Seminar GODISO Digital Transformation

logo-godiso-2

GODISO®

Globalisasi dan digitalisasi dunia telah membuka peluang dan tantangan yang sangat luas bagi setiap individu di jagat dunia ini. Pasar telah menjadi global, batas antar negara tertembus oleh digitalisasi informasi melalui jaringan internet. Komunikasi berbasis teknologi informasi menjadi penunjang seluruh perekatan dan percepatan ini.

Sosial media menjadi wadah perjumpaan dan pertalian global seantero jagat dalam berbagai bentuk relasi, kepentingan dan transaksi. Selain menjadi jejaring perjumpaan antar manusia, maka sosial media telah mempertemukan antara permintaan dan penawaran baik yang berbentuk jasa maupun barang.

Pasar Global Tersaji Dalam Genggaman

Menilik segala kemajuan yang terjadi secara masif ini maka kehadiran SWOT (strength, weaknes, opportunity and threat) dan VUCA (volatility, uncertainty, complexity, and ambiguity) menjadi kenyataan sehari-hari yang dihadapi oleh semua orang. Kesempatan untuk maju dan sebaliknya ancaman untuk tertinggal di belakang hadir secara bersamaan. Kekuatan dan kemahiran tanpa sebuah pembelajaran diri secara aktif dan progresif akan menjadi kelemahan karena ketertinggalan.

Sangatlah benar demikian dan Anda adalah bagian darinya. Aksi, antisipasi dan responsi Anda terhadapnya akan menentukan bagaimana Anda akan memenangkan dan mendapat manfaat dari semua ini atau tetap di tempat dan tertinggal di belakang sementara yang lainnya melesat pesat. Berbekal gadget dengan akses internet, peluang ini ada dalam genggaman Anda. Dalam seketika Anda dapat menjangkau seluruh dunia.

Tiga Kompetensi Praktis Dalam Era Digital

Sayangnya, tak banyak orang yang sadar bahwa mereka perlu membekali diri dengan tiga kompetensi digital yang relevan. Pertama adalah kemampuan mengelola talenta dari karyawan atau anak buahya. “Managing people” masih tetap menjadi esensi utama kemajuan bisnis dimana pun juga. Dengan pemanfaatan teknologi digital yang berbasis web berbasis awan Anda akan mampu mengelola modal manusia Anda (human capital).

Menjadi “global-digital-social competent” adalah prasyarat mutlak untuk eksis dalam platform ekonomi digital sekarang hingga ke depan. Kami hadir untuk membekali Anda dengan Kompetensi GODISO® (global-digital-social) dalam bidang:

  1. HRIS (Human Resource Information System),
  2. Kepemimpinan (Leadership) dan
  3. Digital Marketing (delivering and promoting you existance in global-socio-digital era).

Seminar GODISO Digital Transformation

final-flyer-horisontal

Melalui Seminar dan Workshop ini, kami akan membekali Anda dengan 3 Kompetensi GODISO®, yaitu:

  1. Managing your people dengan memanfaatkan teknologi “OrangeHRM Human Resource Information System”
  2. Leadership development untuk para pemimpin dalam organisasi Anda dengan konsep “H8 Leadership Mix”
  3. Digital Selling untuk memampukan Anda memenangkan bisnis digital Anda.

Daftarkan diri Anda, KLIK DISINI!


 

Hire Right People, Essential Business Success: Proven in the west, proven in the east

Tim Stansfield (Founder and President IET Inc) says, “Without all of my people doing their jobs with skill, passion, and commitment this dream could never have become a reality”.

Woody Hayes (Legendary Ohio State Football Coach) says, “You win with people”.

Memilih dan menempatkan orang yang tepat / orang terbaik (right people) dikabarkan sebagai kunci keberhasilan organisasi. Berikut ini adalah beberapa pendapat yang mengemukakan hal itu:

Clinton O. Longenecker, Sonny Ariss dan Dale T. Eesly

Dalam publikasi HR Advisor (July 2008) Longenecker memaparkan hasil penelitiannya yang berjudul “Human Resource Management In Successful Entrepreneurial Entreprises: Challenges and Lessons”. Penelitian ini mengungkap pendapat dari para entrepreneur yang diteliti tentang pendapat mereka tentang orang/sumber daya manusia (people), peranan dan tantangan yang dihadapi oleh bidang pengelolaan Sumber Daya Manusia – SDM (human resource management).

Para entrepreneur yang berhasil menyadari bahwa orang/SDM merupakan komponen kunci bagi keberhasilan organisasi dan para entrepeneur ini memberikan perhatian yang serius dalam mengembangkan fungsi pengelolaan SDM yang efektif dalam organisasi mereka.

Ada satu hal mendasar yang menjadi tantangan bagi pengelola SDM dalam perannya memberi kontribusi bagi organisasi, yaitu ia harus mampu mendapatkan orang terbaik bagi organisasinya seperti yang dikatakan oleh Greg Papp (Principal Cube Culture Corp.)

“Most entrepreneurial organizations are successful because of the efforts and sacrifies of the people working there. It is critical to get the right people on board and to successfully embed them in the culture of the organization, which is no easy task and requires time, effort, and energy.”

 

EMPAT TANTANGAN BAGI PENGELOLA SDM

Longenecker mengemukakan, bahwa ada empat tantangan yang dihadapi oleh pengelola SDM agar dapat menjalankan fungsinya dan berkontribusi efektif bagi perusahaan tempat ia bekerja sebagai berikut:

  1. Hiring Quality People (Dapatkan Orang Terbaik)

  2. Generating Immediate Performance and Productivity (Hasilkan Produktifitas dan Kinerja Segera)

  3. Maintaining Flexibility (Pengorganisasian SDM yang fleksibel)

  4. Overall HR Cost Containment (Mampu memperoleh efektifitas sdm dengan pembiayaan yang efisien)

Ringkasan lengkap tulisan dari Longenecker dapat dijumpai pada posting saya berikutnya.

 

Fan Li / Tao Zhu Gong: Listen the lesson

Fan Li yang kemudian berganti nama menjadi Tao Zhu Gong di masa tuanya adalah pebisnis ulung dan mantan stratejius militer dari kerajaan Yue pada jaman Cina Klasik (722-476 Sebelum Masehi). Tao Zhu Gong merumuskan ajaran bisnis yang tertuang dalam “12 Prinsip Bisnis Tao Zhu Gong”. 

Yang menarik adalah Tao Zhu Gong menempatkan kemampuan untuk mengenali orang, memahami karakter orang akan menjamin kesuksesan bisnis. Hal menarik berikutnya adalah Tao Zhu Gong membahas tentang orang dalam empat prinsip dari dua belas prinsip yang ia ajarkan.

Setidaknya ini dapat menjadi acuan kita bahwa masalah  menemukan orang yang tepat sangatlah penting bagi bisnis, sebaliknya kekeliruan memilih orang akan menyebabkan hancurnya bisnis bahkan hilangnya kerajaan dan nyawa sang raja.

Kemampuan mempekerjakan orang yang tepat adalah kunci keberhasilan bisnis. Sebuah presentasi berjudul “The POWER of HRM: Start Up Business Essentials” berisi penjelasan lebih rinci mengenai hal ini. Presentasi ini tersedia gratis untuk Anda unduh pada link di bawah ini.

