About The Bass” Meghan Trainor
  12. L-Men Six Pack Leadership Secret

Sumber kajian:

  1. Jati Emas – https://jatiemas.wordpress.com/
  2. Jati – https://id.wikipedia.org/wiki/Jati
  3. Sanggahan: sumber-sumber kajian diperoleh dari internet, diakses pada tanggal 5 Juli 2015. Hak cipta dan merek pada masing-masing pemilik hak dan merek. Hak cipta dan merek dilindungi undang-undang. Kutipan pada tulisan ini digunakan untuk keperluan pengetahuan dan bukan untuk tujuan komersial. Sumber rujukan diberikan sebagai respek kepada pemegang hak dan merek masing-masing dan kepatuhan terhadap hukum yang mengatur dan melindungi hak cipta.

Gerhana Matahari di Indonesia, 9 Maret 2016

 

Gerhana

 

Hari ini kita ditegaskan bahwa bumi ini bergerak… semesta ini tak pernah diam… menyusuri perjalanan waktu.

 

Detik demi detik bergairah menyambut yang baru dan menyimpan yang lama sebagai kenangan rasa untuk pembelajaran…

 

Ia tak gentar menyambut misteri masa depan… ia tak memeluk erat bantal dan guling kenyamanannya.

 

Itulah sifat-sifat alam yang terus membaharu… sekiranya kita selaras dengan alam maka dengan hati riang kita menyambut perubahan.

 

Palembang, 9 Maret 2016

Info foto : Dari Koh Ahin

continued..“Awal dan akhir dari kepemimpinan adalah mengenai tanggungjawab”

Tulisan ini sebagai jawaban atas pertanyaan lanjutan dari sahabat Linkediners, Jack M Sianturi (JMS)

JMS

Dear pak JMS, terima kasih atas komentarnya. (untuk mendapatkan perspektif yang sama, silahkan pembaca membaca artikel sebelumnya, “Awal dan akhir dari kepemimpinan adalah tanggungjawab” di tituspermadi.wordpress.com

Senang sekali bisa mendapat sahabat kognitif baru sesuai semboyan yang saya yakini di era sosmed-internet-gadget ini “intellectually connected, cognitively friendship”.

Jack M Sianturi (JMS) memberi komentar untuk update Anda : (setuju. “tanggung jawab” yang dimaksud Pak Titus- apakah “responsibility” atau “accountability”? dan mohon dijelaskan secara substansial dan tegas bila perlu diberi contohnya.)

Demikian tanggapan saya:

Ketika seseorang pernah memutuskan untuk memilih jalan kepemimpinan, maka dalam perjalanan kepemimpinannya, akan bermunculan situasi-situasi, kejadian dan peristiwa yang menantang konsistensi kepemimpinannya, menguji efektifitas kepemimpinannya, dan menguras daya tahan kepemimpinannya.

Di dalam situasi itu bisa jadi seorang pemimpin sedang berada dalam keadaan tidak stabil, limbung, tidak seimbang, kabur perspektifnya, menciut nyalinya atau pun kacau urutan prioritas-prioritasnya, mandeg kreatifitasnya dan terkunci inisiatif-inisiatifnya. Situasi-situasi menantang ini hadir bukan untuk mencelakakannya namun untuk menjadi mitra belajar baginya demi mengasah dan meningkatkan dua wilayah sumberdaya kepemimpinannya, yaitu berbagai perangkat kompetensi dan beragam elemen pembentuk karakternya.

Pada saat menghadapi situasi yang pelik, secara naluriah manusia mempunyai dua pilihan sikap, “flight or fight” (kabur atau hadapi). Agar seorang pemimpin tidak melarikan dari situasi ini, ia perlu mengakses sisi kebatinannya kembali, yaitu rasa bertanggungjawab atas seluruhnya. Ia perlu kembali mengingat alasan-alasan mengapa dulu ia memutuskan untuk memilih menerima tanggungjawab ini. 

Sebagaimana Nietzsche mengatakan, “Orang yang mengerti alasan mengapa ia melakukan sesuatu, akan sanggup menanggung segala akibat yang muncul darinya”.

Namun, turbulensi dan volatilitas dalam kepemimpinan tak jarang membuat seorang pemimpin terhenyak tak berdaya untuk sesaat. Pada momen-momen kritikal tersebut suatu mekanisme pemulihan dibutuhkan agar ia berdaya kembali. Refleksi dan keheningan ini diperuntukkan untuk itu.