The POWER

 

12 Prinsip Bisnis Tao Zhu Gong

  1. Prinsip bisnis ke 1: Kemampuan mengenali orang: mengetahui karakter orang akan menjamin kestabilan keuangan anda. (neng shi ren: zhi ren shan e, zhang mu fu)
  2. Prinsip bisnis ke 2: Kemampuan menangani orang, memperlakukan orang dengan rasa hormat akan membuat anda diterima dikalangan luas dan membuat bisnis berkembang. (neng jie na: li wen xiang dai, jiao guan zhe zhong)
  3. Prinsip bisnis ke 3: Kemampuan berfokus pada bisnis: mengabaikan yang lama untuk mendapatkan yang baru merupakan kutukan dalam bisnis.
  4. Prinsip bisnis ke 4: Kemampuan mengorganisasikan: bila produk ditampilkan dengan baik, ia akan menarik perhatian banyak orang. (neng zheng dun: huo wu zheng qi, duo ren xin mu)
  5. Prinsip bisnis ke 5: Kemampuan bersikap tangkas dan fleksibel: keengganan dan keraguan akan menghasilkan kesia-siaan. (neng min jie: you yi bu jue, zhong gui wu cheng)
  6. Prinsip bisnis ke 6: Kemampuan menagih pembayaran: rajin dan rewel akan memberikan keuntungan bagi perusahaan (neng tao zhang: qin jin bu dai, qu tao zi duo
  7. Prinsip bisnis ke 7: Kemampuan memperkerjakan dan menempatkan sumber daya manusia: memilih orang yang tepat untuk pembayaran yang tepat akan menjamin bahwa orang tersebut dapat dipercaya dan diandalkan. (neng yong ren: yin cai qi shi, ren shi you lai)
  8. Prinsip bisnis ke 8: Kemampuan berbicara: kepandaian berbicara bisa mendatangkan keberuntungan dan memberikan pencerahan kepada orang lain. (neng bian lun: zuo cai you dao, chan fa yu meng)
  9. Prinsip bisnis ke 9: Kemampuan unggul dalam pembelian: dalam pembelian, menawar sampai setiap ons-nya tidak akan mengurangi modal anda. (neng ban huo: zhi huo bu ke, shi ben bian jing)
  10. Prinsip bisnis ke 10: Kemampuan mendiagnosa dan menyambar peluang serta melawan ancaman: Praktik bisnis yang bijaksana membutuhkan kemampuan untuk menjual dan menyimpan pada waktu yang tepat. (neng zhi ji: shou zhu zui zhi, ke cheng ming zhe)
  11. Prinsip bisnis ke 11: Kemampuan memulai dan menjadi contoh: persahabatan dan kepercayaan akan muncul secara alami jika disiplin dan standar yang tinggi ditegakkan. (neng chang lu: gong xing yi lu: qin gan zhi sheng)
  12. Prinsip bisnis ke 12: Kemampuan melihat jauh ke depan: kapan harus mencari lebih banyak, mengencangkan dan mengendurkan, tergantung pada situasi. (neng yuan shu: duo gua kuan jin, zhuo zhong er xing)

Sumber bacaan:

Leader’s Behavior: Munksiji Leadership Matrix Summary versi 1.0

Tulisan kali ini merupakan kelanjutan dari tulisan sebelumnya yang berjudul “Munksiji Leadership Matrix Summary, versi 1.0” yang membahas tentang salah satu poin dari ringkasan tentang kepemimpinan ini, yaitu “Leader’s Position”. Secara garis besar, pada tulisan itu memaparkan tentang peta perjalanan karir seseorang yang ingin menempuh jalan kepemimpinan sebagai jalur untuk mengubah nasibnya dan mengubah nasib orang lain di sekelilingnya. Konektifitas intelektual yang saya rujuk untuk meramu-padukan konsepsi dan ancangan praktek kepemimpinan ini berturut-turut adalah:

Setelah kemarin Anda membaca tentang peta perjalanan karir seorang pemimpin (roadmap), maka pembahasan berikut ini adalah tentang perilaku pemimpin. Dalam bidang apa dan dalam bentuk apa perilaku kepemimpinan yang akan Anda lakukan dalam mengisi agenda kepemimpinan Anda sehari-hari.

Leader’s Behavior

Ya perilaku kepemimpinan (Leader’s Behavior) adalah pertanyaan besar yang dulu menghalangi saya untuk memberanikan diri berjalan di “Jalan Kepemimpinan”. Pada saat itu, saya tidak berani memimpin karena saya tidak tahu apa sih pekerjaan seorang pemimpin? Apa sih agenda sehari-hari seorang pemimpin? Bagaimana sih ia membangun hubungan (relationship) dan meningkatkan mutu hubungan kepemimpinan (leadership relations quality) yang ia jalin dengan para pemangku kepentingan (stakeholders) yang relevan dengan peran dan jabatan kepemimpinan yang sedang ia pikul? PEMIMPIN, Apa sih sebenarnya yang kau lakukan? Apa agenda perilaku dan serangkaian serial perilaku yang dapat ia jalankan untuk meningkatkan mutu dan dampak kehadiran kepemimpinannya (quality and impact of your leadership presence)?.

Ketika bertanya kepada pemimpin-pemimpin senior yang saya temui, tak ada jawaban yang memuaskan hingga akhirnya saya sempat mempelajari kepemimpinan secara lebih mendalam dengan membedah berbagai literatur-literatur kepemimpinan. Inspirator utama dalam menyingkap misteri apa yang dilakukan oleh pemimpin, terjelaskan bagi saya dari berbagai sumber.

Kepemimpinan Adalah Perilaku, kata Kouzes & Posner

Salah satu hal yang menggembirakan dari pertemuan saya dengan kepemimpinan adalah pernyataan dari Kouzes & Posner, dimana penelitian yang mereka selenggarakan memberikan temuan yang didukung dengan bukti yang kuat bahwa kepemimpinan adalah perilaku.

Inilah pernyataan mereka dalam situsnya:

Kepemimpinan adalah bukan persoalan kepribadian; kepemimpinan adalah soal perilaku – serangkaian ketrampilan dan kemampuan yang dapat diamati.

Leadership is not about personality; it’s about behavior—an observable set of skills and abilities. Leadership is about behavior.

Dalam penelitian mereka, Kouzes & Posner mengklasifikasikan perilaku terbaik pemimpin ke dalam 5 (lima) praktek perilaku kepemimpinan, yaitu:

  • Model The Way – Menunjukkan Jalan dengan memberikan contoh/keteladanan
  • Inspire a Shared Vision –  Menginsirasikan Visi bersama
  • Challenge the Process – Pemimpin harus mengubah proses yang sekarang untuk menghasilkan hasil yang berbeda
  • Enable Others to Act – Memberdayakan orang untuk berpartisipasi dan berkontribusi sebagai bagian dari perubahan dan kemajuan
  • Encourage the Heart – Memberikan dukungan moril dan semangat kepada tim

Belajar dari Model Kepemimpinan US ARMY

Salah satu model kepemimpinan berbasis perilaku yang mencerahkan pemikiran saya tentang kepemimpinan adalah konsep dari US ARMY Leadership Model, dimana dalam konsepsi kepemimpinan mereka, secara jelas ada 3 (tiga) dimensi kepemimpinan yang harus dikembangkan dari diri seorang pemimpin.

Yang pertama adalah persoalan BE, seperti apa seorang pemimpin itu harus menjadi, sosok pemimpin yang seperti apa yang mau dibentuk?. Yang kedua adalah DO, yaitu apa yang dilakukan oleh seorang pemimpin sehari-hari? dan yang ketiga adalah persoalan KNOW, pengetahuan, ketrampilan, dan kompetensi apa yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin.

Konsepsi ini diturunkan dari definisi kepemimpinan yang mereka rumuskan, yaitu: Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi orang – dengan memberikannya tujuan, arah dan motivasi, sembari melakukan operasi atau pelaksanaan untuk  menyelesaikan misinya dan meningkatkan organisasi.

Leadership is influencing people—by providing purpose, direction, and motivation—while operating to accomplish the mission and improving the organization.

Mari kita perhatikan gambar di bawah ini, dimana dalam hal “Actions” atau “Do” ada 3 (tiga) perilaku seorang pemimpin yaitu: “Influencing – Operating – Improving”, saya sering mengajarkannya kepada tim saya dengan singkatan I-O-I.

b3_2795

Perilaku seorang pemimpin lebih jelasnya adalah:

  1. Influencing – Mempengaruhi
    1. Communicating – Berkomunikasi
    2. Decision Making – Membuat keputusan
    3. Motivating – Memotivasi
  2. Operating – Menjalankan operasi
    1. Planning – Merencanakan atau mempersiapkan
    2. Executing – Melaksanakan
    3. Assessing – Mengevaluasi pelaksanaan
  3. Improving
    1. Developing – Mengembangkan orang lain
    2. Building – Mengembangkan organisasi
    3. Learning – Belajar meningkatkan diri

Setelah melihat ke sembilan perilaku tadi, maka cerahlah pikiran saya, bahwa ternyata agenda sehari-hari seorang pemimpin adalah komunikasi – berbicara dan mendengarkan orang lain – meluruskan pendapat yang beda, pengambilan keputusan – memilih satu di antara banyak pilihan – memprioritaskan yang satu ke puncak urutan, memotivasi orang lain-membuat mereka tersenyum kembali, membuat mereka bersemangat kembali, membuat rencana apa yang mau dikerjakan, lalu mengerjakannya, bila hasilnya bagus dipertahankan, bila hasilnya belum bagus dikoreksi kekeliruan yang telah dilakukan, belajar untuk menambah ketrampilan, mengajar orang lain dan mengatur sistem kerja dalam organisasi…

Wadalah, coba perhatikan sekali lagi, bukankah itu semua yang sudah kita lakukan dalam pekerjaan kita sehari-hari? Jadi belajar memimpin itu mudah atau sulit? Belajar memimpin itu hanya untuk orang tertentu ataukah semua orang bisa mempelajarinya? Ha ha ha, rahasianya tersingkap sudah.

image012

Yang dimaksud dengan Influencing adalah seorang pemimpin melakukan tindakan komunikasi kepada anak buahnya, ini adalah “communicating”. Komunikasi yang disampaikan haruslah jelas dipahami oleh anak buahnya. Ini mencakup instruksi, arahan, petunjuk, target yang harus dicapai, misi yang harus diselesaikan. Elemen influencing berikutnya adalah ketika menghadapi situasi dan problem nyata di lapangan, seorang pemimpin harus mampu membuat keputusan yang tegas, mantap, tanpa ragu-ragu, sehingga seluruh anak buahnya bertindak dalam kepastian dan kemantapan, ini adalah “decision making”.  Elemen yang ketiga adalah memotivasi atau “motivating”. Di sini berarti pemimpin harus mampu berperilaku melalui ucapan, tindakan, dan ekspresi, serta argumentasi sehingga anak buah mempunyai alasan yang kuat, keyakinan yang kuat untuk menjalankan arahan, petunjuk dan instuksinya serta mempunyai kemantapan hati, keikhlasan, daya tahan dan ketabahan untuk menghadapi masalah yang ada di lapangan secara nyata.

Yang dimaksud dengan Operating, adalah seorang pemimpin bersama anak buahnya melakukan serangkaian kegiatan untuk mencapai tujuan dari misinya. Sebuah hasil kerja yang baik terjadi karena siklus persiapan, pelaksanaan dan evaluasi untuk perbaikan dilakukan dengan cermat, tidak sembrono dan awut-awutan. Perencanaan atau persiapan “planning” adalah segala sesuatu penyiapan sebelum pemimpin dan timnya bertindak, pada aspek non-manusia itu menyangkut penyiapan material, mesin atau peralatan, uang, informasi dan lain sebagainya. Pada aspek manusia berarti itu menyiapkan motif, kompetensi, kemampuannya untuk “ready”, “willing”, “able” sehingga misi dan penugasan yang diembannya berhasil. Pelaksanaan atau “executing” berarti pada momen pelaksanaan, pemimpin dan timnya dapat menanggulangi, beradaptasi dan melakukan terobosan sesuai perkembangan di lapangan dengan tetap memastikan bahwa target dan misinya tercapai, di sinilah pintar, cerdik dan banyak akal mendapat ruang untuk unjuk gigi.

Slide85

Yang dimaksud dengan Improving, berarti perilaku pemimpin bukan hanya menyelesaikan misinya, namun juga menjadi tugasnya untuk membangun aspek manusia seperti melakukan kaderisasi, pembinaan anak buah, penyusunan materi dan metode pelatihan,  maupun aspek non-manusia seperti merawat gedung, memutahirkan peralatan, pra sarana, metode pelatihan di dalam organisasinya.

Dari dari ke 9 (sembilan) elemen perilaku yang terangkum dalam 3 (tiga) kategori perilaku pemimpin ini semuanya adalah hal yang dapat dipelajari. Siapa pun dengan berbekal kecerdasan yang memadai dan motivasi yang cukup untuk meningkatkan kapabilitas kepemimpinannya dapat melakukan dan melewati tahapan yang diperlukan untuk mencapai level-level kompetensi elemen-elemen ini.

Inilah alasan mengapa kepemimpinan itu dapat dipelajari. Karena kepemimpinan adalah perilaku, maka ia dapat diamati, diukur, dan ditiru atau dipelajari. Mudah bukan?

Belajar dari Peneliti Kepemimpinan, Gary Yukl

Slide87

Pada tahun 2002 Yukl, bersama dengan Angela Gordon dan Tom Taber menerbitkan hasil penelitian mereka tentang kepemimpinan selama lebih dari 50 tahun. Mereka mengklasifikasikan perilaku pemimpin ke dalam tiga bidang: tugas, hubungan, dan perubahan. Mereka memerincikan perilaku-perilaku yang menjadi elemen dari setiap bidang.

Konsepsi perilaku kepemimpinan dari Yukl memberikan perspektif yang menyempurnakan model sebelumnya. Melalui laporan penelitiannya yang berjudul “Yukl’s: A Hierarchical Taxonomy of Leadership Behavior”, Yukl memberikan penjelasan tentang perilaku kepemimpinan yang dapat diklasifikasikan dalam 3 (tiga) kategori perilaku yang disusun dari 12 (dua belas) perilaku sebagaimana saya telah ringkaskan pada tabel di atas.