Kembali ke pertanyaan pa JMS mengenai tanggungjawab adalah tanggungjawab dalam pengertian “responsibility” atau pertanggungjawaban “accountability” maka inilah sebuah sudut pandang yang dapat saya kemukakan:

Saya ingin mengibaratkan bahwa perjalanan kepemimpinan (leadership journey) selalu diawali dengan garis START dan diakhiri dengan garis FINISH. Maka “responsibility” dimengerti sebagai garis START dan akuntabilitas sebagai garis FINISH.

Sebagaimana lagu Rhoma Irama yang terkenal tentang Kegagalan Cinta – “kau yang memulai, kau yang mengakhiri”. Siklus atau episode kisah perjalanan seorang pemimpin “mulai dan akhiri” sepenuhnya merupakan ranah tanggungjawab sang pemimpin. Ia harus mengawali episode “mulai” dan menutupnya dengan episode “akhiri” dan itu adalah “responsibility” di satu sisi dan “accountability” pada sisi yang lainnya dari sekeping uang logam.

Pada episode bertanggungjawab (taking responsibility) seorang pemimpin mengambil tanggungjawab dari luar dirinya ke dalam (outside-in). Contohnya dalam memainkan peran sebagai pemimpin melalui jabatan GM HR maka saya terpanggil memikul tanggungjawab dalam mewujudkan tujuan organisasi (purpose, the reason of why), visi (vision, what we want to be), misi (mission, contribution to deliver, initiative to be taken), strategy (the way we choose to walk in through), nilai-nilai organisasi (the value we stand for). Saya bertanggungjawab untuk memastikan hal tersebut mewujud melalui eksposur-eksposur kepemimpinan yang saya terpakan dan langkah-langkah manajerial yang saya ambil.

Pada episode pertanggungjawaban (delivering accountability) seorang pemimpin menyerahkan hasil kepemimpinannya (inside-out), maka seorang pemimpin menyampaikan hasil-hasil yang telah dicapainya yang biasanya dalam organisasi disampaikan dalam satuan KPI, perubahan-perubahan yang telah dikelolanya, kemajuan orang-orang yang telah dikembangkannya.

Secara matematis maka notasi jawaban atas pertanyaan ini adalah [ Leadership = Responsibility + Accountability ] dengan syarat nilai Responsibility maupun Accountability harus lebih besar dari Nol. Artinya kepemimpinan adalah hasil dari pengambilan tanggungjawab dan pertanggungjawaban dimana tidak boleh ada angka Nol pada keduanya.

Selain itu dengan meminjam filosofi Kaizen (perbaikan terus menerus) yang bertumpu pada siklus PDCA-S (plan-do-check-action-standarization), maka kepemimpinan dimulai dari siklus plan dan ditutup dengan action, lalu dijaga dengan standarisasi. Itulah “responsibility dan accountability in action in the real world”. Manakala pemahaman ini dimengerti dan disepakati, maka pilihan-pilihan sikap atas situasi yang dihadapi bermunculan lebih dari satu.

Ketika seorang pemimpin tercerahkan dengan perspektif-perspektif yang terang maka berbagai pilihan hadir untuk dia ambil, maka dirinya berdaya kembali, ia kembali, “he is coming back”. Ia merdeka di atas situasi, itulah modal dasar seorang pemimpin untuk melanjutkan perubahan.

Melalui pengkajian dan pertimbangan yang cermat maka “reason, why” terdefinisi. Maka hukum dari Nietzsche pun berlaku dan ia mendapat kekuatan dan energi kepemimpinan yang baru. Ia pulih, ia dikuatkan lagi, dan ia bangkit kembali untuk memimpin dan dengan demikian ia bertindak untuk mengubah roda putaran nasib, ia menciptakan perubahan bagi dirinya dan bagi orang-orang di sekitarnya. Bila itu adalah diri Anda yang terpulihkan dan tercerahkan kembali, betapa beruntungnya orang-orang di sekeliling Anda, mereka akan terberkati oleh hadirnya kepemimpinan Anda kembali. Luar Biasa!!!

Demikian penjabaran lebih luas dari konsepsi “Awal dan akhir dari kepemimpinan adalah mengenai tanggungjawab” semoga bermanfaat.

Salam Munksiji.COM

 

Selamat Memimpin Perubahan,

TiTuS Permadi