Gambar berikut ini saya peroleh dari internet, yang menjabarkan ke dua belas perilaku tersebut dalam bahasa aslinya. (Mohon maaf belum sempat saya terjemahkan)

slide_6

Pada bulan November 2012, Yukl menyempurnakan taksonomi perilaku pemimpin menjadi 4 (empat) bidang, yang tersusun dari 15 (lima belas) perilaku yaitu:

  1. Berioentasi Tugas (meliputi: klarifikasi peran, perencanaan, pemantauan eksekusi operasional, pemecahan masalah) — Task-oriented (clarifying, planning, monitoring operations, problem solving)
  2. Berorientasi Hubungan (meliputi: dukungan, pengembangan, pujian atau pengakuan, dan pemberdayaan) — Relations-oriented (supporting, developing, recognizing, empowering)
  3. Berorientasi Perubahan (meliputi: penasehat, bervisi, mendorong inovasi, memfasilitasi pembelajaran bersama) — Change-oriented (advocating, envisioning, encouraging innovation, facilitating collective learning)
  4. Berorientasi Eksternal (meliputi: membangun jejaring, memonitor kondisi dan perubahan di luar organisasi, mewakili organisasi) — External (networking, external monitoring, representing)

Dari Yukl ini maka selain I-O-I (Influencing-Operating-Improving) maka perilaku pemimpin dapat dilihat dari perspektif dan ekspresi perilaku yang berbeda, walaupun secara esensial ada kesamaan di antara keduanya. Karena di susun oleh orang sipil, maka perilaku kepemimpinan T-R-C-E (Task-Relations-Change-External) ada bedanya dengan I-O-I yang dibuat oleh kalangan militer. Saya melihat perbedaan ini di bagian Change & External.

Bila penekanan utama pendekatan militer adalah penuntasan misi-biasanya misi mengahancurkan lawan, maka di kalangan sipil atau organisasi bisnis yang dibidik adalah Change dan External. Mengapa bagi kalangan bisnis, perilaku C-E ini relevan dan bukan melulu O-perating saja? Hal ini dapat dijelaskan karena organisasi bisnis harus selalu menyesuaikan dengan variabel-variabel eksternal yaitu pasar (Market), customer (Pelanggan), kompetitor (Competitor) dan teknologi (Technology). Maka seorang pemimpin perlu kuat di perilaku berorientasi Change & External, karena ibarat menyetir mobil, ia harus selalu awas dan waspada serta melakukan penyesuaian (Change) dengan kepadatan lalu lintas (External) dan pergerakan kendaraan di kanan-kiri-depan-belakang nya supaya tidak nubruk dan nyemplung ke kali.

Bagaimana perilaku para praktisi pemimpin organisasi bisnis di Indonesia?

Dear pembaca, saya mencoba membuat sebuah penelitian sederhana untuk mengetahui bagaimana perilaku pemimpin organisasi di Indonesia dilihat dari taksonomi perilaku pemimpin dengan model dari Yukl, sebagai berikut:

Bagaimana Penerapannya?

Pembaca yang budiman, dengan penjelasan perilaku pemimpin adalah M-I-C-E-E (Kouzes & Posner) I-O-I (US Army Model) dan T-R-C-E (Yukl), maka buatlah daftar dari semua perilaku dalam sebuah tabel, lalu jadwalkanlah dalam agenda harian Anda, pada perilaku mana Anda mau melakukan perbaikan dan peningkatan.

Lakukanlah refleksi, introspeksi dan mintalah feedback dari orang lain untuk menemukan di perilaku kepemimpinan mana yang Anda masih kurang, lalu lakukan perbaikan disitu. Dengan demikian maka kapabilitas kepemimpinan Anda akan meningkat dan otomatis, sebentar lagi kesempatan memimpin pada tingkat berikutnya akan menghampiri Anda. Trust me, it works!

Selamat Memimpin Perubahan

 

TiTuS Permadi

Sumber bacaan:

  1. http://www.johnballardphd.com/blog/what-do-leaders-do-management-style

Munksiji Leadership Matrix Summary, versi 1.0

Leadership Mix Matrix

Dalam beberapa sesi sharing Leadership yang saya sampaikan, saya selalu tidak lupa mengetengahkan tentang Munksiji Leadership Matrix Summary (versi 1.0).

Munksiji Leadership Matrix Summary, versi 1.0 adalah sebuah ringkasan pemahaman, tuntunan agenda belajar, refleksi diri dan ancangan perilaku yang berfungsi sebagai roadmap seorang pembelajar kepemimpinan untuk menyusun dan menyesuaikan keempat bidang kepemimpinan yang senantiasa perlu dipertajam setiap hari.

Leader’s Position

Yang pertama kita akan berbicara tentang arah karir kepemimpinan yang hendak dituju seseorang. Karena konteks kepemimpinan yang sedang kita bahas adalah konteks kepemimpinan organisasi, khususnya organisasi bisnis, maka rujukan yang saya pakai juga berasal dari sumber-sumber dan pengarang kepemimpinan di bidang bisnis.

Ketika materi ini saya sampaikan selalu saja, sekitar 10 (sepuluh) orang mengambil ponsel dan jepret, jepret, jepret mereka memotret dengan ponselnya. Wow, siapa ya yang dipotret? Sayakah sebagai pembicara yang ganteng dan menggemaskan ataukah materinya?

Kepemimpinan ya jelas, itu merupakan masalah posisi, masalah tingkat kewenangan yang semakin tinggi semakin luas. Itu juga adalah sebuah posisi karir yang wajar, berharga dan sah-sah saja untuk dikejar. Dalam bukunya Good To Great, Jim Collins mengetengahkan pirimida kepemimpinan yang berjenjang dalam 5 tingkat.

  1. HCI – Highly Capable Individual yang singkatnya berurusan antara dirinya dengan tugas-tugas perorangan. Aku dengan pekerjaanku (Self-Task). Tugas perorangan adalah serangkaian pekerjaan yang dapat dilakukan sendirian oleh yang bersangkutan. Mengisi nota, memasukkan data ke komputer, membuat laporan atau pun segala jenis pekerjaan yang dapat dilakukan sendirian. Seorang karyawan baru pada umumnya akan masuk pada tingkat ini. Keberhasilannya akan tergantung pada kemahirannya menyelesaikan tugas-tugas perorangan ini dengan mutu kerja yang cepat, bebas salah, dalam jumlah yang banyak. Namun perjalanan karir seseorang tidak perlu berhenti di sini. Ia harus mempersiapkan diri untuk naik ke jenjang berikutnya.
  2. CTM – Contributing Team Member yang singkatnya berurusan dengan proses dengan melakukan pekerjaan yang membutuhkan kerja sama dengan orang lain. Pekerjaan saya akan menjadi inputan bagi proses kerja selanjutnya setelah saya. Ini adalah prosesku dengan orang lain (Process-Team). Di sini adalah pekerjaan-pekerjaan yang hanya selesai ketika semua anggota tim memberikan kontribusi kerja pada porsinya, pada waktunya, pada urutan atau pada gilirannya secara tepat. Disini mulai diperlukan ketrampilan komunikasi mendengar dan berbicara satu sama lain, disini mulai dibutuhkan yang namanya koordinisasi, di sini mulai dibutuhkan disiplin tepat waktu, tepat jumlah, tepat langkah. Kesempatan berperan menjadi anggota tim ataupun menjadi koordinator team merupakan ruang belajar dan bertumbuh yang harus dimanfaatkan dan dipersiapkan untuk dapat naik ke jenjang berikutnya.
  3. CM – Competent Manager yang singkatnya adalah berurusan dengan bidang dan variabel organisasi yang lebih luas, bukan hanya pekerjaan sendiri, bukan hanya proses dalam sebuah tim, tapi mulai mengelola sumber daya organisasi secara lebih luas, yaitu waktu (time), anggaran (money), mesin (machine), orang (people), proses yang terangkum dalam sebuah kesatuan sistem yang lebih luas (People & Resources). Di sini kemahiran yang dibutuhkan adalah pengelolaan, perancangan sistem untuk menghasilkan output pada tingkat produktifitas, efisien dan efektifitas serta akurasi yang lebih tinggi. 
  4. EL – Effective Leader yang singkatnya berurusan dengan fungsi organisasi yang lebih luas atau sebuah unit usaha dengan fungsi-fungsi yang lebih luas (Change & System). Dapat dikatakan di sini seorang pemimpin mengarahkan sebuah divisi yang terdiri banyak departemen, dengan banyak sistem  yang bekerja bersama. Kemampuan berpikir sistematis, mampu melihat masalah secara parsial maupun holistik menjadi kemahiran yang sangat diperlukan. Namun demikian pada posisi ini kemampuan menjalin hubungan dengan manusia tetap menjadi faktor yang dominan selain kemampuan mengelola faktor non-manusia seperti sistem, anggaran, mesin, dan sumberdaya-sumberdaya lainnnya. Di sini pemimpin sudah berurusan dengan soal Perubahan dan Sistem.
  5. Level 5 – Executive atau Great Leader adalah pemimpin puncak pada tingkat korporat. Dapat dikatakan ia berurusan dengan masalah eksistensi organisasi dan budaya organisasi sebagai roh dan jiwa organisasi yang menentukan jatuh bangun organisasi ke depan (Existance & Culture).

Selain ancangan dari Jim Collins, kita dapat juga merujuk pada 5 (lima) jenjang yang dirujuk oleh Center of Creative Leadership pengembangan kepemimpinan dimulai dari kemahiran memimpin diri sendiri (leading self), lalu memimpin orang lain (leading others), memimpin para manajer (leading manager), memimpin fungsi (leading functions) dan puncaknya adalah memimpin organisasi (leading organization). Konsepnya dapat diunduh melalui link ini

Pakar kepemimpinan lainnya yang membahas tentang pengembangan kepemimpinan dan jenjang kepemimpinan ini adalah Ram Charan dalam bukunya Leadership Pipeline dengan konsepnya “Six Leadership Passage”. Salah satu sumber di internet yang dapat Anda akses untuk menggali lebih lanjut konsep ini adalah Mindtools.COM 

Ketiga narasumber ini, Jim Collins, Ram Charan, Center of Creative Leadership membahas satu hal yang sama dari perspektif yang berbeda. Menggali dan mencermatinya lebih seksama akan memampukan Anda melihat permasalahan kepemimpinan dalam organisasi Anda dengan lebih tajam, komprehensif dan tepat. Hmmm lebih tepat lagi Anda mengangkat telepon sekarang dan menghubungi saya untuk berbicara memberikan pencerahan kepemimpinan bagi para pemimpin dalam organisasi Anda, setuju??? 

Satu pesan yang saya yakini dan telah terjadi dalam diri saya, adalah ketika kita mempersiapkan diri dan menambah wawasan, pengalaman, keterlibatan nyata dalam kepemimpinan sehari-hari akan meningkatkan “Readiness to lead” kita, maka ketika kesiapan mencukupi, peluang kepemimpinan untuk memimpin pada tingkat berikutnya datang dengan sendirinya. Trust me, it works!

Artikel selanjutnya kita akan membahas tentang Leader’s Behavior yang menjelaskan dan menjawab pertanyaan “Apa sih yang dilakukan pemimpin sehari-hari””?”

Selamat Memimpin Perubahan,

TiTuS Permadi

General Manager Human Resources & Gen. Affairs

THAMRIN GROUP – Palembang

M: 0878 5577 8882

wps5AF0.tmp

Artikel sebelumnya:

  1. Kepemimpinan ala BODREX, solusi jitu abad ke 21
  2. Kepemimpinan ala PHILIPS, terus terang terang terus
  3. The REXONA Way: Freshing Smell Leadership Today
  4. Life is SO NICE, Be A So Nice Leader
  5. Kepemimpinan ala RINSO, Nggak ada noda ya nggak belajar
  6. Kepemimpinan ala Telkomsel 4G LTE : Magnet Strategis Pengelolaan SDM Masa Depan
  7. Kepemimpinan ala Pegadaian
  8. Wavin: Filosofi Kepemimpinan ala Bengawan Solo
  9. Memimpin Seperti Teh Botol Sosro, Mengelola Seperti Indomie
  10. Kepemimpinan ala Kopi Kapal Api, Jelas Lebih Enak
  11. Kepemimpinan bergoyang ala “All About The Bass” Meghan Trainor
  12. L-Men Six Pack Leadership Secret

Gerhana Matahari di Indonesia, 9 Maret 2016

 

Gerhana

 

Hari ini kita ditegaskan bahwa bumi ini bergerak… semesta ini tak pernah diam… menyusuri perjalanan waktu.

 

Detik demi detik bergairah menyambut yang baru dan menyimpan yang lama sebagai kenangan rasa untuk pembelajaran…

 

Ia tak gentar menyambut misteri masa depan… ia tak memeluk erat bantal dan guling kenyamanannya.

 

Itulah sifat-sifat alam yang terus membaharu… sekiranya kita selaras dengan alam maka dengan hati riang kita menyambut perubahan.

 

Palembang, 9 Maret 2016

Info foto : Dari Koh Ahin

Kepemimpinan ala Kopi Kapal Api, Jelas Lebih Enak

Sukses Diawali Dari Aroma Secangkir Semangat Kopi Kapal Api

Berbeda dengan waktu-waktu sebelumnya, kali ini saya menulis gagasan tentang kepemimpinan bersama secangkir Kopi Kapal Api….Jelas Lebih Enak. Diseduh dengan air panas, aromanya pun merebak keluar, mendendangkan irama ceria menemani tarian jemari di atas laptop merek ASUS saya.

Sambil menikmati libur lebaran, saya ingin berbagi tentang kepemimpinan dalam suasana yang berbeda…penuh semangat, penuh rasa, penuh aroma, penuh kenikmatan secangkir kopi.

Sehari sebelumnya, sambil menonton televisi, iklan Kopi Kapal Api menyapa dengan tagline yang mengalun nikmat di telinga saya… “Kapal Api….Jelas Lebih Enak.” Maka, pengalaman AHA pun muncul dalam benak saya untuk menulis tentang kepemimpinan dan mengaitkannya dengan Kopi Kapal Api.

Sukses diawali dari aroma secangkir semangat kopi kapal api. Sukses memerlukan persiapan matang, fokus, percaya diri dan kegigihan. Saat semua menyatu sempurna rasakan nikmatnya kesuksesan bersama kapal api. Kapal api jelas lebih enak.

Pembaca, nikmati sejenak pesan kepemimpinan dari Kopi Kapal Api berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=uvgI7-rNz9E

Pada tulisan saya sebelumnya, “Wavin: Filosofi Kepemimpinan ala Bengawan Solo”, saya menjelaskan bahwa ada tiga tugas besar seorang pemimpin. Pertama adalah membereskan masalah-masalah yang menghadang kemajuan organisasinya, kedua membangun kapabilitas organisasinya dan yang ketiga menumbuhkan pemimpin-pemimpin baru di sekelilingnya. Sangat masuk akal bahwa sukses Anda dalam memimpin akan ditentukan oleh “semangat”, “persiapan matang”, perhatian yang “fokus”, hati yang teguh “percaya diri” dan serangkaian upaya yang “gigih” seperti anjuran dari si aroma nikmat Kopi Kapal Api.

Dalam pencarian saya dari berbagai sumber yang menggambarkan tentang kepemimpinan, maka ada yang memahami kepemimpinan sebagai ilmu, kepemimpinan sebagai proses, kepemimpinan sebagai posisi, kepemimpinan sebagai relasi,  kepemimpinan sebagai suatu strategi serta kepemimpinan sebagai perilaku.

Barangkali kita perlu juga memahami kepemimpinan sebagai sebuah seni, sebuah maha karya (master piece) yang muncul ke permukaan sebagai konsekuensi logis atas upaya pemikiran yang cerdas, usaha-usaha fisik yang tekun, dan sebagai ekspresi jiwa yang merdeka. Kepemimpinan sebagai karya ekspresi jiwa berbasis kebenaran, berbasis kemanusiaan, berbasis esensi, berbasis transendensi diri melampaui batas aktualisasi diri.

Ketika dipahami sebagai seni, maka kepemimpinan terasa enak untuk dinikmati…bersama secangkir Kopi Kapal Api.

Nikmatnya kepemimpinan…menurut Linkediners

Dear pemimpin, kepemimpinan adalah logika, kepemimpinan adalah transaksional, namun kepemimpinan juga transformasional, bahkan kepemimpinan adalah entreprenurial. Kepemimpinan adalah kaderisasi, kepemimpinan adalah membangun kompetensi orang lain. Masing-masing konsepsi mengundang untuk digali lebih mendalam agar intisarinya dipahami, metodenya dapat dipraktekkan, perilakunya dapat diadopsi.

Saatnya jamannya Sosial Media dimana para netizen layak didengar pendapatnya dan disimak sudut pandangnya. Dengan dibantu para Linkediners, saya mengajukan pertanyaan kepada mereka seperti ini:

Sahabat Linkediners, saya memerlukan pendapat Linkediners untuk menyampaikan gagasan tentang kepemimpinan. Mohon bantuannya menjawab pertanyaan ini “apakah Anda menikmati peran kepemimpinan Anda saat ini? mengapa?”

Seorang sahabat Linkediners saya menggambarkan kepemimpinan sebagai sebuah kenikmatan seperti membuat roti. Karena ini berurusan dengan makanan dan saya senang sekali dengan makanan maka saya muat opininya di sini.  

Nurlita Atmaja

Ya.. saya menikmati peran kepemimpinan saya. Kenapa? Because i love my job. Seseorang akan menikmati pekerjaannya apabila dia mencintai apa yang dikerjakan . Menurut saya seorang leader bagaikan seorang koki yang sedang membuat roti, dimana diperlukan bahan baku, buku resep , peralatan memasak,dan oven serta time management. Produksi, Kelancaran supply, dan planning serta supporting (data, survey, etc) saya ibaratkan bahan baku.

Buku resep makanan saya ibaratkan sebagai rule/bussines proces di perusahaan. Sementara peralatan memasak adalah team/mitra kerja, dimana seseorang mempunyai fungsinya masing masing.

Lalu siapa yang akan menjadi oven ? Oven ini adalah pada saat kita melakukan meeting, diskusi, sharing, review periode sebelumnya serta coaching ke team.

Lalu diracik dengan time management yang tepat akan membuat roti matang sempurna.

5 point diatas apabila diolah akan memberikan hasil yang maksimal. Ngomong ngomong soal roti.. mari saatnya berbuka puasa =D ..selamat berbuka puasa bagi yang merayakan  (15 Juli 2015)

Kepemimpinan hanyalah peran tetapi pemimpin adalah tanggung jawab yang luar biasa, pemimpin adalah orang yang bisa membuat suatu perubahan yang besar, perubahan dari baik menjadi lebih baik…Rommy Tobing.

Dear pemimpin, bila saat ini aroma kepemimpinan Anda terasa hambar, ikutilah petunjuk saya. Belilah Kopi Kapal Api, seduhlah dan tambahkan gula secukupnya. Nikmatilah aroma segarnya sambil merenungkan pelajaran kepemimpinan dari Kopi Kapal Api. 

“Nikmatnya kesuksesan adalah berpadunya 1) semangat, 2)persiapan matang, 3) fokus, 4) percaya diri dan 5) kegigihan.  Kapal Api Jelas Lebih Enaaak.”

Berikut ini adalah pembelajaran kepemimpinan dari para Linkediners, sampai dengan 16 Juli 2015, pukul 14:56.

 

Dear Linkediners, Mohon bantuannya menjawab pertanyaan ini

“Apakah Anda menikmati peran kepemimpinan Anda saat ini ?  mengapa ?”

Andhi Kurniawan

Menikmati, karena ada menuai hasil dan juga mendapatkan insight, hikmah, untuk lebih baik dalam memimpin di masa depan.

Arnold Hanafi

Ya, semakin kita menikmati fungsi leadership kita maka output yang dihasilkan juga semakin besar. effective leadership = better output.

Jufiandi Junizir

Saya menikmati peran saya saat ini karena saya bisa membagi pengalaman saya dan berguna bagi team dan cient saya.

Alfari Widiasto

Saya mempunyai pengalamamn memimpin dari beberapa perusahaan, untuk yang saat ini jujur berat dan kurang bisa menikmati, karena tanggung jawab dan koordinasi dipegang oleh saya semua dan pemilik perusahaan yang masih berpikir dengan pola tradisional dalam setiap putusan, membuat saya mempunyai beban moral kepada principal umumnya dan team saya khususnya…

Arief Sulistyo

Menikmati peran kepempinan adalah ketika bisa menjadi seorang pemimpin bukan pimpinan, dapat menjadi role model dan mentor bagi anggota team, dapat merencanakan pengembangan “skill, knowlege & carrier path” bagi setiap aggota team, dapat menjadikan team sebagai mitra kerja agar dapat  menumbuhkan “sense of belonging” di benak masing2 anggota team, sehingga semua dapat melakukan masing2 fungsi kerjanya dengan “hati & passion” bukan hanya sekedar “melakukan pekerjaan” dalam mencapai “team & company goals”. Dengan demikian Insha Allah akan selaras antara company goals, team goals & employee goals.

Sahridan Nasution

Saya menikmati peran kepemimpinan saat ini. Bagi saya kepemimpinan tersebut adalah tindakan bukan jabatan sehingga setiap orang bisa menjadi pimpinan.

Ivan Wisnu Prabowo

Menikmati..karena itu adalah amanah.

Rahmad Mulyadi

Menikmati…karena bisa membimbing dan mengarahkan menjadi yang lebih baik.

Rommy Tobing

Kepemimpinan hanyalah peran tetapi pemimpin adalah tanggung jawab yang luar biasa, pemimpin adalah orang yang bisa membuat suatu perubahan yang besar, perubahan dari baik menjadi lebih baik.

NOFRIZAL INOF

Menikmati kepemimpinan saya karena dengan jabatan pimpinan saya bisa memimpin team saya yang ada, dan saya bisa memberikan arahan, dan saya membuat dan memberikan keputusan yang tidak merugikan, dan bisa berbagi pengalaman, serta berbagi ilmu dalam setiap meeting dan pelatihan yang saya berikan.

Nyoman Sukadana

Cukup menikmati, karena saya dapat mengetahui berbagai macam karakter manusia ketika bekerja dan semakin menggali keinginan saya untuk menjadi pemimpin yang lebih baik bagi perusahaan dan rekan kerja.

Bobby Alexander Hutagalung

Sangat menikmati Pak karena selain memimpin, ada hal lain yang paling penting yaitu mewujudkan impian dari orang yang kita pimpin. Disitu tantangan nya.

Saeful Anwar

Cukup menikmati Pak, Karena memimpin itu amanah maka banyak nilai Ibadah yang sebenarnya kita dapatkan, ketika kita sama sama bekerja menjalankan misi yang ingin kita capai dan kita menjadi bagian yang mengarahkan dan mediator bagi perubahan.

Indra Yani

Sangat menikmati menjadi pemimpin pak, karena dengan menjadi pemimpin kita tertantang untuk memecahkan semua masalah dan berfikir bagimana memitigasi resiko serta mencari jalan keluar, pemimpin juga bagaimana melayani  bawahan dalam tanda kutip yaitu membantu memecahkan masalah pekerjaan mereka.

Arnold Tanubrata

IMHO…jadi pemimpin…ada enak dan tidak enaknya.

Enaknya…..sudah diceritakan oleh rekan2 diatas.

Tidak enaknya ialah…saat menjalankan salah satu fungsi kepemimpinan yaitu untuk mendidik orang2 yang kita pimpin. Seringkali…orang2 yang kita pimpin menunjukan penolakan untuk berubah  dan bahkan mempertahankan status quo.

Nah…disinilah kita sebagai pemimpin akan diuji kemampuan kita dalam segala hal : negosiasi, komunikasi, mempengaruhi orang lain..dan sampai…mempertahankan kebenaran dan lain2

Namun….pada akhirnya….meskipun tidak disukai dan dibenci org yang kita pimpin…saya pribadi akan merasa senang dan bahagia jika bisa mengubah orang2 yang kita pimpin menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Dan….tanpa disadaripun….akan ada balasan yang setimpal untuk usaha kita tersebut diatas.

Monggo dikomentari…

Mawardi Edi

Menurut saya Kepemimpinan adalah merupakan jalan panjang menikmati setiap langkah di setiap waktu tentang bagaimana mempengaruhi dan membimbing orang menuju jalan yang kita tentukan.

Bagi saya, kepemimpinan perlu dikembangkan setiap hari, bukan hanya satu hari. Kepemimpinan perlu diasah setiap hari bukan sekedar memahami teknik dan seni kepemimpinan saja tetapi juga memahami dan mengerti setiap fenomena dan pengalaman yang muncul di setiap harinya.

Jadi, menikmati fenomena yang muncul dalam setiap peran kepemimpinan dalam setiap harinya dengan inspirasi-inspirasi yang menarik yang memberikan sesnsitivitas diri dalam menyikapi setiap fenomena dan pengalaman yang dihadapi.

Debora Sitinjak

Sangat menikmati, karena dengan menjadi pemimpin meningkatkan gairah saya untuk belajar hal yang lebih lagi dan hal-hal baru untuk memajukan orang2 yang saya pimpin, dan menjadi mentor bagi mereka sehingga kelak mereka akan menjadi pemimpin.

Anton Sirait

Pemimpin yg menjadi suri tauladan bagi bawahannya.

Arry Adrian

Saya saat ini self-employed. Pemikiran saya tentang “pemimpin ” adalah mereka yang dengan sabar dan tekun mencetak pemimpin2 baru. Dan hasilnya baru nampak pada saat pemimpin bukan bagian Dari team sebelumnya.

Adit Tuton

Sangat menikmati pak..
Memimpin berarti mencari inovasi baru untuk mempermudah pekerjaan bawahan untuk mencapai tujuan organisasi…
Itu membuat kita terus mengasah otak dan memperhatikan sekeliling…
Oleh karenanya saya sangat menikmatinya pak.

Aisyah Setyawati

Prinsip pemimpin yang baik menurut saya : mau terus belajar untuk berkembang , adil, amanah, memberikan contoh, tindakan & inspirasi dan terakhir sabar.

Menikmati peran menjadi pemimpin adalah belajar terus menghadapi karakter orang yang berbeda dan trik menghadapinya.  Kerjasama yang solid membuat semangat kerja menjadi tinggi. Bisa menumbuhkan loyalitas team tanpa ada paksaan merupakan kepuasan tersendiri selain target kerja yang tercapai.

Indra Susanto

Saya menikmatinya Pak Titus.
Pemimpin sejatinya adalah pelayan. Semakin tinggi jabatan, semakin melayanilah dia.

Seorang pemimpin harus mampu melayani keperluan bawahan, untuk mempermudah, mempercepat ber-sama2 mencapai target yang telah kita tentukan.

Charly Richard RE

Menjadi seorang pimpinan memang harus bersyukur. Karena tidak semua orang mendapatkan kesempatan menjadi pimpinan, Pimpinan adalah sebuah perjalanan hidup kita untuk menunjukan arti hidup kita sebagai seorang yang berarti bagi sesama dan keluarga. Seorang pimpinan yang sukses adalah pimpinan yang sukses menyiapkan seorang pimpinan penerus kepemimpinan nya. Bukan seberapa lama dia menjaga posisi kepemimpinannya. Kesuksesannya dapat di lihat dari generasi penerusnya.

Indra Nugroho

Pemimpin itu teladan, namun Pemimpin juga bisa melakukan kesalahan, kewajiban team untuk saling mengingatkan dan menguatkan.

Porkas Lubis

Sejauh ini, Saya kira ini adalah satu hal yang penting diantara yang terpenting, karena bagaimana kita dapat menjadi seorang yang sukses apabila kita belum dapat menikmati profesi kita sebagai seorang leader

Strela Natalia

Saya menikmati semua suka dukanya pak Titus . Just do my best, and God will do the rest.  Selamat Idul Fitri untuk semua yang merayakan.

Erdhifski Naladipa

Pemimpin itu menurut saya adalah orang yang dapat membentuk team nya menjadi seperti dirinya, sehingga dapat menciptakan pemimpin berikutnya yang tidak bergantung ke pemimpin nya. Pemimpin itu bukan hanya untuk dilayani tapi harus juga melayani bawahannya menciptakan kemandirian bawahannya. Dan membuat semua bawahannya mengerti setiap apa yang di inginkan nya dengan demikian kemandirian Dan pengetahuan bawahannya bisa hebat melebihi diri nya.

Herry Hanwari

Dengan memimpin, saya belajar memahami setiap hal yang menjadi kebutuhan orang yang saya pimpin, dan belajar bagaimana cara memahami dan menjadi pemimpin yang baik.

Mannix Damanik

Iya. Karena tim saya juga terlibat aktif dalam pekerjaan yg saya tugaskan. Pekerjaan makin ringan karena tim mampu mengerjakan tugas. Biasanya kebutuhan tim saya penuhi agar mereka maksimal.

Mustika FG Dewi S.Psi

Alhamdulillah menikmati, karena sejak pertama kali saya dipercaya untuk jadi pemimpin disaat itu juga saya menerapkan pola kepemimpinan dengan melihat level kematangan psikologis masing2 Personnel dibawah saya sehingga secara tidak langsung saya juga bisa belajar lagi mengenai psikologi melalui treatment thd anak buah saya.

Imran Fadhilah, RCSP-W

Pemimpin sangat bergantung pada level. Di agama saya setiap individu adalah pemimpin untuk dirinya sendiri dan Bertanggung jawab. Jika  dia direktur dia Memiliki tugas, me motivasi dan Memberikan arahan strategic. Kalo dia Manager dia Me monitoring pekerjaan yang diberikan padanya. Tapi hal yang paling bagus adalah pemimpin itu jika team nya berhasil maka itu hasil kerja anak buah nya. Kalo teamnya salah semata mata kesalahan diri nya.

   

Selamat Memimpin Perubahan,

“Intellectually Connected, Cognitively Friendship

TiTuS Permadi
GM Human Resources & Gen. Affairs
THAMRIN GROUP – Palembang
M: 0878 5577 8882 PinBB: 7CB8B896
thamrin group

 

Sumber informasi lainnya:

  1. https://www.facebook.com/KopiKapalApi
  2. http://www.waktunyakapalapi.com/
  3. http://www.kapalapiglobal.com/ 

Artikel sebelumnya:

  1. Kepemimpinan ala BODREX, solusi jitu abad ke 21
  2. Kepemimpinan ala PHILIPS, terus terang terang terus 

  3. The REXONA Way: Freshing Smell Leadership Today   

  4. Life is SO NICE, Be A So Nice Leader 

  5. Kepemimpinan ala RINSO, Nggak ada noda ya nggak belajar 

  6. Kepemimpinan ala Telkomsel 4G LTE : Magnet Strategis Pengelolaan SDM Masa Depan   

  7. Kepemimpinan ala Pegadaian 

  8. Wavin: Filosofi Kepemimpinan ala Bengawan Solo 

  9. Memimpin Seperti Teh Botol Sosro, Mengelola Seperti Indomie 

 

Sanggahan (disclaimer):

<

p align=”justify”>1. Sanggahan: sumber-sumber kajian diperoleh dari internet, diakses pada tanggal 15 Juli 2015. Hak cipta dan merek pada masing-masing pemilik hak dan merek. Hak cipta dan merek dilindungi undang-undang. Kutipan pada tulisan ini digunakan untuk keperluan pengetahuan dan bukan untuk tujuan komersial. Sumber rujukan diberikan sebagai respek kepada pemegang hak dan merek masing-masing dan kepatuhan terhadap hukum yang mengatur dan melindungi hak cipta.

Pion Leadership, Kecil Tapi Tak Pernah Mundur (Revisi)

“…kecil, tapi tak pernah mundur…”

Pagi ini, saya senang sekali. Mengapa? YA pagi ini saya membuka Linkedin.COM dan sahabat Linkediners pak Chairul Razak, memposting qoute yang sangat indah, benar dan esensial.

pion

Benar juga kata pak Chairul Razak, “Ya Pak Titus, Pion itu meskipun posturnya kecil namun selalu melangkah maju ke depan, tidak akan pernah melangkah mundur ke belakang! Sekalipun tahu akan dikorbankan, pion dengan senang hati selalu taat pada aturan mainnya, yaitu melangkah maju ke depan apapun yang akan terjadi”

Dari karakteristik pion pada permainan catur, kita bisa melihat beberapa ciri-ciri yang dapat diambil sebagai pembelajaran kepemimpinan

Maju ke depan, tidak pernah melangkah mundur

Ya ini sebuah kualifikasi pemimpin yang penting mengingat tugas dan tanggungjawab pemimpin adalah membawa perubahan bagi organisasinya, membawa sebuah kemajuan, bukan kemunduran. Dalam menghadapi dinamika, turbulensi dan tantangan kepemimpinan sehari-hari, seorang pemimpin perlu setia pada panggilannya, yaitu tetap berjalan ke arah maju ke depan. Seperti dalam permainan catur, setiap gerakan bidak-bidaknya akan menentukan kerumitan situasi dan keunggulan relatif antar dua pemain. Dalam peran ini, sebuah pion selalu melangkah maju.

Taat aturan main

Seorang pemimpin organisasi memimpin timnya dalam acuan aturan main yang disepakati dan berlaku pada konteks tertentu. Ia tidak main terabas, ia tidak ngawur, tetapi ia ikut dengan aturan main dalam konfigurasi untuk menentukan keunggulan relatifnya.

03 beda lapangan

Konsekuen

Dengan segala resiko peran yang diembannya, sebuah bidak maju dan konsekuen dengan tuntutan permainan. Rasa tanggungjawab dan konsekuen adalah sikap penting seorang pemimpin.

 

Suatu ketika Pion berubah menjadi Perwira

Satu hal yang menarik dalam permainan catur, adalah peraturan yang membolehkan sebuah pion berubah (bertransformasi) menjadi perwira setelah melewati garis akhir wilayah lawan. Dalam berorganisasi, seorang anak buah suatu saat dapat menjadi seorang pemimpin dan itu hanya terjadi ketika ia maju terus pantang mundur.

 

 

Selamat Memimpin Perubahan,

Intellectually Connected, Cognitively Friendship

TiTuS Permadi
GM Human Resources & Gen. Affairs
THAMRIN GROUP – Palembang
M: 0878 5577 8882 PinBB: 7CB8B896

thamrin group

Artikel sebelumnya:

  1. Kepemimpinan ala BODREX, solusi jitu abad ke 21
  2. Kepemimpinan ala PHILIPS, terus terang terang terus
  3. The REXONA Way: Freshing Smell Leadership Today
  4. Life is SO NICE, Be A So Nice Leader
  5. Kepemimpinan ala RINSO, Nggak ada noda ya nggak belajar
  6. Kepemimpinan ala Telkomsel 4G LTE : Magnet Strategis Pengelolaan SDM Masa Depan
  7. Kepemimpinan ala Pegadaian
  8. Wavin: Filosofi Kepemimpinan ala Bengawan Solo
  9. Memimpin Seperti Teh Botol Sosro, Mengelola Seperti Indomie
  10. Kepemimpinan ala Kopi Kapal Api, Jelas Lebih Enak
  11. Kepemimpinan bergoyang ala “All About The Bass” Meghan Trainor

Sanggahan (disclaimer):

  1. Sumber-sumber kajian diperoleh dari internet, diakses pada tanggal 21 Agustus 2015. Hak cipta dan merek pada masing-masing pemilik hak dan merek. Hak cipta dan merek dilindungi undang-undang. Kutipan pada tulisan ini digunakan untuk keperluan pengetahuan dan bukan untuk tujuan komersial. Sumber rujukan diberikan sebagai respek kepada pemegang hak dan merek masing-masing dan kepatuhan terhadap hukum yang mengatur dan melindungi hak cipta.